Rabu, 30 Januari 2013

Ego


Lelahku memacu diri tuk sekedar teriakkan rasa
Tidakkah kau pikir bahwa kau-lah yang layak untuk berjuang?
Aku tidak meminta dirimu tuk lintasi samudra
Hanya sekedar sapa tuk redkan rindu yang meraja, itu saja.
Aku tau perih yang ia miliki
Tapi aku memilih untuk menjadi sisi kejam, karena hanya kau yang ada di hati.
Namun mengapa percayamu seakan tabu tuk kudapat?
Tidakkah kau mengerti aku hancur tanpamu?
Egomu membunuhku, ragumu buatku membiru
Tapi sekedar berada di sampingku pun kau tak mau untuk mampu
Aku mencintaimu tanpa ragu
Tetapi letihku sudah terlalu abu-abu
Tepuk dada, tanya nuranimu
Masih kuatkah kau bersamaku?


Rabu, 28 November 2012

Kicauan Pagi Hari Tentang Kesempurnaan

Kesempurnaan itu ada ketika kau telah bertemu dia yang menggenapi hidupmu.Menambal kekuranganmu, melengkapi rongga di jari-jarimu, menyediakan tubuhnya untuk menaungi dirimu, dan berbagi kesedihan serta kebahagiaan denganmu.

Jumat, 21 September 2012

Karenamu

Aku tergugu tak mengerti
Pandangan mataku mengabur
Air mataku sudah terlalu sabar menanti tuk kutahan sendiri
Sudah terlalu lama menunggu untuk bisa kuungkapkan dengan rapi
Saat jarak dan waktu kumaki karenamu
Saat takdir kupertanyakan karenamu
Saat keadaanku tak menentu karenamu
Kau yang mencuri hati
Menyakitinya, mengobatinya, membahagiakannya
Kau yang sekarang terbungkam sepi
Tak pernah lagi ke dengar suaramu yang selalu sejukkan hati ini
Jika kita nanti Tuhan memberi kita kesempatan tuk bersua kembali
Takkan pernah kulupakan saat ini agar kau mengerti
Aku yang sekarang tepasung sendiri
Dicekam rindu...
Karenamu.

Aku dan Sang Malaikat


Hamparan sepi padang ilalang jadi saksi bisu jalinan rumit kita
Saat matahari memecah sendu, terbenam bersama malam
Saat ku berhenti berjalan karena terhadang senyummu yang tak pernah mau pergi
Waktu itu ku bertanya-tanya...
Inikah pertanda?
Gejala yang mereka bicarakan sebagai jalan menuju-Nya atau sebaliknya
Tetapi bagai dihadapkan pada cermin, aku menyadari saat itu
Kau, sang malaikat pemilik senyum menggetarkan hati, terlalu tabu untuk sekedar hadir di mimpiku
Karena ku hanya manusia seburuk iblis semata, terlalu hina bahkan untuk bersua denganmu
Tetapi ku tak bisa nafikkan diri, hatiku telah memilihmu untuk tempatku berlabuh
Terlepas dari segala kemustahilan di antara kita
Aku tersesat tak tentu arah, tak dapat bedakan yang benar dan salah
Sedangkan dari waktu ke waktu rasa ini terus membuncah tak terhingga
Menyesakkan...
Karena terlalu jelas perbedaan di antara kita
Kau, laki-laki malaikat
Saat kau menaburkan kebaikan aku hanya terdiam dan membisu
Saat kau diselimuti cahaya aku hanya berbalur luka
Bahkan saat itu kudengar mereka tertawakan anganku
Karena betapa terbentang jarak di antara kita
Lalu...
Tanpa pernah kusangka sebelumnya...
Kau ulurkan tanganmu
Sambut hatiku yang masih terlalu kotor untuk sekedar disentuh olehmu
Tak percaya anganku bisa nyata
Ku palingkan diri, anggap itu hanya mimpi
Tapi kau yakinkan aku, bahwa kau disini, berpijak bersamaku
Bahagiaku sempurna saat itu
Tetapi kini, setelah sekian lama,
Aku sadari diri...
Bukan perbedaan yang membentangkan jarak di antara kita
Tetapi hatimu... dan hatiku yang terpaut jarak tak terhingga
Serendah apapun kau berusaha berpijak
Kau tetaplah sang malaikat yang tak mampu kuraih
Tak sekejap pun ku mampu menyingkap tabir hatimu
Dan aku tetaplah sang manusia berbalut luka dan cela
Layakku masih dipertanyakan untuk sekedar bersanding denganmu
Masih terlalu rapuh untuk bisa melayang bersamamu
Sepertinya belum saatnya kunikmati hasil rasa ini padamu
Mungkin di masa inilah sementara jalanku terpisah dengan jalanmu
Kini terbanglah! Terbanglah sesukamu...
Kau tetap milik semesta, sebarkanlah cinta kasihmu pada dunia
Aku tetap berpijak disini untuk mencintaimu, dan masih tak ingin untuk beranjak
Usahlah kau hiraukan, karena tak penting hadirku disampingmu saat ini
Biar saja kutitipkan cinta dan rindu ini pada-Nya, Sang Pemilik Rasa
Sampai mungkin takdir yang kan pertemukan kita
Nanti, atas kehendak-Nya.


