Sabtu, 23 Mei 2015

A Walking Paradox

Depok beach, May 23rd 2015

Di jalan berdebu yang kupikir akan menuju kamu, aku tak tahu harus menyesal atau bersyukur.

Yang aku tahu, rasanya tidak nyaman, terlalu banyak harapan.

Dadaku seperti tamborin yang dipukul, menghentak-hentak, memacu derasnya aliran darah.

Konyol! makiku jengkel, mengutuk skenario tabu nan pilu yang tak hentinya membayang.

Tapi saat di ujung jalan tak ada kamu, mulutku kaku, bimbang luar biasa.

Tersenyum dan meringis pada saat yang bersamaan rasanya lebih perih daripada yang kuduga.

Maka, sudut bibirku mulai berkedut, lalu aku pun tertawa.

Keras, lantang, penuh luka.

Sial.

Hatiku ternyata tak mau mati rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar