Kamis, 11 Juli 2013
Maudy Ayunda - Tahu Diri
Hai selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Bye selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi
(Cepatlah sirna! Aku lelah menyia-nyiakan yang ada...)
Selasa, 25 Juni 2013
Cinta Gila
Cinta kita adalah drama yang menyimpan bom waktu
Bagai virus yang menggerogoti pelan-pelan lalu mematikan
Kita saling berkata baik-baik saja saat hati keruh oleh prasangka
Paksakan diri tersenyum saat hati tertawa dan menangis saking gilanya
Aku adalah rumahmu, tempatmu pulang, tempatmu kembali setelah hari petang
Tempat kau berbagi peluh dan kesah setelah lelah berpetualang
Tapi apakah pernah kau bayangkan, menjadi pihak yang menunggu kau kembali tanpa kepastian?
Menjadi api bagimu meskipun kadang aku kedinginan?
Tanpa tahu kemana kau berpetualang...
Ke jejak yang sama kah?
Ke hati yang lain kah?
Dan adalah aku yang dengan bodohnya selalu berdiri tegap menunggumu
Seraya berharap kau akan membagi ceritamu tanpa ada yang kau sembunyikan dariku
Lalu kau...
Kau adalah kelemahan terbesarku
Tempatku mencaci-maki selama sisa hidupku
Tetapi kemudian memujamu tanpa batas hingga di ujung waktu
Membencimu terlalu dalam, mencintaimu sampai remuk redam
Berdiri di antara cinta dan benci yang membuatku menginginkanmu setengah mati
Kau racun bagiku. Candu bagi tubuhku. Narkoba bagi pikiranku
Tapi kau bagai kunang-kunang bagi hatiku
Yang hinggap dengan meninggalkan jejak pelita sampai hatiku penuh diselimuti cahaya
Ah, cinta ini terlalu rumit, sayangku.
Tapi aku selalu berdo'a setiap waktu
Berdo'a supaya cinta gila ini sanggup membungkam semua ragu
Meleburkan semua cemburu
Hancurkan kita hingga menyerpih, membakar kita sampai menjadi abu putih
Lalu terlahir kembali
Berdua saja, hanya kau dan aku.
Bagai virus yang menggerogoti pelan-pelan lalu mematikan
Kita saling berkata baik-baik saja saat hati keruh oleh prasangka
Paksakan diri tersenyum saat hati tertawa dan menangis saking gilanya
Aku adalah rumahmu, tempatmu pulang, tempatmu kembali setelah hari petang
Tempat kau berbagi peluh dan kesah setelah lelah berpetualang
Tapi apakah pernah kau bayangkan, menjadi pihak yang menunggu kau kembali tanpa kepastian?
Menjadi api bagimu meskipun kadang aku kedinginan?
Tanpa tahu kemana kau berpetualang...
Ke jejak yang sama kah?
Ke hati yang lain kah?
Dan adalah aku yang dengan bodohnya selalu berdiri tegap menunggumu
Seraya berharap kau akan membagi ceritamu tanpa ada yang kau sembunyikan dariku
Lalu kau...
Kau adalah kelemahan terbesarku
Tempatku mencaci-maki selama sisa hidupku
Tetapi kemudian memujamu tanpa batas hingga di ujung waktu
Membencimu terlalu dalam, mencintaimu sampai remuk redam
Berdiri di antara cinta dan benci yang membuatku menginginkanmu setengah mati
Kau racun bagiku. Candu bagi tubuhku. Narkoba bagi pikiranku
Tapi kau bagai kunang-kunang bagi hatiku
Yang hinggap dengan meninggalkan jejak pelita sampai hatiku penuh diselimuti cahaya
Ah, cinta ini terlalu rumit, sayangku.
Tapi aku selalu berdo'a setiap waktu
Berdo'a supaya cinta gila ini sanggup membungkam semua ragu
Meleburkan semua cemburu
Hancurkan kita hingga menyerpih, membakar kita sampai menjadi abu putih
Lalu terlahir kembali
Berdua saja, hanya kau dan aku.
