Rabu, 27 Mei 2020

Tak Terhingga Sepanjang Masa

Di antara kipas angin kurang pelumas dan kursi di pojokan kamar, ada wujud tak kasat mata yang terdiam mengamati
satu demi satu luka di kakimu, menghitung helaan napas
Menyeka tetes demi tetes air mata yang tidak akan bisa mengalir
Pilu yang ditahan sendiri, tangis yang diredam sampai letih
Orang bilang Ibu ada karena Tuhan kadang absen menyapa
Dijadikannya tangan itu kasar dan lembut sekaligus, memikul beban yang lebih berat dari apa yang dialami Atlas di belahan dunia sana, tak jua tersungkur walau kaki lebam dan penuh luka
Ibu pernah terkoyak hanya agar kau ada, tapi kini mengusap kepalamu pun Ia tak bisa
Terbatas dinding astana, hanya bisa merapal doa.

Selasa, 26 Mei 2020

Unsettlingly Good!

6 film thriller/horror yang nontonnya beneran bikin nggak nyaman tapi seseru itu!

1. Oldboy (2003) | Dir: Park Chan Wook

Film garapan Park Chan Wook yang diadaptasi dari manga Jepang. Saking populernya, ini film di-remake lagi versi Hollywoodnya berjudul sama tahun 2013.
Bercerita tentang Dae-Su, seorang pekerja kantoran yang tiba-tiba diculik dan dikurung selama 15 tahun. Tanpa sebab, tanpa penjelasan, tanpa tahu siapa pelakunya.

2. The Autopsy of Jane Doe (2016) | Dir: André Øvredal

Seorang ayah dan anak yang berprofesi sebagai koroner (tukang autopsi mayat) diminta oleh polisi setempat untuk mengautopsi mayat perempuan tanpa identitas.
Salah satu film horror yang terbaik ditonton pas lagi quarantine begini. Apalagi klo lagi hujan deres (soale gue dulu nonton pertama kali begitu, lumayan lah bikin makin stress).

3. Mandy (2018) | Dir: Panos Cosmatos

Red Miller (Nicholas Cage) tinggal bersama kekasihnya Mandy (Andrea Riseborough) di kabin dekat danau. Suatu hari, kecantikan Mandy memukau Jeremiah Sand (Linus Roache), seorang pimpinan grup pemujaan (cult) hippie. Ia lalu meminta tolong kepada geng motor The Black Skulls agar menculik Mandy.
Ini jenis film psychedelic, genre film dengan karakteristik narasinya didasarkan pada pengaruh halusinasi dan obat-obatan. Sesuai sama genrenya, film ini aneh dan serem, tapi juga nagih. Aura, simbol dan visualisasinya menyeramkan, tapi juga seru parah dengan diiringi musik latar yang masyaallah kerennya.

4. American Psycho (2000) | Dir: Marry Haron

Patrick Bateman (Christian Bale) adalah seorang bankir investasi yang tampan dan kaya. Walaupun tampak sempurna, Ia sebenarnya menyembunyikan sisi gelapnya dari semua orang. Didorong oleh rasa cemburu tak masuk akal, hasrat psikopat di dalam dirinya pun bergejolak.
Ultimate classic. Diadaptasi dari novel kontroversial berjudul sama karangan Bret Easton Ellis. Ini film yang semakin kesini terasa semakin relevan dengan kehidupan kita. Sosok Patrick Bateman yang narsistik dan kompetitif ibarat representasi dari masyarakat kita yang sakit, ambisius dan konsumtif.

5. The Babadook (2014) | Dir: Jennifer Kent

Film ini bermula saat Amelia Vanek (Essie Davis) seorang single parent diminta untuk membacakan buku cerita milik anaknya Samuel (Noah Wiseman) yang bercerita tentang Mister Babadook, monster berbentuk seperti manusia berjubah hitam, yang menghantui siapapun yang mulai sadar akan keberadaanya.
Menurut gue ada dua jenis film horor: satu yang serem ngobral jumpscare tapi setelah nonton yaudah kelar gak meninggalkan kesan, yang kedua itu yang seremnya muncul perlahan, tapi nanti bener-bener nakutin sampe bikin nggak nyaman. Nah The Babadook ini termasuk yang kedua. 😌👌

6. The Witch (2015) | Dir: Robert Eggers

Keluarga beranggotakan suami istri dan 5 orang anak diasingkan dan memilih untuk membangun kehidupan baru dengan tinggal di tepi hutan. Namun sejak hilangnya bayi mereka, terror mulai menghantui keluarga tersebut.
Debut film panjang Robert Eggers yang emang gila bener. The Witch sukses menggambarkan suasana kelam dan kuno dari terror penyihir di akhir abad 16. Minim jumpscare tapi beneran intens dan mencekam.

