Jumat, 01 Maret 2019
Utopia
Menciummu melalui spektrum cahaya, memejamkan mata karena takut buta, menerima apa pun yang ada
Aku memujamu masih sama,
Masih disertai keping-keping mimpi yang kuhapal mati, pola-pola berseberangan yang sulit dan melilit, rela disiksa oleh kau yang rumit
Lucunya, aku lebih familiar dengan suara langkah kakimu di dimensi sana dari pada detak jantungku di rengkuhan realita
Lebih memahami arti kerlingan matamu yang bagai kristal, menggelap atau berbinar, duka atau murka
Tiap hari menahbiskan diri dengan menyentuhmu hanya melalui perantara dan rasa sepi yang makin hari makin terasa
Karena aku memujamu masih sama,
Masih dengan aku yang tak ada, dan kau yang tak nyata.
Selasa, 16 Oktober 2018
Permintaan
Aku berdarah bermalam-malam
Mengerami gumpalan, kubelah satu-satu
Pekat, penuh dosa dan pertanyaan
Aku bertahan hidup dengan menikam rasa
Tumbuhnya kutebas, akarnya kucabut
Waktu mengajarkanku memilah guna demi hidup
Tak kubiarkan menetap jika tak menghidupi, tak akan kupelihara jika menyengsarakan
Tapi tawa-Nya di mana-mana, lelucon-Nya tak ada duanya
Sesuka hati-Nya mengubah letak pintu hati umat-Nya
"Tidak perlu dipahami," dengan entengnya Dia berbicara
Kesalnya minta ampun.
Argh, sekalian saja lah, kau tahu karpet?
Tiap hari ku menyapu debu, kotoran dan juga puing harapan
Mendiamkannya di bawah lapisan, lalu tidur di atasnya dengan tentram
Tapi kau terlalu besar untuk kusapu, terlalu tajam untuk menjadi alas tidurku
Malam-malamku jadi nyeri, menahan sakit dan dingin karena terlalu terbuka
Sialnya, aku malah terlalu nyaman. :)
Sekarang begini saja
Demi hidupmu yang pasti akan sentosa tanpa aku, bolehkah aku meminta?
Tolong buat dirimu tidak berguna
Aku tidak mau jatuh cinta.
Yogyakarta, 16 Oktober 2018.
Minggu, 25 Juni 2017
Simalakama
Yang satu mencintai dengan api. Panas dan menggelora. Sentuhan dan pemujaan total seorang pecinta. Namun saat semua terbakar, yang tersisa hanya abu. Kulit-kulit mengelupas, kering tanpa darah, hangus tanpa asap.
Yang satu mencintai dengan angin, datang bagai badai, membawa seluruh asa dan lamunan melayang tinggi, namun hampa di tengah pusaran. Melayang tanpa jalan keluar.
Yang satu mencintai bagai air. Mengalir tanpa henti, membawa serta segala yang baik segala yang buruk, campur yang terlalu baur, lalu menenggelamkan saat sampai di muara. Membiru tanpa lebam.
Yang satu mencintai dengan tanah. Sederhana dan apa adanya. Menyelimuti tubuh beserta basah dan keringnya. Namun tiap lapisan menyimpan dendam tiap jiwa, menimbun sakit dan jeritan tiap nestapa. Ragu dan cemburu. Luka tanpa air mata.
Maka aku memilih melayang jatuh. Kering, hampa, beku dan tercabik sempurna.
Sendiri saja. Bahagia dalam sakitnya.
Minggu, 01 Januari 2017
Izinkan Aku Melepasmu dengan Benar
Lebih dari 3 tahun lalu aku pernah menulis tentangmu.
Lebih dari 3 tahun yang lalu semua tulisan masih tentang kamu. Tentang kita dan mimpi-mimpi tentang kebersamaan, tentang aku dan kamu yang memimpikan satu titik akhir pertemuan di mana kau dan aku tidak perlu lagi mengucapkan selamat tinggal.
3 tahun lalu aku pernah merasakan bagaimana rasanya kau khianati.
Merasakan bagaimana hampanya mengetahui bahwa ku hanya berjuang sendirian, mengetahui bahwa segala sakitku tetap saja tak berarti apa-apa, bahwa segala janji memang tak akan pernah ditepati.
Aku berjalan tertatih, susah payah menjadikan diri ini kembali utuh, kembali merasakan dan mencintai, kembali tertawa dan membiarkan semua berlalu.
Lalu aku memaafkanmu.
Lalu kau kembali.
Kadang aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, kepada langit, kepada awan-awan yang menyaksikan air mataku ruah karena meratapimu, kepada senja yang kusumpahi tiap hari karena mengingatkanku bahwa tidak ada orang yang pernah memujaku sehebat kamu.
Tapi mereka tidak pernah salah. Kau pun tidak. Aku pun tidak.
Karena kita hanya dua orang yang terlalu menyepelekan takdir Tuhan. Dua orang yang terlalu lelah berjuang sehingga sepenuhnya menyerahkannya kepada angin-angin yang berhembus, berharap mereka bisa mewakili kehadiranku di malammu yang dingin, atau menjadi pengganti bahumu di saat aku ingin menangis.
Karena semua itu tidak akan pernah bisa terwakilkan. Karena kita terlalu saling membutuhkan hingga saling menyakiti. Kita hanya berkata kuat saat tubuh ini sudah lelah luar biasa.
Sayang, kita sudah terlalu lama bersama, dan terlalu lama terpisah.
Maka kali ini, izinkan aku melepasmu dengan benar. Dengan kesadaran penuh bahwa kita tidak bisa terus-terusan mengkambinghitamkan jarak dan waktu. Tidak bisa terus-menerus menyalahkan keadaan. Tidak bisa lagi menganggap bahwa aku dan kamu adalah tempat kembali saat semua hancur-lebur tak terkendali.
Karena kamu ada untuk pernah kucintai.
Karena aku ada untuk pernah kau inginkan.
Maka kali ini, izinkan aku melepasmu dengan benar.
Dan kembali melangkah sendirian.
Dengan namamu yang sudah terpatri di nisan hati sebagai pelajaran.
Yogyakarta, 1 Januari 2017
New Year's Note
Tahun ini adalah tahun yang penuh dengan rasa dan asa. Penuh dengan titik-titik harapan dan suka cita.
Pun juga tahun yang mungkin kau benci setengah mati, penuh dengan makian yang berhamburan tak kunjung henti.
Tapi tahun ini juga tahun di mana kau telah belajar banyak hal.
Belajar menerima dan terbiasa hidup tanpa sesuatu yang kau cintai, belajar mengais sepersil surga di tengah-tengah keputusasaan, belajar memaklumi selera humor Tuhan yang kadang melelahkan, belajar untuk berani melangkah ke tempat di luar kebiasaan, belajar untuk menjadi salah dan benar, belajar untuk menyakiti dan disakiti, belajar untuk menjalani kehidupan itu sendiri.
Maka di tahun yang baru, cobalah mengerti bahwa hidupmu bukan lah kambing hitam bagi semua kebodohanmu.
Karena hidupmu bukan film menyedihkan yang bisa kau hentikan jika bosan, bukan pula novel roman picisan yang bisa kau buka seenaknya di halaman kesukaan.
Karena hidup tak akan menunggu saat kau menangis semalaman menyesali keputusan yang telah kau buat. Karena hidup tak akan menemanimu kabur dari kenyataan. Karena hidup tak akan menepuk pundakmu atau menangis bersamamu.
Hidupmu akan terus berjalan.
Ia tidak peduli kau jatuh atau bangun, gagal atau sukses, patah hati atau bersuka cita. Ia hanya peduli pada langkahmu yang terus berjalan bersamanya.
Maka berjalanlah. Karena sakitmu di perjalanan tidak akan membunuhmu kecuali jika memang itu maumu. Karena setiap luka dan memar yang kau dapat bukanlah suatu yang sia-sia. Karena setiap air mata yang kau jatuhkan tidak akan menguap begitu saja.
Buatlah hidupmu bangga.
Sampai pada akhirnya, Ia bisa menyerahkanmu sebagai hadiah bukti cintanya kepada sang akhir, seraya berkata, "Jaga dia baik-baik. Dia telah setia menemaniku dalam perjalanan menemuimu."
Yogyakarta, 1 Januari 2017
Selasa, 06 Desember 2016
Cukup
Menjauh dari harap dan malam-malam penuh tidur yang tak lelap.
Bebas tanpa kiasan. Lepas tanpa perumpamaan. Merekah dalam kungkungan.
Untuk kali ini saja, biarkan aku merasa cukup.
Karena aku adalah sisi gelap bayangan yang harus ada.