Tabir Sendu


Bahkan sampai di peraduan ini ku turut mengalami
Untuk kesekian kalinya ku terlucuti sepi
Jabarkan indah yang sebenarnya racuni hati
Menyusup pelan, lalu menjerat tanpa perasaan
Kau yang dinaungi baiknya rasa
Ternyata memakai topeng wajah sejuta
Renggut indahku, rampas bintangku
Sakit ini terlalu nyata tuk meragu
Berulang kali ku terjatuh karena kisah yang sama
Rasaku mati tuk sekedar bangkitkan bara
Lelah membayang, letih menjunjung
Mungkinkah kau inginkan sakitku tak berujung?

(Yogyakarta, di titik luka)


Benci


Benci itu merasuk
Merambat, mencengkram
Bekukan hati
Akibat bahagiaku yang kau khianati
Jauh itu meraja
Hanya ada hamparan gersang
Dan merah amarah
Ku membara, tertawa
Ku jadikan jatuhmu dunia
Kenangan itu? Tak berharga.
Masa depanku? Kau tak ada.
Ku benci kau sepenuh jiwa.

(It will be as if you'd never existed...)


Jumat, 07 September 2012

Kau dan Aku


Bahagiaku berbeda dengan bahagiamu

Ku hanya bisa terpaku menunggu sang mentari di kurungan hati, sedangkan kau terbang bebas, mendaki dan menari

Resahku berbeda dengan resahmu

Ku hanya bisa terdiam menahan gejolak hati, sedangkan kau leburkan hati dan pikiranmu pada semesta yang menanti

Cemburuku berbeda dengan cemburumu

Kau diam termangu saja sudah buatku membatu, sedangkan ku bertahan melawan perih dan luka karena takut kehilanganmu

Aku mencintaimu, kau tahu? Tetapi ragu itu menggerogotiku.

Masihkah kau akan tetap menunggu untuk hatiku?


Jumat, 25 Mei 2012

Sebentuk Tanya


Aku masih menunggu kepingan hati
Menanti serpihnya
Saat jiwa mendamba purnama
Sempurna itu ada
Tapi kau tak pernah hancurkan tebing jiwa itu
Yang selubungi hati dan biarkan tak mengerti
Bahkan tuk sekedar selami bening mataku pun kau tak mau
Ku berdiri menengadahkan tangan
Meminta secuil waktu
Yang adanya saja bahagiakan asaku
Tapi kau hanya berpaling
Tak inginkan setapak bersamaku
Asingkan diri tak mau tahu
Tapi, aku bergeming, kau tahu?
Kubangun topeng angan
Masih disini setia menatapmu
Sadarkah kau?
Belahan jiwa itu dirimu!
Tempat kembali itu hidupmu!
Percaya dan yakin kaulah keping jiwaku yang hilang
Kini, biar ku ajukan sebentuk tanya...
Ragu apa yang memaksamu pergi, Cinta?