Sabtu, 23 Mei 2020

Lebaran Tanpa Ziarah

Saat lagi rebahan di tengah-tengah petak kamar kosan, saya tiba-tiba teringat ayah saya. Waktu masih hidup, pasti di petang hari akhir Ramadhan beliau langsung menyalakan speaker stereo (yang hanya dipakai saat lebaran sama dan aqiqah si nizam) dan menyetel takbiran. Biasanya ayah saya hanya duduk di ruang tengah, kadang sambil memejamkan mata sambi sesekali mengecek smartphone, sibuk mengarang ucapan lebaran atau membalas pesan. Tidak ada yang meriah di rumah kami. Beliau tak pernah sekalipun meminta kami melakukan apapun untuk merayakan takbiran. Tapi gema takbir tetap terdengar di seantero rumah, sepanjang malam hingga subuh. Seakan mengingatkan anak-anaknya untuk memaknai momentum ini walaupun sendiri-sendiri.

Keesokan paginya, setelah sholat Ied atmosfir rumah pasti langsung berubah jadi haru campur kikuk. Saya mencium tangan ayah dan ibu, meminta maaf. Biasanya ayah saya membalas dengan, "Maafkan Papa juga ya, Nak," lalu mencium ubun-ubun saya. Ibu memeluk saya erat, matanya berkaca-kaca.

Lalu sudah, atmosfir kembali normal, nyaris lega. Kami memang bukan keluarga yang ekspresif. Nyablak dan cerewet, memang, tapi kalau soal mengekspresikkan perasaan kami macam anak SD yang disuruh nyanyi di depan kelas. Kikuk dan malu. Kalau diingat-ingat, saya hampir tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya mengungkapkan rasa sayang kepada ayah dan ibu.

Setelah 5 tahun ayah saya meninggalkan keluarga, ritual cium tangan itu pun berubah menjadi ritual cium nisan. Biasanya saya ke makam di hari lebaran pertama saat hari petang, sehabis ashar. "Halo, Pah," sapa saya setiap kali menjejakkan kaki di samping makam. Saya juga tidak tahu mengapa saya perlu repot-repot menyapa, tapi itu hal yang refleks terucap sejak ziarah pertama.

Secara fisik, ziarah adalah momen terdekat saya dengan orang yang sangat saya cintai. Tapi sayangnya lebaran kali ini saya tidak dapat menyapa ayah saya. Tahun ini saya tidak dapat merasakan perasaan lega yang tak dapat saya deksripsikan saat melihat gundukan tanah, menjejakkan kaki di sampingnya, dan duduk sambil menyiangi rumput liar di sekitar nisan. Omong-omong, itu sama sekali bukan momen yang menyedihkan. Ada saatnya di mana duka tidak lagi menyiksa. Sederhananya, rasanya seperti bertemu teman lama. Rumitnya, seperti berjalan di samping kereta yang tidak pernah ada ujungnya. Kamu terus bergerak, di sampingmu kereta itu diam tak bergeming, tapi kamu tahu Ia tetap ada dan akan selalu ada.

Hampir dua ratus hari sejak kali terakhir saya mengunjungi ayah saya. Saya lalu menyadari, beberapa luka memang tidak ditakdirkan untuk sembuh, hanya mereda.

Life Is A Long, Unpredictable Series of First Times

Lebaran pertama sendiri, dan sialnya, juga di tengah pandemi.

Dari kemarin bolak-balik saya memarahi diri saya sendiri. "Kamu tidak sendiri, jutaan orang di luar sana juga mengalami." Saya juga berkali-kali menguatkan diri, anggap saja pembiasaan diri karena nanti mati juga tidak ada yang menemani.

Tapi tangis masih muncul. Kadang hanya setetes dua tetes, kadang membanjir hingga bikin pusing. Kadang airmata memang berfungsi bukan hanya untuk rasa sesal, tetapi juga kelegaan hati.

Tapi sore tadi, saya teringat sesuatu: hidup adalah rangkaian pengalaman pertama yang dialami berulang kali. Kita tidak lahir dengan satu set ingatan baku tentang kehidupan, bukan? Ini pertama kalinya saya membuka mata selama 23 tahun 306 hari, dan besok juga pengalaman pertama saya membuka mata selama 23 tahun 307 hari. Begitu seterusnya sampai mati.

And what do you expect from doing it for the first time? As terrifying as it sounds: we'll never know what will happen until it happens. We all are confused, clueless, hopeless and desperate. Yet at the same time we are also very driven and hopeful because we know that life is full of possibilities. I probably have been getting it wrong, but hey, that's okay. This is my first life anyway.

Kamis, 21 Mei 2020

It has been a lot, Twitterverse

Gara-gara ngebet pengen baca-baca tweet lama, saya sampai download Twitter Archive yang jebul sekali unduh gede banget size-nya sampai 2 giga-an (walaupun nggak ada apa-apanya dibanding film-film di Luxury yang sangat tidak berperike-storage-an). Setelah sempat gagal di angka 1 GB sekian dan bikin saya misuh pas puasa siang-siang, akhirnya saya berhasil mengunduhnya.

Wajar kalau besar ukurannya sih, soalnya itu beneran isinya arsip tweet beserta media-medianya pula. Tapi file utamanya sih yang format html. Layoutnya macam twitter biasa tapi ini isinya tweet kita doang dan bisa offline. Seneng banget rasanya saat saya nyari tweet tinggal masukkin keyword lalu muncul semua tweetnya beserta tautan ke tweet asli.

