Senin, 13 April 2015

Penyayang

Pada akhirnya mungkin kau hanya akan jadi penyemangatku ketika terpuruk, pembawa senyum ketika gelisah, penabur mimpi saat ku tertidur, dan pemberi kasih ketika sepi melanda.

Pada akhirnya mungkin aku bukan lah orang yang tepat untukmu, karena saat mereka bilang, “Kau jatuh cinta pada orang yang tepat jika orang itu mengubahmu menjadi lebih baik”, aku tahu, dengan rasa sakit yang berdarah-darah karena masih bisa kuingat jelas saat pertama kali menyadarinya, bahwa aku mungkin sudah jatuh cinta dengan orang yang tepat, tetapi kau tidak.

Pada akhirnya mungkin kau tidak akan pernah mencintaiku. Kau hanya seorang penyayang.

Gambar diambil di sini

Minggu, 29 Maret 2015

Benang

Aku tak pernah memimpikan kamu.
Kamu bergerak terlalu cepat.
Tanpa membayang, jauh dari tangkapan.
Bagai kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya perlahan lalu pergi lagi, seakan menggoda agar aku terlena.
Tetapi aku mundur, tahu diri, tak mau berangan terlalu tinggi.
Melanjutkan hari, menempuh belantara sepi sendiri.
Lalu semesta memainkan perannya perlahan dalam diam.
Mengejutkanku tanpa persiapan, terpaku pada benang milikku dan milkmu yang entah mengapa bisa bertautan.
Ya, itu milikku. Tipis, rapuh, dengan sisa upaya berusaha mengaitkan harapan.
Tetapi... Ini bukanlah sesuatu yang kita rencanakan bukan?
Aku hanya menjalankan lelucon Tuhan, sambil diam-diam meringis, sambil kadang-kadang menangis.
Bodoh? Aku sendiri pun tahu.
Namun aku bersyukur bahwa setidaknya kau masih berkenan membagikan senyum harga sejuta milikmu itu.
Bersyukur bahwa bagaimanapun, kau sudah membuatku tertawa lepas tanpa ragu.
Pikirku, layakkah bagiku untuk tenggelam di sepersil surga artifisial ini?
Detik itu juga, hatiku seakan langsung menyahut, "Setelah jutaan luka-luka kecil di dalam sini, ini adalah jawaban dari doa-doamu selama ini."
Hey, ternyata otakku tidak terima, Ia gandeng kemarahan dan rasa kecewa, bersama-sama berunjuk rasa.
"Jawaban doa macam apa yang selalu membiarkanmu menunggu?!" kata mereka.
Entahlah.
Tapi toh bagaimanapun, benangku masih menautkan dirinya, belum mau lepas, belum ingin tuntas.
Ia acuhkan pertengkaran antara otak dan hati, bertahan dengan sisa daya yang ada, walau letih.
Lalu aku menyadari...
Mungkin saat aku mulai membuat alasan untuk sikapmu yang membuatku berasa ingin mati saja, saat itu lah aku benar-benar mengerti...
Aku memang butuh kamu.

Sabtu, 21 Juni 2014

God Saves The Best For Last

Ada saat dimana aku sudah lelah berjuang, membenci kamu, memaki kamu di setiap napas yang kuhirup, berdoa supaya nanti kamu akan merasakan sakit yang sama.

Tetapi ada juga saat dimana aku sabar menunggu kamu dan berdoa untuk kebaikanmu, mengharapkan kamu datang dengan hanya sekedar sapa dan ucapan apa kabar, membuaiku kembali dengan ucapan bahwa kamu masih menginginkan aku, sehingga aku bisa tersenyum senang dan menipu diri sendiri.

Ada saat dimana aku bahagia hidup tanpamu, dengan senang hati membuat kenangan baru dengan orang-orang yang tulus bersamaku bahkan sebelum ada kamu, menjalani hari dengan berjuta harapan akan cinta yang lebih baik, akan cerita yang akan kuukir dengan dia yang telah ditakdirkan untukku, yang dengan hanya bersamanya lah aku mampu membangun surgaku sendiri.