Tercipta bukan untuk hangat cahayamu.
Tersedia agar kamu belakangi.
Gugur dan tergusur dari petak penuh kerlipan yang membakar.
Untuk kali ini saja, biarkan aku merasa cukup.
Cukup hanya menyentuh aromamu yang terbawa angin.
Dengan kamu yang tidak pernah sadar.
Dengan sinarmu yang tak akan pernah pudar.
Rasuk
Jumat, 29 Juli 2016
Karena Sebenarnya
Karena yang menyakitkan adalah,
Bukan kamu yang memutuskan pergi,
Atau aku yang memilih berpaling,
Atau kita yang sudah lelah.
Karena yang menyakitkan adalah,
Saat kita terlalu nyaman berjalan bersama,
Tapi tak lagi bahagia.
Terlalu Lama
Aku dan kamu terlalu lama bersama.
Sama-sama merasakan rindu, terkungkung ragu dan kadang cemburu.
Sama-sama melihat langit lalu terpejam,
Sama-sama menatap layar lalu tersenyum,
Sama-sama memandang ratusan pasangan yang berlalu lalang sehingga terdiam.
Kita terlalu lama bersama, dan terlalu lama terpisah.
Selasa, 19 Juli 2016
Hati
Kamu waktu itu pernah berkata bahwa terkadang manusia harus berusaha terbiasa dengan keadaannya sendiri. Sangat terbiasa sehingga ia menjadi lupa akan hal lainnya, menjadi tidak peduli akan apapun selain rutinitasnya.
"Buatlah hatimu malas bergerak!" katamu."Tidak terlalu diam hingga mati bosan, tidak terlalu pecicilan hingga terlempar jatuh dan kesakitan."
Lalu aku mulai meninggalkan seluruh keluhan, mengabaikan segenap rasa dan gerakan yang tiba-tiba muncul, membiarkan sang hati berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Pelan pelan dan sesuai perhitungan.
Tentram dan tanpa gangguan.
Namun...
"Dia datang, Tuan," kataku sambil tersenyum masam.
Dengan senyuman seharga 1 juta dolar itu kamu memandangku, "Lalu, apa kabar hatimu?"
Tanpa sadar aku menyentuh sang hati, mengantisipasi hal yang tak nyaman. Lalu aku menjawab tanpa suara, tapi toh kamu tahu. Bahkan aku akan kaget jika kamu tidak mengerti. Kadang aku benci mengakui bahwa mungkin kamu lebih mengerti hatiku dibanding yang lain.
"Sakit kah?" tanyamu.
"Tidak. Hanya... menyesakkan."
Lalu kamu menganggukkan kepalamu penuh pemahaman. Kamu menunduk lama. Sangat lama hingga rasanya ini semakin sesak saja.
"Mungkin sudah saatnya," ucapmu perlahan.
"Saatnya apa, Tuan?"
"Ya... Saatnya melepas hatimu. Ia mungkin sudah cukup kuat untuk disakiti, sudah cukup bijaksana untuk dibiarkan memilih, sudah cukup pintar untuk berjalan tanpa pegangan."
Aku terdiam.
"Ia sudah cukup dewasa, maka sudah saatnya lah Ia dibahagiakan."
Senin, 27 Juni 2016
Lapuk
Bertahun-tahun sudah
Kamu ternyata masih yang terbaik
Aku ternyata masih yang terbodoh
Aku membuka mata, lalu melihatmu tertawa karena aku ketiduran saat menunggumu datang. Kamu mendongakkan kepala, lalu melihatku tertawa karena kau kesusahan membawa barang bawaanku. Kita saling menatap lama, lalu aku pamit pergi dan berterima kasih karena kau tetap ada.
Walaupun kenangan kita usang, sejenak saja, aku ingin pulang.
Senin, 06 Juni 2016
Puisi Untuk Kamu yang Puasa
Karena cinta ada di mana-mana.
Di sela-sela jari yang hangat,
di bola mata yang menggelap,
di kerutan bibir yang mencebik,
atau pada tangan yang mati-matian berusaha menjaga dirinya agar tidak kemana-mana.
Karena walaupun aku juga mencintaimu di bulan-bulan lainnya, Tuhan tahu aku lebih mencintaimu pada bulan puasa. Selamat bermesraan dengan-Nya!