Akhirnya seharian dong saya ngubek-ngubek tweet lama. Awalnya kepengen download ini gara-gara saya pengen nyari thread no context oh hello on broadway-nya John Mulaney, tapi entah fitur search twitter ini gak seasyik dulu. Lalu saya jadi ngubek-ngubek thread live tweet waktu nonton remake skam simultaneously, tweet-tweet super jadul yang kalau mau quote tweet masih pake RT, sampe tweet bucin-bucin super cringe yang tadi siang saya pisuhin abis-abisan dalam hati. Fuck, I was that stupid at that time.

Tapi ya akhirnya jadi hiburan tersendiri sih. Apalagi waktu liat tweet-tweet lama yang dulu saya masih bebas banget curhat ini itu tanpa mikir. Seriusan, dulu saya sebawel itu di Twitter. Sekarang susah kayaknya ngetweet bebas kaya gitu tanpa dihantui pertanyaan "Okay, will people like my tweet this time?"

Waktu live tweeting SKAM juga, hhh I miss that time. Padahal baru setahun yang lalu ya, tapi kayaknya udah lama banget. It's funny now when I think about that time. How could I watch more than 5 shows at the same time, with the same excitement, and still could function as human? Sekarang saya malah udah nggak ngikutin lagi, padahal season-season baru dari berbagai remake udah pada ngumpul. Masuk watchlist dari kapan tapi ngejedooog aja buat ditonton nanti-nanti. Bener sih, we sometimes shine too bright then burn too soon. But I still love remembering those moments tho. That passionate feelings, the excitement, that long, insufferable waiting between clips... The fire probably has gone out yet the warmth is still there.

Well, those old tweet might as well try to remind me that life indeed has been a lot. I can imagine my old self looking at me in now the eye asking for a question.

"Life has been hell these days but didn't you have fun?"

Senin, 18 Mei 2020

Hari Ini Saya

Stok buah-buahan saya habis. Rencana beli sore tadi. Saya berharap cuaca agak gerimis agar saya punya alasan menggunakan payung di depan mas-mas dan bapak-bapak penjaga portal lockdown dekat jalan raya. Tapi ternyata hujan semakin deras, dan saya memutuskan tidak ke mana-mana.

Saya malas mandi.

Kakak kelas saya membagikan tautan di media sosial dengan tajuk jalur mudik yang aman. Jempol saya yang lebih optimis dari otak refleks langsung mengklik link tersebut. Sudah ditanya kabupaten/kota namun ternyata sama saja. Ngapain mudik? Di rumah aja. Saya paham otak saya ingin meledek si jempol tapi apa gunanya? Jempol hati otak saya rasanya sakit semua.

Sore tadi Ibu saya menelpon, di tengah-tengah obrolan kami, Ia tiba-tiba bertanya, "Kamu beneran nggak bisa pulang, Nak?"

Saya mengacaukan rutinitas hari ini. Skip kelas pertama, solat dzuhur yang mepet sampai jam setengah tiga, hingga memesan makanan yang tidak seperti biasanya. Biasanya kalau begini ada yang tidak beres. Terbukti, yang mestinya rasanya asin malah manis sekali. Giung, kalau kata orang Sunda.

Sedikit demi sedikit saya sudah bisa mengatasi rasa takut saya keluar dari kamar setelah maghrib.

Bangun tidur, lihat jendela. Mau tidur, pertanyaan yang masih sama:
"Ini kapan selesainya?"

Minggu, 17 Mei 2020

Berdua Saja

Kau tahu rasanya terlelap namun tubuhmu tak henti-hentinya berlari
Lurus tanpa kelok, membagi dunia menjadi dua sisi
Melompat sana sini seakan-akan ini hanya permainan lompat tali, bukan garis batas antara hidup dan mati
Detik di saat aku tersadar aku bukan aku, yang ada di pikiranku hanya
Helai demi helai rambutmu yang selalu tersangkut di keliman bajuku entah bagaimana
Lalu aku kembali menggigil, takut kenangan tentangmu diambil
Bagai anak kecil sekarat yang cuma diberikan seutas tali agar tidak tamat riwayat
Pun jika nanti kuhancurkan dunia yang tidak pernah mengakui aku sebagai penghuninya, hanya kau yang kupastikan tetap ada.
Biar bersama-sama kita balurkan diri dengan puing sisa dan abu neraka,
Hanya kau dan aku, berdua saja.

Jumat, 15 Mei 2020

Berseberangan

Nol nol satu satu nol, aku masih tak bisa menebak apa maksud semesta
Tetap berjalan saja, katamu, seakan ini ada ujungnya
Kita ada di tengah kekacauan yang entah dibuat siapa, lalu kau mencariku membabi buta hingga aku
Jatuh ke dalam lubang tanpa dasar, asing dengan ragaku sendiri
Inginku berteriak frustasi saat mereka bertanya siapa namamu
Ternyata seperti ini kesepianmu?
Kau bukan sekedar bumi yang datar lalu membulat, kau bukan sekedar detik ke-25 menuju detik ke-24
Kau anomali di antara semua ilusi
Tapi wujudmu senyata nadi, dan pelukmu sehangat ini

Kamis, 14 Mei 2020

Panggung

Aku ingin menari
dengan rasa sakit dan luka yang menyublim menjadi udara
kuhirup dengan rakus
merasakan perihnya yang merasuk
menikmati organ-organku berlelehan dan mengkerut.