Jumat, 17 Februari 2012

Ma'had

Teringat saat ku terbangun oleh lantunan murottal saat itu
Suara kucur air mendominasi suasana pagi buta
Dengan lantunan “nawaitu wudhuu lirof’il hadatsil ashgori..” mereka membasuh muka
Mata masih sayup-sayup, suara parau, berjalan sempoyongan
Berbaris menggenggam gayung, menanti giliran mensucikan diri
Lalu tiba-tiba, suara ketukkan keras membahana
“Hayya, sur’atan, ba’da qolil adzan..!!” Seru sang pemilik suara
Tiba giliranku, ku berniat mensucikan diri untuk menghadap Yang Maha Kuasa
“Brrr, airnya dingin sekali! Bariid jiddaan…”
Setelah selesai, kupakai mukena dan berjalan dengan membawa Al-Qur’an dan Wirdhu Lathif
“Sandalku hilang! Di-Ghosob! Ahh, mana mudabbiroh sudah menggebrak dari tadi..!”
Ku tertawa kecil, hiburan di pagi buta
Lalu kuhampiri bangunan indah itu
Megah, dengan warna hijau yang mendominasi, dihias oleh rangkaian kaligrafi sana-sini
Rumah-Mu memang selalu indah, Tuhan
Kugelar sajadah biruku, menunggu panggilan semesta itu
Kupandangi sekitar…
Ada yang melantunkan kitab cinta Sang Pencipta, yang dengan cinta-Nya Ia ciptakan untuk membimbing umat manusia…
Ada yang mengalunkan rangkaian pujian hati dan jiwa, atas lelaki yang dicintai Tuhannya dan disayangi umatnya…
Ada yang berbincang dengan hatinya…
Ada yang bergurau dengan temannya…
Bahkan ada yang bertualang dengan mimpinya…
Lalu terdengarlah panggilan itu
“Allahu akbar allaahu akbar, allahu akbar allaahu akbar…”
Lalu aku dan mereka, para penuntut ilmu agama, berbaris bershaf-shaf dihadapan-Nya
Meminta rahmat-Nya, memohon ampunan-Nya, mengharap belas kasih-Nya
Mengucap syukur atas nikmat seraya memuji-Nya
Memohon keberkahan atas kehidupan yang telah Ia berikan
Meminta kemudahan dalam menuntut ilmu, mencari Nuur-Nya
Demi kefanaan dan keabadian hati dan jiwa
Aku dan mereka, berkumpul di tempat itu, bersama-sama berdo’a kepada-Nya
Berterimakasih tak terhingga kepada Dia yang telah menyatukan kami di tempat ini
Tempat dimana ilmu dan keberkahan mengalir tanpa henti.
“Allahumma sahhil umuuronaa, wa umuuro waalidaynaa, wa umuuro ma’hadinaa…”

(Untuk pondokku, tempat naungku.)


