Selasa, 19 Mei 2020
Senin, 18 Mei 2020
Hari Ini Saya
Stok buah-buahan saya habis. Rencana beli sore tadi. Saya berharap cuaca agak gerimis agar saya punya alasan menggunakan payung di depan mas-mas dan bapak-bapak penjaga portal lockdown dekat jalan raya. Tapi ternyata hujan semakin deras, dan saya memutuskan tidak ke mana-mana.
Saya malas mandi.
Kakak kelas saya membagikan tautan di media sosial dengan tajuk jalur mudik yang aman. Jempol saya yang lebih optimis dari otak refleks langsung mengklik link tersebut. Sudah ditanya kabupaten/kota namun ternyata sama saja. Ngapain mudik? Di rumah aja. Saya paham otak saya ingin meledek si jempol tapi apa gunanya? Jempol hati otak saya rasanya sakit semua.
Sore tadi Ibu saya menelpon, di tengah-tengah obrolan kami, Ia tiba-tiba bertanya, "Kamu beneran nggak bisa pulang, Nak?"
Saya mengacaukan rutinitas hari ini. Skip kelas pertama, solat dzuhur yang mepet sampai jam setengah tiga, hingga memesan makanan yang tidak seperti biasanya. Biasanya kalau begini ada yang tidak beres. Terbukti, yang mestinya rasanya asin malah manis sekali. Giung, kalau kata orang Sunda.
Sedikit demi sedikit saya sudah bisa mengatasi rasa takut saya keluar dari kamar setelah maghrib.
Bangun tidur, lihat jendela. Mau tidur, pertanyaan yang masih sama:
"Ini kapan selesainya?"
Saya malas mandi.
Kakak kelas saya membagikan tautan di media sosial dengan tajuk jalur mudik yang aman. Jempol saya yang lebih optimis dari otak refleks langsung mengklik link tersebut. Sudah ditanya kabupaten/kota namun ternyata sama saja. Ngapain mudik? Di rumah aja. Saya paham otak saya ingin meledek si jempol tapi apa gunanya? Jempol hati otak saya rasanya sakit semua.
Sore tadi Ibu saya menelpon, di tengah-tengah obrolan kami, Ia tiba-tiba bertanya, "Kamu beneran nggak bisa pulang, Nak?"
Saya mengacaukan rutinitas hari ini. Skip kelas pertama, solat dzuhur yang mepet sampai jam setengah tiga, hingga memesan makanan yang tidak seperti biasanya. Biasanya kalau begini ada yang tidak beres. Terbukti, yang mestinya rasanya asin malah manis sekali. Giung, kalau kata orang Sunda.
Sedikit demi sedikit saya sudah bisa mengatasi rasa takut saya keluar dari kamar setelah maghrib.
Bangun tidur, lihat jendela. Mau tidur, pertanyaan yang masih sama:
"Ini kapan selesainya?"
Minggu, 17 Mei 2020
Berdua Saja
Kau tahu rasanya terlelap namun tubuhmu tak henti-hentinya berlari
Lurus tanpa kelok, membagi dunia menjadi dua sisi
Melompat sana sini seakan-akan ini hanya permainan lompat tali, bukan garis batas antara hidup dan mati
Detik di saat aku tersadar aku bukan aku, yang ada di pikiranku hanya
Helai demi helai rambutmu yang selalu tersangkut di keliman bajuku entah bagaimana
Lalu aku kembali menggigil, takut kenangan tentangmu diambil
Bagai anak kecil sekarat yang cuma diberikan seutas tali agar tidak tamat riwayat
Pun jika nanti kuhancurkan dunia yang tidak pernah mengakui aku sebagai penghuninya, hanya kau yang kupastikan tetap ada.
Biar bersama-sama kita balurkan diri dengan puing sisa dan abu neraka,
Hanya kau dan aku, berdua saja.
Lurus tanpa kelok, membagi dunia menjadi dua sisi
Melompat sana sini seakan-akan ini hanya permainan lompat tali, bukan garis batas antara hidup dan mati
Detik di saat aku tersadar aku bukan aku, yang ada di pikiranku hanya
Helai demi helai rambutmu yang selalu tersangkut di keliman bajuku entah bagaimana
Lalu aku kembali menggigil, takut kenangan tentangmu diambil
Bagai anak kecil sekarat yang cuma diberikan seutas tali agar tidak tamat riwayat
Pun jika nanti kuhancurkan dunia yang tidak pernah mengakui aku sebagai penghuninya, hanya kau yang kupastikan tetap ada.
Biar bersama-sama kita balurkan diri dengan puing sisa dan abu neraka,
Hanya kau dan aku, berdua saja.
Jumat, 15 Mei 2020
Berseberangan
Nol nol satu satu nol, aku masih tak bisa menebak apa maksud semesta
Tetap berjalan saja, katamu, seakan ini ada ujungnya
Kita ada di tengah kekacauan yang entah dibuat siapa, lalu kau mencariku membabi buta hingga aku
Jatuh ke dalam lubang tanpa dasar, asing dengan ragaku sendiri
Inginku berteriak frustasi saat mereka bertanya siapa namamu
Ternyata seperti ini kesepianmu?
Kau bukan sekedar bumi yang datar lalu membulat, kau bukan sekedar detik ke-25 menuju detik ke-24
Kau anomali di antara semua ilusi
Tapi wujudmu senyata nadi, dan pelukmu sehangat ini
Tetap berjalan saja, katamu, seakan ini ada ujungnya
Kita ada di tengah kekacauan yang entah dibuat siapa, lalu kau mencariku membabi buta hingga aku
Jatuh ke dalam lubang tanpa dasar, asing dengan ragaku sendiri
Inginku berteriak frustasi saat mereka bertanya siapa namamu
Ternyata seperti ini kesepianmu?
Kau bukan sekedar bumi yang datar lalu membulat, kau bukan sekedar detik ke-25 menuju detik ke-24
Kau anomali di antara semua ilusi
Tapi wujudmu senyata nadi, dan pelukmu sehangat ini
Kamis, 14 Mei 2020
Panggung
Aku ingin menari
dengan rasa sakit dan luka yang menyublim menjadi udara
kuhirup dengan rakus
merasakan perihnya yang merasuk
menikmati organ-organku berlelehan dan mengkerut.
dengan rasa sakit dan luka yang menyublim menjadi udara
kuhirup dengan rakus
merasakan perihnya yang merasuk
menikmati organ-organku berlelehan dan mengkerut.
Rabu, 13 Mei 2020
Sejak Kapan Cinta Jadi Ribet?
Sejak kapan ya persoalan cinta jadi ribet?
