Selasa, 18 April 2017

Halu Part 1 (Park Seo Joon)

👩 : Gimana latihan bansernya, Hon? Capek?
👨 : *picture sent* Ni lagi istirahat.
 
👩 : *picture received* Semangat, semangat. Nanti pulang aku sambut pake martabak.
👨 : Sama tongseng kambing
👩 : Eh kambing itu banyak koles—
👨 : Pokoknya tongseng.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

👨 : Kamu masih nyari apa lagi?
👩 : Ini lho kain batik buat Ibuk belum kebeli, sama baju koko buat si Iqbal.
👨 : Tapi aku laper, Hon. Makan dulu yuk. Baju koko si Iqbal mah nanti aja belinya di grosir Makatib depan komplek
👩 : Tanggung ih. Sabar nah. Yang mau ikut tadi siapa coba?
👨 :


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

👩 : Itu makannya udah disiapin, kamu makan dulu abis itu langsung mandi, siap-siap.
👨 : Lho, kita mau ke mana?
👩 : Katanya kamu mau nemenin aku beli lingerie baru? Jadi nggak?
👨 :


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

👩 : Yang, abis ini mampir ke PS bentar yah.
👨 : Hah, mau ngapain?
👩 : Nggak pengen cepet nyampe rumah aja. Jarang loh kita pulang cepet, jalan-jalan dulu aja oke?
👨 : Curiga aku. Ini di Mango lagi ada diskon ya?


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


👨 : Hon, nanti temenin aku nonton bola ya.
👩 : Iya
Keesokan paginya...
👨 : Yang bilangnya mau nemenin nonton bola tapi tidur duluan siapa ya?


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

👩 : Hon, bangun, Hon, udah siang. Dzuhur dulu. Abis subuhan jangan dibiasain tidur lagi kamu tuh. Kebo banget.
👨 : Hoahm... Jam berapa sekarang?
👩 : Udah jam setengah dua.
👨 :


Senin, 17 April 2017

Kaca Film

Hari ke-35
 
Kau berangkat agak pagi hari ini.

Tas kesukaannmu kau selempangkan di bahu kanan. Berjalan perlahan, tanganmu berayun seirama langkahmu, dengan jari-jari yang kau gerakkan seakan-akan kau sedang memainkan piano. Pandanganmu lurus ke depan, bibirmu membuka dan menutup.

Kau sedang bernyanyi. Kau memang selalu bernyanyi.

Hari ke-47

Aku menggeser mangkuk kecil di depanku. Tanganku menyentuh kaca. Lapisannya dingin. Terlalu dingin untuk ku bisa membayangkan betapa hangatnya sinar matahari jam 8 pagi yang berkilau di rambutmu.

Rasanya makin dingin. Bahkan kaca pun ikut mencemooh anganku untuk menyentuhmu.

Hari ke-72

Ini sudah hampir jam 10 pagi. Kau kemana?

Dengan nanar ku menatap jalan setapak yang selalu kau lewati. Sepintas kulihat gerakan di sudut mata. Aku bisa merasakan mataku membesar dengan penuh harap, hanya untuk melihat bahwa itu bukan kau.

Begitu terus, berulang kali, sepanjang hari ini.

Hari ke-79

Rasanya kesal sekali. Kau lewat begitu saja, nyaris berlari. 7 detik itu waktu yang terlalu sebentar untuk ku yang sudah menunggumu selama 7 hari.

Kutendang mangkuk kecil didepanku. Isinya berhamburan kemana-mana.

Hari ke-86

Kau di sana, dengan rambut yang agak berantakan dari biasanya. Sambil berjalan, kau repot merapikan bajumu yang kusut. 

Lalu hal itu terjadi. Kau menatapku.

Kau menatapku sambil menyisir rambut dan mengancingkan kancing pertamamu yang terbuka. Kau menengok ke kiri dan ke kanan, lalu mengambil sesuatu di tas kecilmu. Kau pulas bibirmu di depanku. Refleks, kuangkat tanganku, seakan menyentuh bibirmu.

Rasanya masih dingin.

Hari ke 91
 
Aku mendengar derap langkah di belakangku. Aku merasa tubuhku terangkat, diletakkan di pangkuan. 

“Kenapa kamu selalu nangkring di jendela sih tiap pagi?” tanyanya seraya mengusap-usap punggungku. Aku mengalihkan pandanganku, kau sudah pergi.

Aku menatap kaos putih yang sedang dikenakan oleh sang pemberi makanku. Lalu aku menatap tangannya yang sekarang beralih mengusap-usap daguku. Lalu bahunya. Lehernya. Matanya.

Tuan, aku mohon, setiap pagi, bukakan jendela ini untukku. Hanya setiap pagi.

“Miauw.”

Hanya itu yang bisa kukeluarkan dari mulutku. 

Ia tersenyum walau aku tahu Ia tidak paham ucapanku. Sama sekali.