Kamis, 26 Januari 2012

Alunan Cinta Tuhan

Dor!
Suara ledakan pistol dan baku hantam yang bertempat di gudang suatu pabrik di distrik Shibuya menodai indahnya sore hari. Kazuo terdiam, menatap dingin anak buahnya yang sedang bertarung mempertaruhkan nyawa.Matanya melirik kesana-kemari, mencari seseorang yang menjadi dalang pertempuran ini.Seseorang yang dengan beraninya mengajak kelompoknya bertarung. Lalu matanya menangkap sosok itu, sedang berdiri di sudut memandangi dengan takut anak buahnya sendiri yang sepertinya akan kalah. Kazuo tersenyum sinis, lalu berjalan menghampirinya.
Sikap sombongmu itu hanya akan menghancurkanmu, Yuga. Dengan beraninya kau mengajakku bertempur, berarti dengan beraninya pula kau coba tuk mengakhiri hidupmu, batin Kazuo.
“Sepertinya kau senang sekali anak buahmu berada di ambang kematian,” ucap Kazuo kepada Yuga sambil tersenyum menakutkan. “Mengapa kau tidak ikut bertarung, Yuga? Tidak seru rasanya jika kau tidak mengikuti pertempuran yang bahkan sengaja kau rancang demi menghancurkan klanku.”
“Kau tidak pantas berkata begitu, brengsek!” Maki Yuga dengan sisa keberanian yang dimilikinya. Tubuhnya sudah menggigil hebat karena ketakutan. Tatapan dingin Kazuo mampu membuatnya merinding. Seakan-akan di depannya telah berdiri malaikat maut yang siap menjerat sisa hidupnya. Tetapi ia beranikan dirinya mencela pemuda yang setengah mati dibencinya. “Dasar anak muda yang sok! Kau pikir kau bisa denagn mudahnya menjadi ketua klan, hah? Anak busuk sepertimu tidak pantas menjadi ketua Klan Yakuza nomor satu di Jepang! Anak muda sepertimu hanya akan menjadi sampah untuk klan Touko! Hanya aku yang berhak, hanya aku yang berhak menjadi ketua! Hahahaha..”
Dor! tembakaan Kazuo pas mengenai jantung Yuga, menghentikan tawanya, lalu ia terkapar seketika.
“Cih!Mulut besar,” gumam Kazuo penuh kebencian.
Ia berbalik, lalu dilihatnya anak buahnya yang juga sedang menatapnya senang. Sorot mata mereka penuh dengan binar bangga karena telah memenangkan pertempuran.Lalu dilihatnya puluhan anak buah Yuga yang sudah tergeletak tak berdaya.
“Kerja yang bagus, anak buahku. Sekarang bereskan senjata, cek agar tidak ada satu pun yang tertinggal! Hilangkan bukti yang mengesankan bahwa kita yang membuat kekacauan di tempat ini! Biar klan Yuga saja yang beurusan dengan polisi,” perintah Kazuo.
Anak buah Kazuo langsung melaksanakan perintah.Tak sampai 10 menit semua sudah beres. Mereka langsung naik ke mobil yang diparkir di depan gudang pabrik untuk pulang ke markas mereka.
“Tuan tidak pulang?” Tanya Kyouhei —anak buah Kazuo— yang heran melihat bossnya berjalan kea rah berlawanan.
“Tidak. Aku ingin menyisir daerah ini sebentar.Kalian pulanglah duluan,” Ujar Kazuo.
Setelah anak buahnya pulang, Kazuo menyusuri jalan yang sepi. Entah kenapa ia sangat ingin sendirian. Ia sedang malas mendengar teriakan-teriakan dan ocehan anak buahnya. Ia merindukan kesunyian.
Aku lelah dengan semua ini, batin Kazuo perih.
Terlahir di keluarga Touko, klan yakuza terkuat di Jepang, membuat Kazuo seolah hidup seperti boneka. Hanya dikendalikan oleh kakeknya yang menjadi ketua Yakuza kala itu. Ayah dan ibunya tak pernah menyapanya. Hubungan ayahnya dan kakeknya yang tidak baik lebih dari cukup untuk menjelaskan kekakuan hubungannya dengan keluarganya. Dididik dari kecil untuk menjadi seseorang tak berperasaan, diajari bagaimana cara membunuh, dan mengeruk keuntungan pribadi tanpa mempedulikan orang lain membuat hatinya menjadi sekeras batu.
Tetapi ia hampa. Dan ia tahu itu.
Rasanya menyakitkan. Sakit yang tidak bisa dihapus dengan cumbuan wanita-wanita dan para geisha yang menemaninya tiap malam. Sakit yang tidak bisa dihilangkan dengan meluaskan kekuasaan dan membunuh orang seenaknya. Sakit yang tidak bisa ditawar dengan tumpukan koper penuh uang yang ia dapatkan dari mengeruk keuntungan.
Hatinya terlalu beku untuk menangis karena kesakitan itu.
Dan justru rasanya lebih menyesakkan.
Sudahlah, tak pantas bagi seorang ketua klan yakuza`sepertiku terlalu sering memakai perasaan seperti tadi. Tak ada yang beres jika diselesaikan dengan hati. Persetan dengan keluarga itu! Makinya dalam hati.
Tak terasa sudah satu jam lebih ia berjalan. Dilihatnya mega merah sudah membayung di langit, menandai berakhirnya siang hari dan siap menyambut malam yang pekat. Dipandangnya wilayah sekitarnya. Ia hanya asal berjalan, tak tahu dimana sekarang ia berada. Dilihatnya rumah-rumah yang berjejer.
Rumah.Tempat kembali. Cih, tempat kembaliku hanya akan bermuara pada kegelapan.
Tiba-tiba ia merasakan dadanya sakit sekali, seperti dihantam godam.
“Aargh!” jeritnya kesakitan sambil tersungkur. Ia menyentuh dadanya, merasakan kesakitan yang luar biasa. Pandangannya mengabur. Lalu samar-samar ia mendengar langkah kaki yang mendekatinya.
“Astaghfirullah!Kau kenapa?” ucap seorang perempuan yang menghampirinya.
“Siapa kau? Pergi! Jangan hiraukan aku!”
“Ugh, masih sempat-sempatnya sok kuat. Ayo, kau butuh perawatan!” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.
Kazuo mengambil pistol yang terletak di pinggangnya dan mengacungkannya pada perempuan itu.
“Jangan sentuh aku! Akan kutembak kau jika berani menyentuhku!” seru Kazuo. Kazuo berusaha memfokuskan pandangannya. Tetapi yang mampu dilihatnya hanya kepala yang berbalut kain biru muda.
Lalu ia tak mampu melihat apa-apa lagi.