Apa memang hidup harus seperti itu ya? Tapi memang banyak banget yang seperti itu. Waktu jaman-jamannya masih hopeful saya pernah ditanya mau hidup di dunia yang kaya apa, dan saya cuma bisa jawab "I want to live in a world where the man I love also loves me back." Because the pattern will always be the same, I think. We always love people who ignore us and we always ignore people who love us. Hubungan romantika baru akan terjadi saat vicious cycle itu terputus karena perasaan yang berbalas.
Tapi ya pacaran bisa pisah, pernikahan juga nggak selamanya aman dari perselingkuhan, perceraian, atau problem lain. Liat itu The World of The Married, seluruh dunia dibuat pusing. Ada yang merasa relevan dengan pengalamannya, atau ada juga yang tiap nonton komat-kamit merapalkan doa agar hal serupa tidak pernah terjadi di hidupnya. But eventually, we all agree that people change and love sometimes fades.
Selain masalah perasaan itu sendiri, kadang saya dibuat sedih saat hebeh-hebeh percintaan juga dikacaukan dengan standar, ekspektasi dan tuntutan. Saya bisa dibilang pragmatis, tapi saya juga kadang-kadang rindu masa-masa naif saat saya percaya kita emang butuh cinta aja. Dulu cinta doang masih laris, sekarang harus ada embel-embelnya. Emang lu bisa kenyang doang pake cinta? Logikanya sih kalau cinta sih ya nggak bakal ngebiarin orang yang dicintainya kelaparan.
Atau ini cuma masalah degradasi makna? Dulu cinta sama bahagia ya satu paket. Susah bareng tapi ya juga berusaha biar susahnya nggak terlalu lama. Sekarang? Saya malah ngerasa cinta jadi entitas yang berdiri sendiri. Kamu cinta sama orang itu? Iya. Bisa ngasih dia makan? Nggak. Berarti nggak boleh bersama. Makna cinta jadi eksklusif dan utopis, atau bahkan sebaliknya, meaningless dan cuma jadi barang jualan. Seakan-akan mencintai dan menghidupi itu berbeda, padahal mestinya sama.
Di drakor favorit saya, ada kutipan yang bunyinya kira-kira gini, "Berapa banyak sih orang yang sukses menikah dengan orang yang mereka cintai? Sekarang kamu bisa bilang cinta aja, sampai nanti variabel dan realita yang mengubah semuanya." Kesel nggak sih? Saya sih kesel. Kesel karena emang ada benarnya. Tapi untung aja di drakor itu akhirnya bahagia, karena emang tokohnya mencintai juga menghidupi.
Terus ini intinya apa sih? Hambuh. Blog blog saya. Mau ngelantur juga terserah saya.
Kalau ditanya seperti itu, biasanya sih saya punya dua tipe jawaban. Jawaban pertama, saya akan mengarang ratusan kalimat ndakik-ndakik tentang ketidakcocokan, keengganan mengenal orang baru, atau rasa nyaman jika masih sendiri. Jawaban kedua? Karena kasus cinta berbalas dan menyenangkan semua orang masih merupakan privilege. Betul, semua berubah saat society menyerang.
Apa memang hidup harus seperti itu ya? Tapi memang banyak banget yang seperti itu. Waktu jaman-jamannya masih hopeful saya pernah ditanya mau hidup di dunia yang kaya apa, dan saya cuma bisa jawab "I want to live in a world where the man I love also loves me back." Because the pattern will always be the same, I think. We always love people who ignore us and we always ignore people who love us. Hubungan romantika baru akan terjadi saat vicious cycle itu terputus karena perasaan yang berbalas.
Tapi ya pacaran bisa pisah, pernikahan juga nggak selamanya aman dari perselingkuhan, perceraian, atau problem lain. Liat itu The World of The Married, seluruh dunia dibuat pusing. Ada yang merasa relevan dengan pengalamannya, atau ada juga yang tiap nonton komat-kamit merapalkan doa agar hal serupa tidak pernah terjadi di hidupnya. But eventually, we all agree that people change and love sometimes fades.
Selain masalah perasaan itu sendiri, kadang saya dibuat sedih saat hebeh-hebeh percintaan juga dikacaukan dengan standar, ekspektasi dan tuntutan. Saya bisa dibilang pragmatis, tapi saya juga kadang-kadang rindu masa-masa naif saat saya percaya kita emang butuh cinta aja. Dulu cinta doang masih laris, sekarang harus ada embel-embelnya. Emang lu bisa kenyang doang pake cinta? Logikanya sih kalau cinta sih ya nggak bakal ngebiarin orang yang dicintainya kelaparan.
Atau ini cuma masalah degradasi makna? Dulu cinta sama bahagia ya satu paket. Susah bareng tapi ya juga berusaha biar susahnya nggak terlalu lama. Sekarang? Saya malah ngerasa cinta jadi entitas yang berdiri sendiri. Kamu cinta sama orang itu? Iya. Bisa ngasih dia makan? Nggak. Berarti nggak boleh bersama. Makna cinta jadi eksklusif dan utopis, atau bahkan sebaliknya, meaningless dan cuma jadi barang jualan. Seakan-akan mencintai dan menghidupi itu berbeda, padahal mestinya sama.
Di drakor favorit saya, ada kutipan yang bunyinya kira-kira gini, "Berapa banyak sih orang yang sukses menikah dengan orang yang mereka cintai? Sekarang kamu bisa bilang cinta aja, sampai nanti variabel dan realita yang mengubah semuanya." Kesel nggak sih? Saya sih kesel. Kesel karena emang ada benarnya. Tapi untung aja di drakor itu akhirnya bahagia, karena emang tokohnya mencintai juga menghidupi.
Terus ini intinya apa sih? Hambuh. Blog blog saya. Mau ngelantur juga terserah saya.
Selasa, 12 Mei 2020
Rekomendasi K-Drama Tanpa Harta Tahta Angkara
Beberapa kdrama di Netflix yang ringan, bukan fantasi, dijamin apik, dan yang terpenting: tidak ada hebeh-hebeh harta tahta angkara:
1. Reply series (1994, 1997, 1988)
Familiar, hangat, dan penuh nostalgia. Nonton ini tu bikin kepikiran bahwa hidup pernah semenyenangkan itu tanpa teknologi macam sekarang.