Rabu, 13 Mei 2020

Sejak Kapan Cinta Jadi Ribet?

Sejak kapan ya persoalan cinta jadi ribet?

Kalau ditanya seperti itu, biasanya sih saya punya dua tipe jawaban. Jawaban pertama, saya akan mengarang ratusan kalimat ndakik-ndakik tentang ketidakcocokan, keengganan mengenal orang baru, atau rasa nyaman jika masih sendiri. Jawaban kedua? Karena kasus cinta berbalas dan menyenangkan semua orang masih merupakan privilege. Betul, semua berubah saat society menyerang.

Apa memang hidup harus seperti itu ya? Tapi memang banyak banget yang seperti itu. Waktu jaman-jamannya masih hopeful saya pernah ditanya mau hidup di dunia yang kaya apa, dan saya cuma bisa jawab "I want to live in a world where the man I love also loves me back." Because the pattern will always be the same, I think. We always love people who ignore us and we always ignore people who love us. Hubungan romantika baru akan terjadi saat vicious cycle itu terputus karena perasaan yang berbalas.

Tapi ya pacaran bisa pisah, pernikahan juga nggak selamanya aman dari perselingkuhan, perceraian, atau problem lain. Liat itu The World of The Married, seluruh dunia dibuat pusing. Ada yang merasa relevan dengan pengalamannya, atau ada juga yang tiap nonton komat-kamit merapalkan doa agar hal serupa tidak pernah terjadi di hidupnya. But eventually, we all agree that people change and love sometimes fades.

Selain masalah perasaan itu sendiri, kadang saya dibuat sedih saat hebeh-hebeh percintaan juga dikacaukan dengan standar, ekspektasi dan tuntutan. Saya bisa dibilang pragmatis, tapi saya juga kadang-kadang rindu masa-masa naif saat saya percaya kita emang butuh cinta aja. Dulu cinta doang masih laris, sekarang harus ada embel-embelnya. Emang lu bisa kenyang doang pake cinta? Logikanya sih kalau cinta sih ya nggak bakal ngebiarin orang yang dicintainya kelaparan.

Atau ini cuma masalah degradasi makna? Dulu cinta sama bahagia ya satu paket. Susah bareng tapi ya juga berusaha biar susahnya nggak terlalu lama. Sekarang? Saya malah ngerasa cinta jadi entitas yang berdiri sendiri. Kamu cinta sama orang itu? Iya. Bisa ngasih dia makan? Nggak. Berarti nggak boleh bersama. Makna cinta jadi eksklusif dan utopis, atau bahkan sebaliknya, meaningless dan cuma jadi barang jualan. Seakan-akan mencintai dan menghidupi itu berbeda, padahal mestinya sama.

Di drakor favorit saya, ada kutipan yang bunyinya kira-kira gini, "Berapa banyak sih orang yang sukses menikah dengan orang yang mereka cintai? Sekarang kamu bisa bilang cinta aja, sampai nanti variabel dan realita yang mengubah semuanya." Kesel nggak sih? Saya sih kesel. Kesel karena emang ada benarnya. Tapi untung aja di drakor itu akhirnya bahagia, karena emang tokohnya mencintai juga menghidupi.

Terus ini intinya apa sih? Hambuh. Blog blog saya. Mau ngelantur juga terserah saya.

Selasa, 12 Mei 2020

Rekomendasi K-Drama Tanpa Harta Tahta Angkara

Beberapa kdrama di Netflix yang ringan, bukan fantasi, dijamin apik, dan yang terpenting: tidak ada hebeh-hebeh harta tahta angkara:

1. Reply series (1994, 1997, 1988)
Familiar, hangat, dan penuh nostalgia. Nonton ini tu bikin kepikiran bahwa hidup pernah semenyenangkan itu tanpa teknologi macam sekarang.
Image Image Image

2. Prison Playbook
Satu kata: Geblek. Walaupun setting-nya di penjara tapi ini nggak ada gloomy2nya atau serem2nya blass. Setipe sama reply series (karena emang yang bikin sama). Buat yang suka tipe-tipe komedi deadpan dan satir, wajib nonton ini.
Image

3. She Was Pretty
Tentang cewek yang minder sama penampilannya karena nggak secantik dulu. Dia akhirnya minta tolong temen deketnya nyamar jadi dia untuk ketemu temen masa kecilnya.
Suka banget sama ini. Nggak macem-macem dan nyenengin banget ditonton berulang-ulang.
Image

4. It's Okay That's Love
Hhhhhh my fav of all times. Romcom antara psikiater yang punya trauma disentuh dan seleb penulis novel thriller. Banyak banget belajar tentang human behavior dan psikiatri di sini. KWANGSOO DI SINI LUCU BANGAT.
Image

5. Because This Is My First Life
Premisnya rada absurd, tapi makin ke sini makin relevan dan berkaitan banget ama problem sehari-hari. Nonton ini bikin nyadar bahwa bingung sama hidup sendiri itu wajar banget, ya namanya juga baru pertama kali ngerasain.
Image

6. Something In The Rain
Potret realita perempuan umur 30an yang masih lajang, terus-terusan dituntut keluarga dan society serta mesti cari duit di lingkungan kerja yang patriarkis pula.
Apik sangat.
Image

7. When The Camellia Blooms
Tentang seorang single mother yang membesarkan dan menafkahi anaknya dengan membuka bar di kota kecil.
Aku ndak mau ngomong macem-macem. Pokoknya sebagus itu.
Image

Semoga bermanfaat and happy binge-watching!