                Susah payah Ara membopong tubuh berat pemuda itu masuk ke rumahnya. Digesernya pintu, lalu ia baringkan pemuda itu di atas kasur gulung yang sudah ia keluarkan sebelum ia keluar dari rumah. Ia selimuti tubuh itu, dan meletakkan bantalan berisi air hangat di atas dadanya. Seraya berharap itu bisa mengurangi sakitnya.
                Ia meletakkan pistol pemuda itu di tempat yang tak terjangkau olehnya. Berjaga-jaga agar pemuda itu tidak mencoba menembaknya lagi. Dari pistol yang dimiliki pemuda itu dan penampilannya, Ara yakin bahwa pemuda itu adalah seorang yakuza, komunitas yang sangat dihindari para warga Jepang.ia menyadari kebodohannya menolong salah seorang yang sangat ditakuti di Jepang, apalagi membawanya ke rumahnya! Sangat bodoh. Sesaat ia menyesali keputusannya. Tetapi mengingat wajah kesakitan pemuda itu tadi, ia cukup yakin bahwa itu adalah pilihan yang tepat.
                Toh, ia juga manusia. Sangat tidak manusiawi sekali jika aku tidak menolongnya tadi, batin Ara.
                “Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!” Suara adzan terdengar dari iPhone milik Ara, menandakan sudah tiba waktunya bagi seorang muslim sepertinya untuk bersembhayang memuja Tuhannya. Bertemu dan mengadu hanya kepada-Nya.
                Ia pun berwudhu dan memakai mukena. Ia gelar sajadahnya di samping kasur tempat pemuda yakuza itu terbaring, sekalian berjaga-jaga jika ia terbangun.
                Setelah sholat dan berdoa, ia pun mengambil mushaf kecil di atas meja dan mebaca surah Ar-Rahman. Surat yang berisikan tentang nikmat Tuhan bagi orang-orang yang mematuhi perintah-Nya dan siksaan bagi para pembangkang-Nya ini dibaca Ara dengan sepenuh hati hingga matanya mulai basah karena air mata. Kalam-Nya yang luar biasa indah menggugah hati siapapun. Termasuk hati Kazuo yang terbangun karena mendengar suara Ara saat membaca Al-Quran. Ia terperangah melihat gadis di depannya melantunkan nada lagu yang sangat indah, tak pernah terdengar olehnya selama 25 tahun ia hidup. Lantunan itu membuat hatinya tenang. Mencairkan semua kebekuan hatinya sehingga tiba-tiba air matanya menetes. Semakin lama semakin hebat, hingga ia terisak kecil. Ara yang mendengar isakan itu langsung menghentikan bacaan Qur’annya dengan membaca shodaqallahul ‘azhiim lalu menghampiri Kazuo.
                “Doushite? Kenapa menangis? Ada yang sakit?” Tanya Ara cemas.
                Kazuo memandang wajah gadis di depannya. Seraut wajah berbentuk oval, berkulit kuning langsat, dengan hidung mancung dan bibir yang pas menmpati site-nya. Lalu ia menatap matanya. Mata terindah yang pernah dilihat Kazuo. Besar dan indah, tidak seperti orang Jepang yang umumnya bermata sipit. Bulu matanya tidak terlalu lentik, tetapi panjang dan cantik. Alis matanya yang tebal melintang tegas di atas matanya. Rambutnya ditutupi kain yang ia tak tahu apa namanya, tetapi terlihat anggun di matanya.
                “Hei! Kok bengong? Kamu kesakitan?” Tanya Ara.
                “Ah, tidak. Daijobuu. Kau siapa?” Tanya Kazuo ingin tahu.
                “Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ayara Anjani Musa, tetapi panggil aku Ara saja. Maaf aku lancang membawamu ke rumahku. Habisnya aku tidak tahu lagi bagaimana cara menolongmu yang kesakitan sore tadi,” jelas Ara panjang lebar sambil tersenyum kecil. “Namamu siapa?”
                “Kau tidak tahu aku? Aku Kazuo Touko,” jawab Kazuo. Ia heran ada warga Jepang yang tidak tahu namanya yang jelas-jelas terkenal sebagai salah satu orang terjahat di negara ini. Lalu Kazuo teringat saat-saat sebelum ia pingsan. Walaupun samar, ia yakin ia sempat menodongkan pistolnya ke gadis ini. Tetapi ia putuskan untuk tidak mengungkitnya. “Kau bukan orang Jepang ya?” Tanya Kazuo.
                “Bukan. Aku orang Indonesia. Aku tinggal disini untuk melanjutkan pendidikanku. Kau tahu negaraku? Indonesia?” Tanya Ara bersemangat.
                Kazuo tersenyum sinis mendengar nama Negara itu. Bagaimana aku tak tahu, banyak klien bisnis gelapku yang berasal dari sana, batin Kazuo.
                “Ya, aku tahu. Aku sering ke Bali,” jawab Kazuo. “Oh iya, lagu apa yang kau nyanyikan barusan?”
                “Hah? Lagu?Kapan aku menyanyikan lagu?”
                “Yang tadi kau lantunkan sebelum aku bangun apa?”
                “Oh, itu Al-Quran, kitab suci di agamaku. Aku bukan menyanyikannya, tetapi membacanya. Salah satu anjuran di agamaku adalah jika membaca Al-Quran maka sebaiknya kita memperindah suara kita. Karena itu adalah wahyu Tuhan,” jelas Ara panjang lebar.
                “Bisakah kau membacanya lagi? Aku ingin mendengar kau membacanya,” pinta Kazuo.
                Ara terperangah karena kata-kata Kazuo. Ia tak menyangka seorang pemuda yakuza di depannya tertarik dengan Al-Quran. “Dengan senang hati!” sahut Ara senang. Ia pun mengambil mushaf dan membukanya. Sebelum membaca, ia tersenyum manis kepada Kazuo dan langsung membacanya.
                Senyum yang manis sekali. Sampai Kazuo tercekat.
                Lalu ia sadar. Apa-apaan kau, Kazuo!
                Dan terdengarlah untaian ayat kitab suci itu. Kazuo memejamkan matanya, mencoba menghayati setiap lantunan bacaan yang dibaca oleh Ara. Untaian ayat yang entah kenapa mampu meneduhkan jiwanya sejak pertama kali ia mendengarnya. Ara pun membacanya sepenuh hati.
                Tanpa mereka sadari, itu menjadi momen terindah di dalam hidup mereka.