Tetapi ada juga saat dimana aku berhenti tersenyum saat namamu muncul tiba-tiba entah dimana, saat melihat kamu bahagia dan menyadari bahwa aku belum bisa seikhlas itu, saat dimana aku berpikir bisa-bisanya aku dengan mudahnya menerima dan berasumsi bahwa aku bisa bersama orang lain saat aku tahu bahwa luka darimu masih belum bisa kusembuhkan.

Apa kamu tahu bagaimana rasanya mempunyai tombol perasaan yang tidak bisa dikontrol sama sekali? Rasanya menatap ke depan tetapi juga tak bisa lepas dari cengkraman masa lalu? Rasanya membencimu sekaligus mencintaimu? Rasanya berusaha melupakanmu tetapi juga berjuang mempertahankanmu untuk tetap di hidupku?

It’s funny when I try hard to move on but at the same time, hold on.

Hanya Tuhan yang tahu betapa hebat perang dalam diriku ini, antara memaafkan kamu atau mendoakan segala hal yang terburuk di dunia ini menimpa kamu. Dan juga hanya Dia yang tahu bagaimana aku bisa mempunyai energi untuk mencintai sekaligus membenci seseorang sampai sebesar ini.

Kamu tahu? Kamu penghancur terindah yang pernah kutemui.

Tapi di antara semua lelucon Tuhan yang tak henti-hentinya membuatku tertawa dan menangis di saat yang bersamaan, aku masih punya pendirian untuk tidak memberikanmu kesenangan untuk menyiksaku. Aku masih punya keyakinan bahwa Dia terus mengujiku dengan kehadiranmu agar aku bisa mempersiapkan diri untuk bertemu takdirku, membuatnya bangga karena semesta sudah menyiapkan untuknya wanita sekuat aku. Lelucon Tuhan memang tak pernah henti membuatku sengsara, tetapi aku yakin rencana-Nya nanti akan membuatku menangis saking bahagianya.

Jaga dirimu dari aku, dari kita. Aku juga sedang menyelamatkan diriku sendiri dari kamu. Apa yang pernah kita bangun selama ini tidak sia-sia, tetapi hanya layak untuk dijadikan pelajaran. Bahkan jika kemungkinan dan harapan entah bagaimana masih ada, akhirnya kita hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Berbahagialah. Disini aku sedang menuju kebahagiaan yang lebih baik.


Yogyakarta, 20 Juni 2014. 19:40

Senin, 26 Mei 2014

Choice

Dua jam ini aku hanya duduk termangu di depan kaca yang menghadap halaman rumahku. Memikirkan hal yang belum tuntas, yang masih menggantung di kepalaku. Berbagai pertanyaan berceceran di benakku. Bagaikan sengatan lebah yang tak henti menyengat, pertanyaan pertanyaan itu pun memukul kesadaaranku berkali-kali.

“Ra!”

Aku menolehkan kepala dan kulihat tunanganku tersenyum, lelaki yang 3 hari lagi akan kunikahi.

“Aku cari-cari kamu dari tadi. Kamu dipanggil ibu, Sayang, kita dipinta cek progres di tempat resepsi,” ujarnya sambil tersenyum.

Kupandang laki-laki yang sedang berjalan ke arahku itu. Tidak pernah sekejap pun ia berlaku kasar. Tampan, berwibawa, dewasa, dengan trust fund yang akan membuat perempuan manapun iri kepadaku. 10 tahun terakhir ini kami sudah saling mengenal. Seperti sudah ditakdirkan sejak lahir, after a countless smiles, hugs, laughs, fights, and obtacles, we're finally sure that we could make it work dan memutuskan untuk menikah. Hanya Tuhan yang tahu betapa besar aku mencintainya, tetapi juga hanya Tuhan yang tahu betapa keras dan betapa gagal usahaku selama ini untuk menyingkirkan masa lalu.

Ia berdiri di belakangku, merangkulkan tangannya di sekelililng pundakku dan mencium puncak kepalaku. “Kamu lagi mikirin apa, Sayang? Kok ngelamun aja kayaknya dari tadi?”

Aku tersenyum, mendongakan kepala. “Gapapa, Cinta. Cuma lagi mikirin, nanti kita bulan madu dimana? Udah H-3 dan kamu juga masih nggak mau ngasih tau aku. Itu kejam, tau.”