Senin, 17 Juni 2013
Beautiful Disaster and Walking Disaster by Jamie McGuire (Quotes)
“To douchebags!" he said, gesturing to Brad. "And
to girls that break your heart," he bowed his head to me. His eyes lost
focus. "And to the absolute fucking horror of losing your best friend
because you were stupid enough to fall in love with her.”
(Travis)
“I knew the second I met you that there was something about
you I needed. Turns out it wasn’t something about you at all. It was just you.”
(Travis)
“I know we're fucked up, alright? I'm impulsive, and hot
tempered, and you get under my skin like no one else. You act like you hate me
one minute, and then need me the next. I never get anything right, and I don't
deserve you...but I fucking love you, Abby. I love you more than I loved anyone
or anything ever. When you're around, I don't need booze, or money, or the
fighting, or the one-night stands... just you.”
(Travis)
“You can’t tell me what to do anymore, Travis! I don’t
belong to you!” In the second it took him to turn and face me, his expression
had contorted into anger. He stomped toward me, planting his hands on the bed
and leaning into my face.
“WELL I BELONG TO YOU!” The veins in his neck bulged as he
shouted, and I met his glare, refusing to even flinch. He looked at my lips,
panting. “I belong to you.”
(Abby and Travis)
“You know why I want you? I didn’t know I was lost until you
found me. I didn’t know what alone was until the first night I spent without
you in my bed. You’re the one thing I’ve got right. You’re what I’ve been
waiting for, Pigeon.”
(Travis)
“I belong to my beloved, and my beloved is mine.”
(Text in Travis's tattoos)
“Let me guess, it's the love of your life?" I said
quoting Travis' statement about his motorcycle.
"No, it's a car. The love of my life will be a women
with my last name.”
(Abby and Parker)
“I need to hear you say it. I need to know you’re mine.”
“I’ve been yours since the second we met.”
(Travis and Abby)
“I don't get scared very often," he said finally.
"I was scared the first morning I woke up and you weren't here. I was
scared when you left me after Vegas. I was scared when I thought I was going to
have to tell my dad that Trent had died in that building. But when I saw you
across the flames in the basement... I was terrified. I made it to the door,
was a few feet from the exit, and I couldn't leave."
"What do you mean? Are you crazy?" I said, my head
jerking up to look into his eyes.
"I've never been so clear about anything in my life. I
turned around, made my way to that room you were in, and there you were.
Nothing else mattered. I didn't even know if we would make it out or not, I
just wanted to be where you were, whatever that meant. The only thing I'm
afraid of is a life without you, Pigeon."
I leaned up, kissing his lips tenderly. When our mouths
parted, I smiled. "Then you have nothing to be afraid of. We're forever.”
(Travis and Abby)
He scanned my face with careful hope in his eyes.
“You love me?”
“It’s the tattoos,” I shrugged.
A wide smile stretched across his face, making his dimple
sink into his cheek.
(Travis and Abby)
“It wasn’t just me, and it wasn’t just him, it was what we
were together that was the exception.”
(Abby)
“It's dangerous to need someone that much. You're trying to
save him and he's hoping you can. You two are a disaster." I smiled at the
ceiling. "It doesn't matter what or why it is. When it's good, Kara...
it's beautiful.”
(America)
I clinked my bottle against his. “To being the only girl a
guy with no standards doesn’t want to sleep with.” I said, taking a swig.
“Are you serious?” he asked, pulling the bottle from my
mouth. When I didn’t recant, he leaned toward me. “First of all… I have
standards. I’ve never been with an ugly woman. Ever. Second of all, I wanted to
sleep with you. I thought about throwing you over my couch fifty different
ways, but I haven’t because I don’t see you that way anymore. It’s not that I’m
not attracted to you, I just think you’re better than that.”
I couldn’t hold back the smug smile that crept across my
face. “You think I’m too good for you.”
He sneered at my second insult. “I can’t think of a single
guy I know that’s good enough for you.”