                “Mana pistolku?” Tanya Kazuo. “Aku yakin kau tidak bodoh dengan membiarkannya begitu saja, kau menyimpan pistolku kan?”
                Ara teringat pistol pemuda itu yang ia letakkan di lemari. Sepertinya Kazuo sudah mulai ingat tentang pistolnya. Bingung harus berkata apa, Ara berkata jujur, “Ya, kusimpan pistolmu. Berjaga-jaga agar tidak kau gunakan, wibawamu sebagai seorang Yakuza tidak berlaku di rumahku, tahu,” kata Ara.
                “Kau tahu aku orang jahat, lalu mengapa kau menolongku?” Tanya Kazuo penasaran.
                Ara terdiam. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia menolong Kazuo. Yang ia tahu, ia pun menderita saat melihat Kazuo kesakitan
                “Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa aku menolongmu. Yang jelas, aku sekarang tidak menyesal.”
                “Hei, aku bisa saja melakukan hal-hal yang tidak kau inginkan. Aku bisa saja membunuhmu disini. Kau tidak takut?” Tanya Kazuo heran.
                Ara terdiam. Sebenarnya ia sudah sangat takut. Pemuda di depannya ini adalah seorang Yakuza terhebat di Jepang, dan ia bisa dengan mudah membunuhnya. Tetapi entah kenapa, keberaniannya tiba-tiba muncul,
                Allah dekat denganmu, Ara, batinnya kepada dirinya sendiri.
                “Aku punya Tuhan, Kazuo-san. Dan aku yakin Ia akan menolongku jika kau bermaksud untuk membunuhku,” kata Ara mantap.
                Kazuo terperanjat, tak menyangka Ara akan menjawab seperti itu. Ia tatap mata gadis itu, dan ia temukan keyakinan disana.
                Gadis ini benar-benar penuh kejutan, batin Kazuo.
                “Baiklah, pasti tiba saatnya kau akan menyesal telah membiarkanku berada di rumahmu,” ujar Kazuo pelan.
                “Kazuo-san, ada satu hal yang aku percaya. Sejahat-jahatnya seseorang, hati nuraninya pasti baik. Tak peduli ia telah membunuh ribuan orang atau melukai hati jutaan orang, hati nuraninya pasti seputih hati malaikat,” ucap Ara. “Dan aku tidak tahu dari mana keyakinan itu kudapatkan, bahwa aku yakin hati nuranimu juga seperti itu.”
                Kazuo menatap Ara nanar.“Cih! Kau percaya Tuhan, Ara? Buktikan kepadaku bahwa Tuhanmu itu ada!” kata Kazuo.
 “Ya, aku percaya Tuhanku. Aku percaya Dia ada, walaupun aku tidak bisa melihatnya. Tuhan itu ada dan Dia dekat, Kazuo-san. Lebih dekat daripada urat leher kita sendiri,” ujar Ara mantap sambil tersenyum. “Maaf aku tidak bisa membuktikannya secara langsung kepadamu, tetapi akan tiba saatnya kau mengerti, Kazuo-san.”
                Kazuo hendak membantah kata-kata Ara, tetapi tiba-tiba hal itu datang lagi.
                Sakit menyiksa yang ia rasakan di dadanya.
                Ia menjerit kesakitan. tetapi sekeras apapun ia menjerit, rasa sakit itu tidak akan pernah hilang.
                Lebih baik mati daripada merasakan sakit ini…
                Lalu semuanya gelap.