Dia tertawa. Ah, that laugh. “Oalah, kalau soal itu, maaf banget ya, Sayang. Sampai nanti kita di sana aku nggak akan jawab soal itu.”

“Fine. Don’t talk to me, then. Sana jauh-jauh! aku lagi dipingit!” Ujarku galak.

“Emm... Ngambek ini ceritanya?” Ujarnya sambil tertawa. Ia melepaskan rangkulannya, berjongkok di hadapanku dan meletakkan tangannya di pangkuanku. “Terserah kamu deh mau ngambek sampai kapan, tapi jangan ninggalin aku pas ijab-kabul ya, Yang. Aku udah nunggu 10 tahun untuk momen 3 hari lagi dan aku juga nggak mau hidup tanpa kamu,” katanya lalu mencium ujung hidungku.

Laki-laki dan kata-katanya, ya Tuhan.

“Idih, cheesy banget kamu, Yang!” kataku sok cool tetapi dengan pipi merah luar biasa. “Nggak bakal lah, Sayang,” tambahku dengan tersenyum.

Lalu kami tertawa bersama.

Hidup denganmu akan membahagiakan dan aku bahkan bisa melihatnya dari pantulan matamu, Za. Tetapi mengapa aku tak bisa balik kanan dengan sempurna dari masa laluku?

***

Sebaris pesan di ponselku langsung membuatku terdiam.

Starbucks sarinah, 5 pm. Please, Ra. We need to talk.

Crap. Keep screwing me up, Al. Just keep screwing me up.

Kubiarkan pesan itu, lalu memasukkan ponsel ke dalam handbag. Fokus menatap ke depan jalan, pura-pura tak ada hal yang penting dari pesan itu.

Tapi lelaki tercintaku itu terlalu mengenalku, ternyata.

“Siapa, Ra? Algi, ya?”

Oh, shit.

“Well...”

“I know you too well, Honey. So just tell me,” jelasnya sambil —ya Tuhan— tersenyum. Ini masa laluku dan aku masih belum bisa lepas darinya, Za, kenapa kamu terlalu baik kepadaku?

“Eumm... Iya, Za. Ngajak ketemu nanti sore. Biarin aja lah, toh aku juga nggak bakal dateng.”

“Kamu harus dateng, Ra.”

What?

“Nggak usah lah, Sayang. Ngapain juga, lagian aku juga nggak mau. Apa banget sih kamu,” ujarku defensif. Ini aku tunangan dengan malaikat atau gimana sih?

Ia menepikan mobil, lalu memegang tanganku dan berkata, “Ra, aku dan kamu tahu ada yang belum selesai antara kamu dan dia.”

“Udah selesai, Za. Bener-bener selesai! Besok kita nikah! Kamu lupa?”

“Nggak mungkin aku lupa hal itu, Sayang. Itu hal yang udah aku tunggu-tunggu selama hampir sepertiga hidup aku, tapi kamu tahu nggak?”

“Apa?”

“Aku nggak mau nanti, pas kita udah menikah, kamu tersiksa rasa bersalah karena nggak bisa ngeluarin Algi dari pikiran kamu. Aku udah kenal kamu selama 10 tahun, Ra, dan harus mengenal kata ‘kalian’ tanpa aku terlibat di dalamnya selama 3 tahun terkutuk itu dan aku tahu gimana sayangnya kalian satu sama lain dulu. Aku nggak perlu diyakinin lagi, aku tahu kamu cinta sama aku sekarang dan aku juga lebih cinta sama kamu. Tapi diri kamu, diri kamu sendiri yang perlu diyakinin, Ra. Kamu yang harus menyelesaikannya. Aku nggak bisa ngebiarin kamu nggak bahagia di pernikahan kita. Makanya, nanti sore kamu dateng ya, dan selesaikan benar-benar.”

Karena itu aku mencintaimu, Mirza Adriansyah, karena itu aku ingin menikahimu. Karena kamu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri.

“Kamu yakin?” tanyaku.

Tidak ada keraguan sama sekali di matanya saat ia menjawab, “Yakin.”

“Well... Okay. But, Honey, can I ask you something?”