(Abby and Travis)
“I fucking love you!” He grabbed each side of my face,
slamming his lips against mine. “I love you so much, Pigeon,” he said, kissing
me over and over.
“Just remember that in fifty years when I’m still kicking
your ass in poker,” I giggled.
He smiled, triumphant. “If it means sixty or seventy years
with you, Baby… you have my full permission to do your worst.”
I raised one eyebrow, “You’re gonna regret that.”
“You wanna bet?”
I smiled with as much deviance as I could muster.”
(Travis and Abby)
“Make way! Move it, people! Lets make room for this poor
woman's hideously disfigured, ginormous brain! She's a fucking genius!”
(Travis)
“He was afraid of nothing. Until he'd met me.”
(Abby)
“I'm not your anything," I snapped, glaring up at him.
His eyebrows pulled in and he stopped dancing. "You're
my everything.”
(Abby and Travis)
“Abs? What are you, a workout video?" he sneered.
"Pigeon?" I said with the same amount of disdain.
"An annoying bird that craps all over the sidewalk?"
"You like Pigeon," he said defensively. "It's
a dove, an attractive girl, a winning card in poker, take your pick. You're my
Pigeon.”
(Travis and Abby)
“My name’s Travis. Travis Maddox.”
I rolled my eyes. “I know who you are.”
“You do, huh?” Travis said, raising his wounded
eyebrow.
“Don’t flatter yourself. It’s hard not to notice when fifty
drunks are chanting your name. “
Travis sat up a bit taller. “I get that a lot.” I rolled my
eyes again, and Travis chuckled. “Do you have a twitch?”
“A what?”
“A twitch. Your eyes keep wiggling around.” He laughed again
when I glared at him. “Those are some amazing eyes though,” he said, leaning
just inches from my face.
(Travis and Abby)
“I know you deserve better than me. You think I don’t know
that? But if there was any woman made for me… it’s you. I’ll do whatever I have
to do, Pidge. Do you hear me? I’ll do anything.”
(Travis)
“I don't want to sleep with you, Pidge. I like you too
much.”
(Travis)
I smiled to fight the tears. "Fifty bucks says you'll
be thanking me for this when you meet your future wife."
Travis's eyebrow pulled together as his face fell.
"That's an easy bet. The only woman I'd ever wanna marry just broke my
heart.”
(Abby and Travis)
“It's over. Go home."
His eyebrows pulled in. "You're my home.”
(Abby and Travis)
“He continued to stare out the window. "I meant what I
said before. You need to walk away, Pidge. God knows I can't walk away from
you.”
(Travis)
"Unbelievable. The one girl I want, and she doesn't
want me.”
(Travis)
Selasa, 28 Mei 2013
PSB Krapyak
PSB MTs dan MA Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta udah dibuka...
Ayo mondok disini..!! :D
(cr: Hammam Fathullah)
Ayo mondok disini..!! :D
(cr: Hammam Fathullah)
Minggu, 26 Mei 2013
Dee Lestari's "Grow A Day Older" (Quotes)
“If
everything has been written down, so why worry, we say.
It’s you and
me with a little left of sanity.”
“His
presence turned me into a porcelain doll ─fragile, breakable, too fussy to be
carried.”
“It’s a
frantic combination between drowning and wanting to get out, between dying and
gasping for life.”
“To him, I
might be the perfect friend. But deep down. I’m just in love.”
“And I
realize how I was constantly swaying from one side to the other. I wanted to
stop. I wanted to decide. But some stupid philosopher kept telling us to go
with the flow, to drift with the river of life. What flow? This is not a flow,
it’s a predictable swing that goes back and forth without ever moving
elsewhere.”
“Now that I
realize that even a skyscraper of fence wouldn’t work either. I need a line of
faith as a real border between us. A strike of amnesia, perhaps.”
“But I can
only carry one romantic connection in this claustrophobic heart of mine.”
“If you love
someone, you have to embrace the whole package, right? Love the person as is.”
“Timing is
everything. Leave the box and go. Scar his heart and fly away.”
“I love you.”
I grab hold
of my breath. One more push and the anchor will plummet.