Minggu, 10 Mei 2020

Ritual

Izinkan aku memulai sebuah ritual
Di mana aku asyik memilih bagian-bagian favoritku
Jempol kakimu, kuping kananmu, kulit belakang lehermu
kuseduh dan kutenggak tanpa henti
Bagai pengembara kehausan yang tersesat
sama-sama tak tahu jalan pulang
Kau ingat saat kau bilang kita terlalu saling cinta sampai rasanya lebih baik mati?
Siapa yang tahu bahwa ternyata itu maksudnya peringatan dini
Hingga aku cuma bisa mengais sisa-sisa ingatan, saat kita berpegangan tangan di pinggir jalan
dan aku menatap matamu yang jelalatan karena takut ketahuan
Hidup sudah cukup berat dengan kau yang takut dan dayaku yang mengkerut
tapi kau malah balik kanan, berlari, memilih menghadang maut
Adakah tersisa?
Kini kau tak lagi berwujud, hanya serpihan yang menyerbuk
Tiga kali sehari hari kuminum, abumu kuhirup.

Mengulas Mimpi

Kita saling mengulas mimpi
Kamu beri aku 3 bintang
Menarik, latar yang bagus, tetapi masih banyak lubang narasi
Aku beri kamu bintang 4
Bagus sekali, paruh kedua yang melelahkan namun terbayar dengan ending yang rapi
Di luar sana
Mereka tidak pernah lagi membahas hal seperti ini
Mimpi mereka jadi gersang, setelah diberi 5 bintang

Jumat, 08 Mei 2020

Tempat Kabur

Awal perkenalan saya sama dunia fiksi dan perhaluan itu kayaknya gara-gara waktu kecil dulu suka sama Detektif Conan, lalu baca buku-buku bapak saya yang sama sekali nggak saya paham artinya. Tahu anaknya kemungkinan punya minat baca, bapak dan ibu saya kadang membelikkan satu komik atau novel sepulang kantor. Saya ingat waktu dulu bapak saya pernah membelikkan komik yang judulnya "Putri Pemalas", yang saya paham betul maksudnya sebagai sindiran halus agar saya tidak jadi pemalas. Namun alih-alih menjadi rajin, saya jadi makin malas karena komik tersebut bercerita tentang putri yang hobinya tidur dan belanja online tetapi mimpinya sering menjadi kenyataan sehingga Ia dihormati dan dicintai seluruh warganya. Makin panjang lah waktu tidur saya.

Pernah juga saya ingat banget waktu kelas 4 SD ibu saya membelikan saya komik berjudul Meteor Garden aka Hanayori Dango, dan saya yakin dia saya asal beli aja karena belinya pun langsung yang Volume 6 dan jebule ada adegan kissing-nya. Saya baca itu waktu di sekolah pula, untuk nggak kesita guru.

Lanjuuuuuuttt terus itu petualangan fiksi dan perhaluan saya sampai saya nggak bisa ngitung udah berapa banyak karakter fiksi yang saya sebutkan dalam doa. Iya seriusan, dulu masih saya doain setiap abis solat. Doanya ganti-ganti entah minta dapat yang macam mereka atau agar dimunculkan parallel universe di mana saya bisa jadi tokoh utama. Munculkan dia yang bisa membuat aku berpaling dari semua lelaki tak nyata ini, ya Allah. Jadikan hidupku bersama dia lebih indah dari fiksi mana pun, ya Allah. Shit I was a hopeless romantic and I lowkey wanna slap the fuck out of my old self for being so fucking naive.

Sekarang? Jelas masih halu. Tapi halunya agak tahu diri sih kayaknya. Dulu saya menempatkan fiksi itu semacam masa depan, tapi sekarang? Ya sudah, tempat kabur. Semesta yang lain yang bisa saya lompati portalnya sesuka hati kapanpun saya mau. Saya pernah baca artikel yang bilang gini: "It's not because Netflix is interesting. It's because our lives aren't," dan saya berasa digampar. Pahit banget rasanya tapi memang betul. Fictional world is a form of escapism for me, like a warm blanket that gives me a little comfort before waking up in the morning to face this mundane, uninteresting life. Sudah lewat masa-masanya untuk saya bermimpi punya apartemen mewah dengan dinding kaca menghadap pemandangan gemerlap kota metropolitan, atau punya pasangan laki-laki paket lengkap; tampan, kaya, baik hati dan tidak pro-patriarki. Mimpi memang enak, tapi pas diwujudkan kadang cuma bikin pusing. Ibarat punya gebetan yang tidak terlalu kenal banget tapi begitu kenal hancur sudah segala imaji dan ekspektasi. Karena emang pada dasarnya, beberapa mimpi memang udah sepatutnya dibiarin jadi mimpi aja tanpa perlu ada hebeh-hebeh aksi.