“Anything, Darling. What?”

“Kamu tu nggak pernah cemburu atau gimana sih?”

Dia tersenyum dan berkata, “You know, Ra? Aku mengerahkan segenap kesabaranku untuk nggak membayangkan Algi sebagai kaca mobil ini dan meninju-nya sampai pecah berkeping-keping.”

***

Dia melambaikan tangan, mengisyaratkan agar aku menghampirinya. And there he is, Algi Anggara, charming as always. The one who has messed with my head so much even now, after 7 years, since the last time we said “I love you” to each other.

“Apa kabar, Ra?”

“Baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri?”

“Fine. Duduk, yuk.”

Aku duduk dan meletakkan handbag-ku di pangkuanku. Pandanganku tertumbuk pada dua Frappucinno di atas meja.

“Aku sudah mesenin kamu Frappucinno favorit kamu, with extra cream on top. Seperti waktu kita sering bareng dulu. Gapapa kan?”

“Gapapa kok,” ujarku sambil tersenyum. Dan izinkan aku untuk membayangkan betapa puasnya tampangku saat aku menyiramkan Frapucinno itu ke muka kamu, Algi Anggara.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa mempunyai energi untuk membenci orang sampai sebesar ini.

“Uhm, so... Tomorrow you’re going to get married, huh?” tanyanya.

“Yep. Undanganku udah nyampe kan?” Dan scene saat aku marah-marah kepada Mirza karena telah mengundangnya berkelebat di kepalaku.

“Udah, kok. But, well, I still couldn’t believe it.”

“Believe what? Bahwa aku akan menikah? I’m already 27, Al. Masa iya aku nggak nikah-nikah?” kataku sambil tertawa kecil.

“Bukan, bukan itu.”

“Apa dong?”

“I still can’t believe that you’ll get married, but not with me.”

The ego on you, Man. Minta disiram banget ni laki-laki satu, asli.

“Oh come on, Al. Life runs, people change. You can’t have everything you want. This is me and I’m happy with him.”

“Really?”

Menurut lo, mas?

“Iya, Algi. Aku bahagia sama Mirza. Dan aku yakin ingin menikah sama dia,” kataku mantap. Bangga terhadap diriku sendiri karena aku bisa mengucapkan hal itu dengan mudah di hadapannya. “Kamu sendiri kapan nikah? Undang aku sama Mirza lho, jangan lupa.”

Dia tertawa kecil, “Belum, Ra, dan klo kamu nanya itu sebelum kamu memutuskan nikah sama Mirza, mungkin jawabannya bakal beda,” balasnya sambil menatapku.

Wanna get your mojo on me, Man? Don’t waste your time, I won’t buy it.

“Algi, berhenti main-main, udah waktunya buat kamu settle down dan membangun rumah tangga,” kataku.

“How can I be settled down if since we broke up I couldn’t be serious with any women?”

Mungkin karena itu aku membencimu terlalu parah, Algi Anggara, karena kamu mengatakan itu padahal saat kita bersama kau tak pernah menunjukkan kesungguhanmu. Tetapi mungkin karena itu juga kamu terlalu melekat di kepalaku, Al. Terlalu melekat karena kau mengakhirinya terlalu mudah. Terlalu melekat karena kau mengubahku menjadi diriku yang sampai saat ini masih membenci kamu dan tak pernah berhenti menyesali keadaan.

Dan kini, izinkan aku mengakhirinya —I’m quoting Mirza here— dengan benar-benar. Aku mungkin pernah mencintaimu jungkir-balik, Algi Anggara, tetapi aku bersyukur karena aku tahu sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah memilih, dan pilihan itu bukan kamu.

“Anggara, you should know, I came here not because I want to get some flashes back to us. I came here to convince myself that we’re truly end. And yeah, I know that finally we are. You’re still in my mind sometimes but I already had someone who’ll lift me up when I drown in my pain because of you. It’s been 7 years but I think the wound hasn't been healed, Al. It’s been 7 years and I still constantly think why we ended up that way. I hate you so much and still regret how we hurt each other, even now, a day before my marriage. But my life has to run, Al, I have to live my life with or without you. And now I’ve got Mirza by my side, and only God knows how much I love him. I’ve picked my own happiness and I’ll forgive you for everything you’ve done if you also pick yours,” there I just said it. Lega luar biasa.