“Well, I
love you too, you know that.”
“He bends
over like a knights, ready to console a confused princess who has been saved
from a dragon by another king and lived happily until this brightly shining
newcomer arrived and swept her off her feet. The problem is, he was too late. There’s
no dragon left. The battle has already been fought and won.”
“And I can
feel I’m arriving at that moment again, right now. Cuddled like his teddy bear,
still not knowing what to do, what to decide.”
Kamis, 23 Mei 2013
Demi Lovato - Heart Attack
Puttin’ my defences up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
Never put my love out on the line
Never said yes to the right guy
Never had trouble getting what I want
But when it comes to you, I’m never good enough
When I don’t care
I can play ‘em like a Ken doll
Won’t wash my hair
Then make 'em bounce like a basketball
But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear high heels
Yes, you make me so nervous
And I just can’t hold your hand
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
'Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
Never break a sweat for the other guys
When you come around, I get paralyzed
And every time I try to be myself
It comes out wrong like a cry for help
It's just not fair
Pain's more trouble than love is worth
I gasp for air
It feels so good, but you know it hurts
But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear perfume
For you. Make me so nervous
And I just can’t hold your hand
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
'Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
The feelings are lost in my lungs
They’re burning, I’d rather be numb
And there’s no one else to blame
So scared I take off in a run
I’m flying too close to the sun
And I burst into flames
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
(Bukan engkau yang kutakutkan, tetapi diriku sendiri...)
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
Never put my love out on the line
Never said yes to the right guy
Never had trouble getting what I want
But when it comes to you, I’m never good enough
When I don’t care
I can play ‘em like a Ken doll
Won’t wash my hair
Then make 'em bounce like a basketball
But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear high heels
Yes, you make me so nervous
And I just can’t hold your hand
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
'Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
Never break a sweat for the other guys
When you come around, I get paralyzed
And every time I try to be myself
It comes out wrong like a cry for help
It's just not fair
Pain's more trouble than love is worth
I gasp for air
It feels so good, but you know it hurts
But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear perfume
For you. Make me so nervous
And I just can’t hold your hand
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
'Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
The feelings are lost in my lungs
They’re burning, I’d rather be numb
And there’s no one else to blame
So scared I take off in a run
I’m flying too close to the sun
And I burst into flames
You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack
(Bukan engkau yang kutakutkan, tetapi diriku sendiri...)
Jumat, 05 April 2013
Di Ujung Rapuh
Kadang lelah memacu
Tiadanya kamu buatku biru
Ketidakmampuanku menggedor egoku
Hanya membisu, disaksikan oleh waktu
Entah mana yang lebih sakit... Tanpamu atau kehilanganmu?
Entah mana yang lebih perih... Menunggumu atau tergugu menatapmu menjauh?
Andai bisa kuberikan bukan hanya kebahagiaan semu
Andai bisa kujalani setapak bersamamu satu-satu
Andai bisa ku berdiam disampingmu dan banggakan diri menjadi punyamu
Ah, kelu.
Aku di ujung rapuh, kau tahu?
Mencoba bertahan dengan mengingatmu setiap kunyanyikan lagu
Doakan aku agar ku bisa sekuat dirimu
Agar tidak terbunuh rindu, melesak, lalu terjatuh.
(Aku bertahan dan biarkan Sang Pemilik Hati yang menentukan. Bukan mereka yang sudah marah, ataupun kita yang sudah lelah...)
Tiadanya kamu buatku biru
Ketidakmampuanku menggedor egoku
Hanya membisu, disaksikan oleh waktu
Entah mana yang lebih sakit... Tanpamu atau kehilanganmu?
Entah mana yang lebih perih... Menunggumu atau tergugu menatapmu menjauh?
Andai bisa kuberikan bukan hanya kebahagiaan semu
Andai bisa kujalani setapak bersamamu satu-satu
Andai bisa ku berdiam disampingmu dan banggakan diri menjadi punyamu
Ah, kelu.
Aku di ujung rapuh, kau tahu?