Kamis, 07 Mei 2020

Arson


Aku masih menelisik tanah
Menyela-nyela rambat dan akar
Kulit jemari mengelupas

Karena bau parfummu masih menyelimuti
Hingga aku tak henti mencarimu utuh
Di antara tubuh penuh lepuh

Rabu, 06 Mei 2020

Rooftop (Part 1)

We both are afraid of the ground
but we can not escape
because flying means falling,
and we can not afford being seen
So here we are,
lying on this cold, hard cement
Your hands hold mine,
my lips seal yours,
what an endless beating.
Naked and scared,
we are fucking.

“Just stop... calling. Please,” sergah perempuan itu dengan suara bergetar. Ia mematikan teleponnya dan melemparnya ke tempat tidur.

Perempuan itu menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamar. Matanya panas.

Setengah berlari, Ia membuka pintu menuju balkon, berjongkok, lalu menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak, memaki, sambil memeluk dirinya sendiri seakan tubuhnya akan hancur jika tidak dipegangi. Perempuan itu tidak pernah menangis sehebat ini.

Setelah beberapa saat, tangisnya mereda. Kepalanya rasanya sakit sekali. Ia bangkit perlahan, tangannya memegang erat pagar balkon, menopang tubuhnya yang kehilangan tenaga. Ia lalu mengusap wajahnya yang basah. Pandangannya masih buram karena air mata.

“Kamu kenapa?”

Terkejut, perempuan itu menoleh cepat ke sumber suara.

Di atap rumah penuh jemuran berjarak 4 meter dari balkonnya, duduk seorang laki-laki. Tangannya memegang entah pensil atau pulpen. Kertas-kertas berserakan di sampingnya.

Laki-laki itu masih menatapnya penasaran, menunggu jawaban.


(to be continued)

Selasa, 05 Mei 2020

Di Bawah, 6 Kaki

Aku menggali tanpa henti,
nanar kutatap batu menggores dan menyayat buku-buku jari
Lalu aku menggaruk,
panas dan gatal jadi satu, merah dan darah meruah
Merayap menahan sesak, mengambang di antara riak, tertawa hingga muak
Jasadku sudah rusak,
         tapi mengapa rasanya masih pengap?

Senin, 04 Mei 2020

Kamu Kecil, tapi di Depanmu Kami Macam Kurcaci Kerdil

Rapuh, rapuh lalu meluruh. Aku ini lelah dengan peluh. Tapi kamu masih saja menyuruh-nyuruh
Sudah yuk? kataku pelan. Kita sisihkan tulangnya pelan-pelan. Aku tidak ingin dia kelaparan lalu menghilang
Kamu, bintik bintik kecil merambat menaiki sela-sela kuku
Tak terlihat lalu terjun bebas
Terjembab itu tak perlu jatuh, katamu. Bisa saja karena memang maunya begitu.
Aku mau mati saja, tapi susah sekali dan tidak bisa
Berjuang pun ada batasnya. Bukan hancur namanya kalau dari awal tidak terbentuk dan tidak jelas apa artinya
Sudah yuk, kuajak sekali lagi. Tapi kamu masih asyik bermain di atas arung jeram. Sibuk menombak ikan-ikan, berisik sekali.
Mengalir, mengalir bersama sungai merah berkelok-kelok
Iya, aku tahu kamu lebih sakti dari bedil.
Aku mulai batuk-batuk.
Sudah yuk?
Kamu masih khusyuk.
Sudah yuk?
Kamu menunduk. Lalu aku ambruk.
....
...
..
Sudah yuk?

Minggu, 03 Mei 2020

When the Camellia Blooms: Angin Segar untuk Kita yang Sudah Lelah dengan Harta Tahta Angkara

For me, quarantine means Korean drama series. Seriusan, sejak karantina di mulai saya jadi hampir tiap hari nonton drama Korea. Dari dulu juga nonton, tapi bukan menjadi jadwal keseharian. Biasanya saya menonton dengan sistem binge-watching: menunggu sampai tamat, lalu menonton keseluruhan episode dalam beberapa hari. Tapi kali ini saya rajin membuka situs streaming setiap hari, menonton berbagai judul secara bergantian. Seperti nonton pagi-pagi di hari Minggu, ganti channel kartun lagi-kartun lagi. Menyenangkan.

Nah, ada satu judul yang menyita perhatian saya sejak lama tapi baru saya bisa tonton sekarang. When The Camellia Blooms. Yang membuat saya tertarik awalnya adalah pemeran utama wanitanya, yaitu Go Hyo Jin. Saya sangat suka aktingnya, dan hampir semua drama korea yang Ia mainkan terjamin apik. When The Camellia Blooms sendiri bercerita tentang Dongbaek, seorang single mother yang membesarkan anak laki-lakinya di sebuah kota kecil bernama Ongsan. Dengan status ibu tunggal dan juga pemilik bar, Dongbaek setiap hari menjadi sasaran gunjingan seantero kota.

Selesai nonton pilot episodenya, saya langsung mbatin, pantesan ratingnya tinggi, jebule apik tenan.