Ia terdiam, tak mengatakan apa-apa dan hanya memandangku. Tetapi matanya mengatakan segalanya.

“Pikirkan kata-kataku ya, Al. aku mungkin membencimu setengah mati tetapi aku tetap ingin kamu bahagia. Dan saat kamu sudah menemukan dia yang kamu sayang, pastikan kamu nggak akan menyia-nyiakannya seperti kamu menyia-nyiakan aku,” ujarku mantap.

Lalu aku pergi, meninggalkan kenangan dan potongan terakhir nama Algi Aggara dari hatiku.

***

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayara Anjani Musa binti Abraham Musa dengan mahar seperangkat alat sholat dan sebuah rumah dibayar tunai.”

“Sah? Sah?”

“Sah!”

Oh, here comes the tears. Cengeng banget aku ini, tapi tak ada yang lebih membahagiakan daripada kenyataan bahwa kau telah menyempurnakan sebagian agamamu, bukan?

Lalu aku menatapnya. Laki-laki itu, yang tadi mengucapkan ijab-kabul dengan mantap dan sempurna. Laki-laki itu, yang sekarang menatapku penuh rasa syukur, dan dunia pun tahu betapa aku sangat bersyukur memiliki ia sebagai suamiku.

“I love you, Mrs. Mirza Adriansyah,” ucapnya sebelum ia mencium keningku. Gosh, I’ve never known that calling could be that sexy!

“I love you too,” balasku. Kali ini tanpa ragu. “Sekarang boleh aku tau kita bakal bulan madu dimana?”

“Kan aku udah bilang, kamu nggak bakal aku kasih tahu sebelum kita sampai sana,” jawabnya sambil tersenyum jahil.

“Tuh kan,” responku. Makin penasaran saja aku jadinya.

“Tebak dong,” godanya.

“Emm, kemana ya? Yaudah lah, kemana aja, yang penting bareng kamu,” ujarku.

Lalu ia tersenyum lebar, senyum menenangkan hati yang sudah memenangkan hatiku sejak awal, hanya saja saat itu aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. “Klo gitu kita bakal bulan madu sepanjang hidup kita dong?”

“Yep. That means forever," jawabku. Lalu aku menciumnya.

And the rest is history.

***

“One day, someone will walk into your life and make you see why it never worked out with anyone else.” — Anonymous



Yogyakarta, Mei 24 05.10 am







Gambar diambil disini

Rabu, 12 Maret 2014

(Review) Unwind – Pemisahan Raga by Neal Shusterman


Judul: Unwind – Pemisahan Raga (Unwind Dystology #1)
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 456 halaman

RUU Kehidupan
Perang Sipil Kedua, yang juga dikenal sebagai
“Perang Heartland,” merupakan suatu konflik berkepanjangan
dan berdarah-darah yang mempertentangkan satu isu.

Untuk mengakhiri perang, serangkaian amandemen
konsitusional yang dikenal sebagai ‘RUU Kehidupan’
disahkan.

RUU ini memuaskan kedua belah pihak, pasukan Pro-
kehidupan dan Pro-pilihan.

RUU Kehidupan menyatakan bahwa kehidupan manusia tak
boleh disentuh sejak masa pembuahan hingga seorang anak
mencapai usia tiga belas tahun.


Namun, antara rentang usia tiga belas dan delapan belas,
orangtua boleh memilih untuk secara retroaktif
‘menggugurkan’ seorang anak…

…dengan syarat hidup anak tersebut tidak ‘secara teknis’
berakhir

Proses seorang anak diterminasi tapi tetap hidup disebut
Unwinding—Pemisahan Raga, dan anak itu disebut Unwind.

Saat ini, Pemisahan Raga merupakan hal yang lumrah dan
diterima dalam masyarakat.