Mencoba bertahan dengan mengingatmu setiap kunyanyikan lagu
Doakan aku agar ku bisa sekuat dirimu
Agar tidak terbunuh rindu, melesak, lalu terjatuh.
(Aku bertahan dan biarkan Sang Pemilik Hati yang menentukan. Bukan mereka yang sudah marah, ataupun kita yang sudah lelah...)
Senin, 18 Maret 2013
Bukan Kau
Ia menyuruhku tidur tadi malam dan aku bertanya-tanya mengapa bukan engkau
Ia membangunkanku tadi pagi dan aku bertanya-tanya mengapa bukan engkau
Banyak orang tersenyum kepadaku hari ini dan aku bertanya-tanya mengapa bukan milikmu yang kulihat
Aku tertawa bersama disini dan aku bertanya-tanya mengapa bukan milikmu yang kudengar
Aku merindukanmu, sungguh...
Rindu suaramu, tawamu, nada khawatirmu, paniknya omelanmu...
Aku rindu "apa kabar"-mu, "cukup tau"-mu,"mimpi indah"-mu...
Susahkah bagimu tuk sekedar menyapa?
Rinduku sudah di pangkal rasa
Hatiku tetap masih ingin setia
Tapi tolong jangan mengujiku terlalu berat
Aku tak ingin menyakitimu.
Ia membangunkanku tadi pagi dan aku bertanya-tanya mengapa bukan engkau
Banyak orang tersenyum kepadaku hari ini dan aku bertanya-tanya mengapa bukan milikmu yang kulihat
Aku tertawa bersama disini dan aku bertanya-tanya mengapa bukan milikmu yang kudengar
Aku merindukanmu, sungguh...
Rindu suaramu, tawamu, nada khawatirmu, paniknya omelanmu...
Aku rindu "apa kabar"-mu, "cukup tau"-mu,"mimpi indah"-mu...
Susahkah bagimu tuk sekedar menyapa?
Rinduku sudah di pangkal rasa
Hatiku tetap masih ingin setia
Tapi tolong jangan mengujiku terlalu berat
Aku tak ingin menyakitimu.
Jumat, 15 Maret 2013
"Broken Arrow" by Pixie Lott
What do you do when you're stuck,
Because the one that you love,
Has pushed you away,
And you can't deal with the pain,
And now you're trying to fix me,
Mend what he did,
I'll find the piece that I'm missing,
But I still miss him,
I miss him, I'm missing him,
Oh I miss him, I miss him, I'm missng him
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
He's the thorn in my flesh
That I can't take out
He's stealing my breath
When you're around,
And now you're trying to convince me,
He wasn't worth it,
But you can't complete me,
He's the part that is missing,
I miss him, I'm missing him,
Oh I miss him I miss him, I'm missing him,
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
What do you do
When your hearts in two places?
You feel great but you're torn inside.
You feel love but you just can't embrace it,
When you found the right one at the wrong time.
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
Because the one that you love,
Has pushed you away,
And you can't deal with the pain,
And now you're trying to fix me,
Mend what he did,
I'll find the piece that I'm missing,
But I still miss him,
I miss him, I'm missing him,
Oh I miss him, I miss him, I'm missng him
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
He's the thorn in my flesh
That I can't take out
He's stealing my breath
When you're around,
And now you're trying to convince me,
He wasn't worth it,
But you can't complete me,
He's the part that is missing,
I miss him, I'm missing him,
Oh I miss him I miss him, I'm missing him,
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
What do you do
When your hearts in two places?
You feel great but you're torn inside.
You feel love but you just can't embrace it,
When you found the right one at the wrong time.
And you're sitting in the front row,
Wanna be first in line,
Waiting by my window,
Giving me all your time,
You could be my hero,
If only I could let go,
But his love is still in me,
Like a broken arrow.
Like a broken arrow.