Walaupun bermimpi itu gratis, tapi lama-lama rasanya jengah juga. Terutama jika mimpi-mimpi itu didukung oleh gemerlap hedonisme di drama Korea yang sering kita tonton. Seperti sinetron Indonesia, drama Korea juga sebenarnya sangat tipikal. Hampir separuhnya membawa isu yang itu-itu saja: perebutan warisan, kesenjangan sosial yang tanpa ampun sampai kisah cinta para chaebol (istilah untuk pewaris perusahaan besar di Korea) dan upik abu. Karakter di drama-drama Korea macam ini rata-rata hidupnya nyaman, tidak pernah mikir paycheck to paycheck, atau susahnya cari pekerjaan. Tapi sekalinya miskin? Narasinya dibikin seakan miskin betul, padahal ya nggak miskin-miskin amat. Hitung saja berapa banyak adegan ibu-ibu ber-handbag Channel dengan anting macam rentengan ciki menawarkan cek kosong kepada tokoh utama wanita agar dia segera menjauhi anaknya. Iya dong, kebanyakan tokoh wanitanya lah yang lebih papa. Sampai ada judul eksplisit "Rich Man Poor Woman" yang walaupun si ganteng Suho EXO yang jadi pemeran utama, tetep nggak akan saya tonton karena judulnya yang super cringey.

Tapi di When The Camellia Blooms, saya merasa menghirup angin segar. Tokoh-tokoh di drama Korea ini tidak bergelimang harta, tapi tetap bisa makan kenyang sampai lega. Tidak sedih karena dibuat tidak merana, ibarat rezeki yang pas-pasan alias pas butuh ada. Dan yang paling menyenangkan? Mangan ra mangan ngumpul. Sama-sama menderita, tapi setidaknya bersama-sama. Berlatar kota kecil yang jauh dari lifestyle kaum urban yang toxic, drama Korea ini sangat dekat dan apa adanya.

Yang kedua, saya sering sekali melihat tokoh wanita drama Korea yang dependen dengan tokoh pria. Sekalinya independen atau berdaya, pasti dia harus cantik, sukses, dan kaya. Lengkap, macam sudah paketan dari sananya. Walaupun ada beberapa contoh langka tapi tetap saja kebanyakan default-nya seperti itu. Nah, When The Camellia Blooms ini termasuk ke dalam contoh langka dan menarik. Walaupun Dongbaek cantik dan pintar (lebih ke streetmart daripada booksmart, and I love that so much), Dongbaek tidak kaya. Ia hanya pemilik bar di kota kecil yang harus membesarkan anaknya. Tidak hanya itu, Dongbaek harus sabar setiap hari menghadapi gunjingan tetangga, apalagi sejak Yong Shik sang putra desa yang dibesarkan oleh seluruh warga Ongsan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Dongbaek. Menjadi orangtua tunggal sudah berat, ditambah menjadi objek kesinisan masyarakat. Tapi semakin jauh, karakter Dongbaek beneran ditempa menjadi sangat kuat. Saya tersenyum lebar sekali saat menonton karakter Dongbaek yang berkembang perlahan tapi pasti. Lebih kerennya lagi, tidak seperti kebanyakan drama korea yang cuma fokus pada perkembangan karakter beberapa tokoh utama, When The Camellia Blooms ibarat menempatkan Dongbaek sebagai sentral yang menyebarkan sinyal ke seluruh penjuru Ongsan. She grows, and the whole town grow with her too.

Singkat kata, drama korea ini memotret lingkup masyarakat di kota kecil yang walaupun tidak sempurna, namun tetap familiar dan hangat. Tidak perlu ada gedung pencakar langit atau ketukan high heels di lantai marmer. Di Ongsan, kue beras dan soju saja tampaknya sudah cukup membuat kita bahagia.

Sabtu, 02 Mei 2020

Tentang Hidup Sendiri

Saya hidup di asrama selama hampir 12 tahun. Hidup dikelilingi orang, tidur tak pernah sendiri, minim privasi dan yang paling sering; saya tidak bisa "merasa" sendiri. Ekspresi saya mau tak mau selalu terpampang untuk diamati. Terlalu terbuka, selalu berisik. Apa itu personal space? Saya bahkan tidak punya tempat untuk sekedar menangis tanpa terganggu karena kamar mandi asrama tidak ada yang kedap suara.

Oleh karena itu saya benar-benar menghargai kesendirian. Saat teman-teman sekamar saya pergi, saya memilih berdiam di kamar, menikmati hari tanpa celoteh walaupun hanya untuk beberapa jam. No, I don't hate them. Saya bahkan suka sekali mendengarkan celoteh ngalor-ngidul atau perdebatan mereka yang berakhir tanpa kesepakatan. Dari mereka, saya belajar betul bahwa hidup kadang tidak butuh konklusi. Tapi saya juga tidak bisa bohong, bahwa memiliki tempat sendiri tanpa dibatasi lebar lemari sepertinya menyenangkan.