Baru selesai baca novel ini tadi malem.
Ya, disaat teman-teman yang lain megang LKS Bahasa Arab untuk UAMBN, saya dengan watados-nya baca ini.
Pertama kali liat cover-nya first impression saya bilang klo saya nggak bakal suka, ya wajar sih, thriller is not my thing. Tapi karena lagi frustasi-frustasinya pengen baca novel, saya kesampingkan first impression saya tadi dan mulai ngebaca.
Eh, ternyata malah nggak bisa berhenti.
Modelnya tu kaya "Hunger Games"-nya Suzanne Collins, dimana hukum yang dibuat di suatu negara bukannya memperbaiki dan menghargai kemanusiaan, malah menghancurkan dan menyia-nyiakannya.
Cerita awal dimulai dengan satu halaman yang berisi transkrip "Undang Undang Kehidupan", dimana dalam cerita itu terdapat perang yang bernama Heartland War antara dua kubu yang Pro-Kehidupan dan Pro-Pilihan. Pro-Pilihan ini maksudnya pilihan untuk mengakhiri hidup orang lain, contohnya aborsi.
Karena perang berkepanjangan dan nggak berhenti-berhenti, maka dibuatlah konstitusi yang memuaskan kedua belah pihak, dimana masa hidup manusia dari umur 0 sampai 13 tahun sama sekali tidak boleh diganggu gugat. Tetapi, antara umur 13 sampai 18, dalam masa itu, para orangtua berhak menyerahkan anak-anaknya ke pemerintah.
Untuk apa? Untuk menjalani pemisahan raga atau Unwinding. Anak yang menjalani pemisahan raga disebut Unwind. Pemisahan raga disini adalah memisah seluruh aspek anatomi anak tersebut (baca: organ-organnya dipisah) untuk di-donorkan dan diperjualbelikan.
"Jangan takut, bagaimana-pun kau akan tetap hidup, hanya dengan cara yang berbeda." - Petugas Sosial Unwinding
Berbeda = Kepisah-pisah. Otak dipake si A, tangan dipake si B, paru-paru dipake si C.
Kesel sendiri jadinya kan.
Yang tambah kesel lagi, ada aja gitu orangtua yang dengan ikhlasnya ngasihin anaknya buat di-unwinding. Cuma gara-gara nakanya nakal, kleptomaniak, atau cuma gara-gara miskin.
Contohnya Connor Lessiter, anak yang selalu menimbulkan masalah, secara tidak sengaja mengetahui kalau orangtuanya telah menandatangani surat perintah untuk memisahkan raganya. Dugaan Connor bahwa kedua orangtuanya tidak tahan lagi dengan tingkah laku Connor sehingga bermaksud untuk memisahkan raganya agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Tapi Connor memutuskan untuk melarikan diri dan bagaimanapun caranya harus bertahan sampai umur 18 tahun, usia yang telah dibebaskan dari Unwinding.
Risa Ward. Yatim Piatu yang tinggal di Ohio State Home 23(StaHo), dipaksa untuk menjalani pemisahan raga untuk mengurangi beban panti asuhan itu. Tapi karena sebuah insiden kecelakaan terjadi, Risa punya kesempatan untuk menyelamatkan dirinya.
Berbeda lagi dengan Lev Jedediah Carler. Dari kecil Lev telah diberitahu oleh keluarganya kalau dia adalah anak yang spesial dan akan dijadikan persembahan. Ironisnya, keluarga Lev yang taat pada agama mereka ini punya beberapa anak angkat yang ditinggalkan di depan pintu rumah mereka. tapi dengan teganya kedua orangtua Lev mengirim anak kandung mereka sendiri untuk menjalani pemisahan raga. Takdir berkata lain, ketika akan berangkat ke “tempat penjagalan”, Lev diculik oleh Connor untuk dijadikan sandera.
Pertemuan tak disengaja antara Connor, Risa dan Lev membuat mereka mengalami petualangan tak terduga.
Secara keseluruhan ni novel keren banget, dimana konflik pelarian, kemanusiaan, dan persahabatan nyampur aduk disitu.
Saya kira ini novel murni thriller, eh ternyata ada romantisme-nya juga, nilai plus banget buat saya yang emang pada dasarnya suka novel romantis. :D
Alur dan gaya bahasa-nya juga dapet banget, Neal Shusterman jago memadukan percakapan yang bikin saya ketawa ngakak tetapi diam dan ngerasa ke-jleb banget hanya dengan membaca baris sesudahnya. Lalu sudut pandangnya yang serba tahu juga ngebantu banget dalam memahami jalan cerita.
Intinya, novel ini bikin 'melek' banget, dari cerita-cerita anak-anak Unwind, yang setiap harinya kayaknya nggak bisa nikmatin hidup karena dia tahu pemisahan raga udah di depan mata.
Emang bisa nikmatin makanan klo yang ada di dalam pikiran cuma "ini mulut gue siapa yang bakal make ya? ini tangan gue buat siapa ya? nanti yang punya lambung gue bakal makan enak nggak ya?"
Mereka nggak merasa memiliki organ-organ tubuh mereka sendiri.
Tamparan banget buat kita, kan? Kita yang hidup nyaman dan cuma kadang-kadang aja inget mati emang udah cukup bersyukur?
"Dengan kehidupan yang begitu penuh peraturan dan sistem, sangat mudah untuk lupa bahwa mereka tetap manusia." – Hal. 122
Credits:
http://ariansyahabo.blogspot.com/2013/09/book-review-unwind-pemisahan-raga-by.html
https://www.goodreads.com/book/show/18274105-unwind---pemisahan-raga.html