Jumat, 01 Maret 2013
Perkembangan Pesantren Untuk Menjawab Tantangan Zaman
Sebagaimana
yang kita tahu, pesantren adalah lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia. Pesantren
telah dikenal mampu menerbitkan kader-kader mutafaqqih fiddin yang berguna di
masyarakat. Dengan trademark budaya pondok atau asrama dan kemampuan membaca
kitab arab klasik atau dikenal dengan kitab kuning, para santri yang lulus
diharapkan dapat terjun ke masyarakat dengan kemampuan agama yang cukup untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Tetapi
apakah hanya aspek agama yang dibutuhkan di masyarakat? Tentu saja tidak. Apalagi
di zaman globalisasi ini ilmu pengetahuan terus berkembang. Tidak hanya
teoritis, tetapi juga dalam kajian dan pengamalannya. Ilmu pengetahuan yang
dibutuhkan di masyarakat sudah banyak terpecah menjadi berbagai aspek dan langsung
diaplikasikan guna membentuk masyarakat yang lebih baik. Skill pun menjadi
faktor yang sangat penting guna menjadi senjata utama untuk menghadapi zaman
yang terus berkembang ini.
Lalu
apakah pesantren sudah menyesuaikan semua perkembangan itu dengan baik? Sayangnya
tidak. Masih banyak santri-santri yang terjun ke masyarakat tetapi tidak
mempunyai peran yang begitu berarti karena ia tidak mempunyai skill selain pengetahuannya
di bidang agama. Masih banyak santri yang dipandang sebelah mata karena
ketidakmampuannya untuk menjadi seorang ahli di bidang selain dakwah. Banyak
santri yang masih tidak bisa mengamalkan apa yang telah hanya didapatnya hanya
karena satu hal, tidak adanya skill yang ia miliki.
Oleh
karena itu, sangat dibutuhkan seorang figur santri yang tidak hanya ahli dalam
bidang agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan lain dan mempunyai skill,
entah dibidang sains-teknologi, ekonomi, entrepreunership, ataupun
bidang-bidang lainnya. Dibutuhkan seorang kader yang tidak hanya baik dalam
moral, tetapi juga ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan. Pesantren harus ikut
berkembang dan menyesuaikan perkembangan zaman yang ada.
Demi
terwujudnya hal ini, banyak faktor dan pihak-pihak yang berperan penting. Pertama,
para santri. Sebagai subjek dalam terbentuknya kader-kader ini santri harus
memiliki sikap yang tangguh dalam menuntut ilmu, terbuka dalam menerima
pluralisme, dan teguh memegang keyakinannya dalam beragama. Ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya yang ia miliki nanti akan diaplikasikan langsung ke dalam
masyarakat, dan jika ia tidak mempunyai keteguhan dalam beragama dikahawatirkan
ia akan terbawa bahkan terwarnai oleh perkembangan zaman yang tak terduga.
Kedua, pihak yang sangat berperan dalam terwujudnya hal ini adalah para kyai,
guru, dan seluruh stake-holder pesantren. Para kyai yang sadar akan pentingnya
sains-teknologi bagi santri pasti akan memudahkan jalannya perkembangan
pesantren. Sebaliknya, kyai yang tidak menyadari hal itu justru akan mengahambat
jalannya perkembangan pesantren.
Lalu
bagaimana cara mengimbangi ilmu agama dan ilmu terapan lain khususnya
sains-teknologi di pesantren? Banyak cara mengimbanginya, salah satunya adalah
dengan media informasi dan fasilitas keilmuan yang menunjang. Perpustakaan yang
lengkap, pengajaran teknologi informasi yang baik, ruang belajar yang kondusif
serta fasilitas keilmuan lainnya adalah salah satu sarana yang mendukung
perkembangan pesantren. Pengajaran skill kerja dan keterampilan lain juga salah
satu hal yang mendukung perkembangan pesantren.
Dengan pengembangan, cara dan sarana yang baik otomatis pesantren akan berkembang pesat dan akan menciptakan kader-kader santri yang hanya tidak ahli agama, tetapi juga ilmu pengetahuan yang cukup dan skill yang hebat untuk menjawab perkembangan zaman.
Langganan:
Postingan (Atom)