Beberapa bulan lalu saya akhirnya bisa mewujudkan aspirasi tinggal sendiri dengan pindah ke kos-kosan karena ada program pengayaan bahasa yang harus saya ikuti. Satu tempat dengan teman saya, kamar bersebelahan. Saya masih ingat betapa semangatnya saya saat belanja pretelan-pretelan kosan seperti rak, rice cooker, seprai, dll. Saya menata kamar saya, merapikannya hampir setiap jam, berjam-jam scrolling situs belanja online untuk memasukkan barang-barang lainnya ke dalam wishlist. Ternyata begini rasanya mengontrol ruang hidup untuk diri sendiri. Seru.

Karantina yang dimulai sejak bulan lalu menjadi pengalaman baru saya selama tinggal sendiri. Awalnya, saya pikir hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena alih-alih menjadi momok, mendekam di tempat tinggal masing-masing adalah anugerah bagi seorang homebody seperti saya. Saya pikir, semua akan baik-baik saja.

Selanjutnya eedaran larangan mudik terbit. Walaupun saya ditendang keluar rumah untuk merantau sejak lulus SD, saya tidak pernah melewatkan lebaran tanpa keluarga. Rasanya berat, tapi saya lebih khawatir dengan ibu dan adik saya. Kami hanya bisa menelpon, saling menguatkan satu sama lain. "Kamu kuat, kok," kata Ibu saya. Saya pikir, semua masih baik-baik saja.

Sampai beberapa hari kemudian, teman saya mengatakan Ia harus pulang ke daerah asalnya. Sebelumnya memang Ia berencana bersama saya berlebaran di sini, mengingat larangan mudik sudah berlaku masif hampir di semua daerah. Tapi ternyata keluarganya memutuskan untuk menjemputnya dan membawanya pulang. Praktis, tinggal saya satu-satunya penghuni kosan karena penghuni lainnya sudah pulang bahkan sejak pengumuman kuliah online diterbitkan.

Ini baru, sungguh baru. Saya tidak menyangka Tuhan sebegitu senangnya mengabulkan permintaan saya dahulu sampai saya benar-benar ditinggal sendirian.

"Ah, gakpapa lah! Udah gede ini," pikir saya dulu. Menguatkan diri sendiri. Menenangkan diri sendiri.

Hari pertama hidup (benar-benar) sendirian saya rasa masih baik-baik saja. Menjelang malam, saya langsung kunci kamar dan mendekam di dalam. Saya takut setan, tapi lebih takut manusia yang bisa lebih kejam dari setan. Saya sampai beneran mengikuti nasihat Ibu saya untuk menyetel murottal quran setiap malam. Persetan dengan teman-teman yang meledek saya karena melihat friend activity saya di Spotify mendadak religius. Saya butuh tenang.

Hari kedua, seraya makan bayam rebus dikasih bumbu kacang karena saya tidak bisa masak sama sekali, tangis saya pecah tak karuan. Saya takut, sedih luar biasa, merana ingin pulang. Saya juga kesal kenapa saya bisa selemah ini. Saya berkali-kali berkata, "Jangan cengeng, nanti kamu mati juga sendiri!" tapi tangis saya tidak juga berhenti. Saya baru menyadari bahwa hidup sendiri tidak seenak yang saya pikirkan dulu. Saya terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir. Waktu luang yang dulu saya cintai sekarang saya benci habis-habisan. Masa-masa gila ini sudah cukup menyiksa dilewati bersama-sama dan saya malah sok kuat merasa mampu melewatinya sendiri. Tolol betul.

Sekarang saya bisa apa? Cuma mengais sisa-sisa kesadaran, berusaha tetap waras dan tidak gila. Menghubungi teman-teman saya sesering mungkin. Mengirim foto-foto tidak jelas di grup WhatsApp keluarga inti, menantikan balasan dari Ibu saya yang penuh dengan typo dan dobel spasi. Ada yang bilang hal yang paling menyedihkan adalah saat kita di tengah keramaian tetapi masih merasa kesepian. Omong kosong. Kesepian dalam keadaan sendirian jauh lebih menyiksa.

Betapa saya rindu keramaian. Walaupun jatah makan terbagi-bagi dan tidak punya waktu untuk diri sendiri, setidaknya dengan bersama-sama, semua rasa juga terbagi rata.

Jumat, 01 Mei 2020

Biru di Citadel

Aku pernah bertanya kepada bahu yang lelah
lunglai terhisap waktu dan amarah
"Mengapa tidak pergi saja?"
Dia menyandarkan dirinya sejenak
matanya mendelik, pekat dan mengkilat
"Mengapa kau berbisik?" tanyanya pelan.
Berdebar, kusentuh bara api di rambutnya.
"Ku tak ingin kau terusik."
Makin lirih, makin perih.
Sudut bibirnya terangkat
kelabu, pucat, dan kaku
"Kau sehitam lumpur, dia sehijau racun, dan aku biru, sebiru langit penuh serapah dan kutukan.
Lalu ada kuning, cerah cemerlang. berlumur emas yang dicuri dari anak haram yang kelaparan.
Berwarna, penuh dengan noktah perbuatan.
... Tak ada yang transparan, Lazlo."
Hanya dengan namaku,
lalu tiba-tiba dia ada di mana-mana,
dan aku tidak ingin ke mana-mana.
"Kita semua sama, hanya berbeda dosa."


(Inspired by Laini Taylor's Strange The Dreamer)