Sabtu, 08 Februari 2014

Calon Suami Idaman Itu...


  • Seperti Beno Wicaksono (Divortiare & Twivortiare, Ika Natassa), yang jika kau tanyakan kepadanya tentang masa lalunya, ia akan enggan menjawab karena menjaga perasaanmu, bukan mengumbar-umbarnya dan membuatmu cemburu.
  • Seperti Edwin Chandrawijaya (Sketsa, Ari Nur Utami), yang sifat hormat dan lembutnya terhadapmu bukan semata-mata karena mempunyai keinginan, tetapi karena memang ia seorang the real gentleman.
  • Seperti Ryan Fikri (Diorama, Ari Nur Utami), yang sudah disodori banyak wanita cantik, tetapi tetap wanita yang hatinya paling cantik lah yang ia pilih.
  • Seperti Vadin, (Marriageable, Riri Sardjono), yang tidak pernah berhenti mencintaimu dibalik segala kekuranganmu, dan tidak pernah menyerah untuk menunjukkannya dan membuatmu mengerti.
  • Seperti Wyatt Bloodsworth (Drop Dead Gorgeous, Linda Howard), yang tak mudah untuk terus marah kepadanya, karena kau tau pria itu mencintaimu sedalam kau mencintainya.
  • Seperti Adam Bennet (starred by Patrick Wilson, Morning Glory, 2010) yang memiliki stok kesabaran dan pengertian melebihi perkiraanmu, dan membuatmu tak pernah berhenti bersyukur atas keberadaannya di sampingmu.
  • Seperti Max Conroy (Almost Forever, Linda Howard), yang tidak pernah berlaku kasar ataupun egois kecuali untuk satu hal; menahanmu tetap di sisinya. 
  • To be continued... :)


Gambar diambil di sini.

Rabu, 22 Januari 2014

Skenario yang Tidak Dipentaskan

"Aku hanya minta secuil alasan di otakmu dan sebentar saja dari waktumu."

"Untuk apa?"

"Menuntut penjelasan darimu, memakimu, mencelamu sesuka hatiku, menangis keras di depanmu, lalu tersenyum lebar dan pergi menjauh."

"Kau bilang kau sudah memaafkanku."

"Otakku sudah, hatiku belum."

"Kau masih mencintaiku?"

"Ya."

"Menyesalkah kau sekarang?"

"Tidak."

"Lalu mengapa sekarang kau ingin menuntut penjelasan dan mencaci-maki diriku?"

"Aku ingin bisa memaafkanmu dengan hatiku."

"Perlukah itu?"

"Ya, sangat perlu."

"Mengapa? Kau tidak bisa melupakanku?"

"Kenapa aku harus melupakanmu? Kau itu pelajaran, agar kelak aku tidak lagi mengatakan 'ya' kepada orang macam kamu."

"Lalu mengapa kau ingin memaafkanku?"

"Agar lepas bebanku, dan tidak lagi mencintaimu. Aku tidak ingin menyakiti orang lain."