                Senja hari, di depan sebuah nisan. Seorang pemuda sedang membaca sepucuk surat yang kertasnya sudah menguning.
                Kazuo-san…
                Mungkin saat kau baca surat ini, aku tidak akan pernah muncul di depanmu lagi.
                Tetapi tak apa. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada mengetahui bahwa kepergian kita membawa kebaikan bagi orang lain.
                Seperti kepergianku.
                Apakah kau ingat, Kazuo-san?Saat kau bertanya mengapa aku menolongmu?
                Aku dulu tak tahu mengapa.
                Saat melihatmu kesakitan waktu itu, yang aku pikirkan hanya bagaimana cara menyembuhkan sakitmu.
                Tetapi lama-kelamaan, sepertinya aku tahu jawabannya.
                Aku mencintaimu, Kazuo-san. Aku mencintaimu karena Tuhanku.
                Bodoh ya, aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Aku mencintaimu bahkan sebelum aku mengenalmu.
                Tetapi aku yakin rasaku nyata. Melihat sorot matamu yang hampa dan dingin karena hidup dalam kekerasan, menggugah hatiku untuk menopang lelahmu.
                Dan saat melihatmu kesakitan setelah perbincangan kita tentang Tuhan, saat aku mendengar vonis dokter tentang jantungmu, dan juga karena penyakitku sendiri yang kuderita, aku yakin keputusanku ini benar.
                Keputusanku untuk berkorban ‘sedikit’ demi kebahagiaan dan kelangsungan hidumu.
                Dan, aku ingin kau tahu…
                Tuhan itu ada, Kazuo-san.Tuhan itu ada dan telah menakdirkan kita bertemu di waktu senja itu.
                Tuhan itu menyayangimu, Tuhan tahu lembutnya hati nuranimu, Tuhan mengasihimu.
                Terimakasih telah membuatku merasakan perasaan ini sebelum kepergianku.
                Di setiap detik kenangan kita yang sangat singkat, aku tidak akan pernah melupakanmu.
                Manfaatkan hidupmu sebaik-baiknya.
                Sampai jumpa lagi nanti, jika Tuhan menghendaki.
                -Ayara-
                P.S. Kau orang baik, Kazuo-san. Jangan lupakan itu. J