Kamis, 26 Mei 2016
Kacamata
Pandanganku mengikutimu seperti bercak kecil di sudut kacamatamu
Tak terlihat, tak mengganggu, tak berbayang
Berusaha keras menutup diri agar tidak kau hilangkan
Demikian Demi Kamu
Menggagas mimpi dengan jalan penuh keringat dan retakan tulang demi kamu di ujung sana.
Kamu utopia, yang tetap akan kupuja walau penuh luka.
Dengan rakus akan kucumbui tiap jengkal kenistaanmu.
Dengan sabar akan kurawat tiap lapis topeng jiwamu.
Minggu, 25 Oktober 2015
Semoga Ini Post Terakhir Tentang Menunggu
Andai kau mengatakan itu sebelum kau pergi, Pa.
Mungkin aku akan lebih jarang memasang senyuman letih,
Mungkin aku akan lebih pandai membalikkan badan.
Mungkin aku akan lebih pintar memaki lalu meninggalkan.
Mungkin aku tidak akan terdiam di kursi dan meratap di saat yang kutunggu sedang asyik terlelap.
Gambar diambil di sini
Rabu, 10 Juni 2015
Janji Semesta
Ia membungkus batu itu dengan kertas lalu dilemparnya ke lautan
Tenggelam, basah, hancur
Seperti hatinya yang kini ia paksa tuk menepi
Ia membalikkan badan, melangkahkan kaki, mengusap pipi
Ia tinggalkan bentang biru yang menjadi saksi bisu
Tanpa ia sadari, di belakangnya langit cerah merekah
Seluruh penghuni lautan menyenandungkan alunan penuh janji
Semesta mengalun, mencatat dengan rapi
"Dengan senyum bahagia yang terbentuk di wajahmu, kau akan datang lagi."
Selasa, 09 Juni 2015
Murka
Pernah membayangkan bola besi yang legamnya menggelapkan matamu?
Pernah membayangkan tajam pisau yang kilaunya membutakan pandanganmu?
Pernah membayangkan tali bebat yang kekuatannya memenjarakan asamu?
Pernah membayangkan semua itu mewujud nyata di hadapanmu?
Jika belum, langkahkan kakimu menjauh dariku
Aku sudah merah karena amarah.
Membiru karena pilu.
Minggu, 31 Mei 2015
River Flows in You*
Senin, 13 April 2015
Penyayang
Minggu, 29 Maret 2015
Benang
Kamu bergerak terlalu cepat.
Tanpa membayang, jauh dari tangkapan.
Bagai kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya perlahan lalu pergi lagi, seakan menggoda agar aku terlena.
Tetapi aku mundur, tahu diri, tak mau berangan terlalu tinggi.
Melanjutkan hari, menempuh belantara sepi sendiri.
Lalu semesta memainkan perannya perlahan dalam diam.
Mengejutkanku tanpa persiapan, terpaku pada benang milikku dan milkmu yang entah mengapa bisa bertautan.
Ya, itu milikku. Tipis, rapuh, dengan sisa upaya berusaha mengaitkan harapan.
Tetapi... Ini bukanlah sesuatu yang kita rencanakan bukan?
Aku hanya menjalankan lelucon Tuhan, sambil diam-diam meringis, sambil kadang-kadang menangis.
Bodoh? Aku sendiri pun tahu.
Namun aku bersyukur bahwa setidaknya kau masih berkenan membagikan senyum harga sejuta milikmu itu.
Bersyukur bahwa bagaimanapun, kau sudah membuatku tertawa lepas tanpa ragu.
Pikirku, layakkah bagiku untuk tenggelam di sepersil surga artifisial ini?
Detik itu juga, hatiku seakan langsung menyahut, "Setelah jutaan luka-luka kecil di dalam sini, ini adalah jawaban dari doa-doamu selama ini."
Hey, ternyata otakku tidak terima, Ia gandeng kemarahan dan rasa kecewa, bersama-sama berunjuk rasa.
"Jawaban doa macam apa yang selalu membiarkanmu menunggu?!" kata mereka.
Entahlah.
Tapi toh bagaimanapun, benangku masih menautkan dirinya, belum mau lepas, belum ingin tuntas.
Ia acuhkan pertengkaran antara otak dan hati, bertahan dengan sisa daya yang ada, walau letih.
Lalu aku menyadari...
Mungkin saat aku mulai membuat alasan untuk sikapmu yang membuatku berasa ingin mati saja, saat itu lah aku benar-benar mengerti...
Aku memang butuh kamu.