"Menyakiti orang lain?"

"Ya."

"Bagaimana bisa?"

"Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang terus mengingat orang lain dalam hidupnya, dan aku tidak ingin seperti itu. Aku tidak ingin seperti kamu."


(Di titik luka, pada suatu malam. Sejenak lega menyergapku, dan rindu akan bahagia mengampiriku. Lalu aku sadar, aku harus memaafkanmu dan melepasmu tanpa ragu)


gambar di ambil di sini.

Sabtu, 18 Januari 2014

Vanessa Williams - Save The Best for Last

Sometimes the snow comes down in June
Sometimes the sun goes round the moon
I see the passion in your eyes
Sometimes it's all a big surprise
'Cause there was a time when all I did was wish
You'd tell me this was love
It's not the way I hoped or how I planned
But somehow it's enough
And now we're standing face-to-face
Isn't this world a crazy place?
Just when I thought our chance had passed
You go and save the best for last
All of the nights you came to me
When some silly girl had set you free
You wondered how you'd make it through
I wondered what was wrong with you
'Cause how could you give your love to someone else
And share your dreams with me
Sometimes the very thing you're looking for
Is the one thing you can't see
But now we're standing face-to-face
Isn't this world a crazy place?
Just when I thought our chance had passed
You go and save the best for last
Sometimes the very thing you're looking for
Is the one thing you can't see
Sometimes the snow comes down in June
Sometimes the sun goes round the moon
Just when I thought our chance had passed
You go and save the best for last
You went and saved the the best for last.

(Untukmu yang telah menaburkan luka dan membuatku bersyukur karenanya)

Selasa, 31 Desember 2013

Banyak Hal

Ada banyak hal yang terkadang tak layak dilihat
Bukan benci, tapi hanya menyadari bahwa semua itu tak lagi berarti
Ada banyak hal yang terkadang tak pantas didengar
Bukan menghindar, tapi hanya memahami bahwa beberapa kata beranjak memudar
Ada banyak hal yang terkadang tak pantas diucapkan
Bukan mendendam, tapi hanya mengerti bahwa yang terbaik adalah diam
Ada banyak hal yang terkadang harus dilupakan
Bukan sok kuat, tapi hanya mencintai hidup lebih baik dengan membiarkannya berjalan seiring waktu tanpa masa lalu yang mengikat
Ada banyak hal untuk dicintai, dilukai, dibenci dan dimaafkan
Tetapi ada juga banyak hal yang secepatnya dipersiapkan
Mengosongkan hati seraya memilah memori
Mengisinya dengan pelajaran dan stok kesabaran
Agar jika nanti tiba waktunya, yang punya kunci abadi akan nyaman tinggal di dalamnya tanpa sakit hati
Tanpa ada rasa ragu yang menyelimuti karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


Rabu, 11 Desember 2013

Momentum Itu...

My Chemical Romance - I Don't Love You

Well, when you go
Don't ever think I'll make you try to stay
And maybe when you get back
I'll be off to find another way

And after all this time that you still owe
You're still the good-for-nothing I don't know
So take your gloves and get out
Better get out
While you can

When you go
Would you even turn to say
"I don't love you like I did yesterday"

Sometimes I cry so hard from pleading
So sick and tired of all the needless beating
But baby when they knock you
Down and out
It's where you oughta stay

And after all the blood that you still owe
Another dollar's just another blow
So fix your eyes and get up
Better get up
While you can
Whoa, whooa

When you go
Would you even turn to say
"I don't love you like I did yesterday"

Well come on, come on

When you go
Would you have the guts to say
"I don't love you like I loved you yesterday"

"I don't love you like I loved you yesterday."

Agnes Monica - Karena Ku Sanggup

Ku tak bisa paksamu tuk tinggal di sisiku
Walau kau yang selalu sakiti aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah
Jangan kau sesali

Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau kau tak usah ragu
Tinggalkan aku
Kalau memang harus begitu

Tak yakin ku kan mampu
Hapus rasa sakitku
Ku akan selalu perjuangkan cinta kita
Namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu

Tak perlu kau buat aku mengerti
Tersenyumlah karena ku sanggup

(Aku baik-baik saja, sungguh.)