                Kazuo’s Last Note

                Sudah 6 tahun berlalu sejak pertama kali ku bertemu dengan gadis itu.
                Satu-satunya gadis yang tidak takut kepadaku. Gadis yang mengajariku tentang Tuhan, tentang hati nurani, tentang kebaikan hati. Gadis yang mencintaiku, dan juga kucintai sepenuh hati. Rasa cinta yang sayangnya baru kusadari setelah ia pergi karena penyakitnya dengan mengorbankan jantungnya demi kelangsungan hidupku.
                Seribu ucapan rasa terimakasih tidak akan bisa mewakili segala rasa syukurku kepada Tuhan karena telah mempertemukanku dengannya.
                Aku percaya Tuhan. Aku percaya Tuhan itu ada.
                Dan sampai sekarang, sejak peristiwa itu, Alhamdulillah syahadatku masih terus bertahan sampai sekarang.
                Aku bukanlah lagi seorang ketua klan Yakuza. Aku hanya seorang hamba-Nya. Seorang hamba yang mencintai Tuhannya dan makhluk-Nya yang telah berada di sisi-Nya.
                Dimanapun kau berada, doaku selalu menyertaimu. Terimakasih atas kehadiranmu di hidupku dan cintamu. Aku mencintaimu karena Allah, Ayara.

(Yogyakarta, 15 Januari 2012, 19:58)