2. Prison Playbook
Satu kata: Geblek. Walaupun setting-nya di penjara tapi ini nggak ada gloomy2nya atau serem2nya blass. Setipe sama reply series (karena emang yang bikin sama). Buat yang suka tipe-tipe komedi deadpan dan satir, wajib nonton ini.

3. She Was Pretty
Tentang cewek yang minder sama penampilannya karena nggak secantik dulu. Dia akhirnya minta tolong temen deketnya nyamar jadi dia untuk ketemu temen masa kecilnya.
Suka banget sama ini. Nggak macem-macem dan nyenengin banget ditonton berulang-ulang.

4. It's Okay That's Love
Hhhhhh my fav of all times. Romcom antara psikiater yang punya trauma disentuh dan seleb penulis novel thriller. Banyak banget belajar tentang human behavior dan psikiatri di sini. KWANGSOO DI SINI LUCU BANGAT.

5. Because This Is My First Life
Premisnya rada absurd, tapi makin ke sini makin relevan dan berkaitan banget ama problem sehari-hari. Nonton ini bikin nyadar bahwa bingung sama hidup sendiri itu wajar banget, ya namanya juga baru pertama kali ngerasain.

6. Something In The Rain
Potret realita perempuan umur 30an yang masih lajang, terus-terusan dituntut keluarga dan society serta mesti cari duit di lingkungan kerja yang patriarkis pula.
Apik sangat.

7. When The Camellia Blooms
Tentang seorang single mother yang membesarkan dan menafkahi anaknya dengan membuka bar di kota kecil.
Aku ndak mau ngomong macem-macem. Pokoknya sebagus itu.

Semoga bermanfaat and happy binge-watching!
1. Reply series (1994, 1997, 1988)
Familiar, hangat, dan penuh nostalgia. Nonton ini tu bikin kepikiran bahwa hidup pernah semenyenangkan itu tanpa teknologi macam sekarang.
2. Prison Playbook
Satu kata: Geblek. Walaupun setting-nya di penjara tapi ini nggak ada gloomy2nya atau serem2nya blass. Setipe sama reply series (karena emang yang bikin sama). Buat yang suka tipe-tipe komedi deadpan dan satir, wajib nonton ini.
3. She Was Pretty
Tentang cewek yang minder sama penampilannya karena nggak secantik dulu. Dia akhirnya minta tolong temen deketnya nyamar jadi dia untuk ketemu temen masa kecilnya.
Suka banget sama ini. Nggak macem-macem dan nyenengin banget ditonton berulang-ulang.
4. It's Okay That's Love
Hhhhhh my fav of all times. Romcom antara psikiater yang punya trauma disentuh dan seleb penulis novel thriller. Banyak banget belajar tentang human behavior dan psikiatri di sini. KWANGSOO DI SINI LUCU BANGAT.
5. Because This Is My First Life
Premisnya rada absurd, tapi makin ke sini makin relevan dan berkaitan banget ama problem sehari-hari. Nonton ini bikin nyadar bahwa bingung sama hidup sendiri itu wajar banget, ya namanya juga baru pertama kali ngerasain.
6. Something In The Rain
Potret realita perempuan umur 30an yang masih lajang, terus-terusan dituntut keluarga dan society serta mesti cari duit di lingkungan kerja yang patriarkis pula.
Apik sangat.
7. When The Camellia Blooms
Tentang seorang single mother yang membesarkan dan menafkahi anaknya dengan membuka bar di kota kecil.
Aku ndak mau ngomong macem-macem. Pokoknya sebagus itu.
Semoga bermanfaat and happy binge-watching!
Minggu, 10 Mei 2020
Ritual
Izinkan aku memulai sebuah ritual
Di mana aku asyik memilih bagian-bagian favoritku
Jempol kakimu, kuping kananmu, kulit belakang lehermu
kuseduh dan kutenggak tanpa henti
Bagai pengembara kehausan yang tersesat
sama-sama tak tahu jalan pulang
Kau ingat saat kau bilang kita terlalu saling cinta sampai rasanya lebih baik mati?
Siapa yang tahu bahwa ternyata itu maksudnya peringatan dini
Hingga aku cuma bisa mengais sisa-sisa ingatan, saat kita berpegangan tangan di pinggir jalan
dan aku menatap matamu yang jelalatan karena takut ketahuan
Hidup sudah cukup berat dengan kau yang takut dan dayaku yang mengkerut
tapi kau malah balik kanan, berlari, memilih menghadang maut
Adakah tersisa?
Kini kau tak lagi berwujud, hanya serpihan yang menyerbuk
Tiga kali sehari hari kuminum, abumu kuhirup.
Di mana aku asyik memilih bagian-bagian favoritku
Jempol kakimu, kuping kananmu, kulit belakang lehermu
kuseduh dan kutenggak tanpa henti
Bagai pengembara kehausan yang tersesat
sama-sama tak tahu jalan pulang
Kau ingat saat kau bilang kita terlalu saling cinta sampai rasanya lebih baik mati?
Siapa yang tahu bahwa ternyata itu maksudnya peringatan dini
Hingga aku cuma bisa mengais sisa-sisa ingatan, saat kita berpegangan tangan di pinggir jalan
dan aku menatap matamu yang jelalatan karena takut ketahuan
Hidup sudah cukup berat dengan kau yang takut dan dayaku yang mengkerut
tapi kau malah balik kanan, berlari, memilih menghadang maut
Adakah tersisa?
Kini kau tak lagi berwujud, hanya serpihan yang menyerbuk
Tiga kali sehari hari kuminum, abumu kuhirup.
Mengulas Mimpi
Kita saling mengulas mimpi
Kamu beri aku 3 bintang
Menarik, latar yang bagus, tetapi masih banyak lubang narasi
Aku beri kamu bintang 4
Bagus sekali, paruh kedua yang melelahkan namun terbayar dengan ending yang rapi
Di luar sana
Mereka tidak pernah lagi membahas hal seperti ini
Mimpi mereka jadi gersang, setelah diberi 5 bintang
Kamu beri aku 3 bintang
Menarik, latar yang bagus, tetapi masih banyak lubang narasi
Aku beri kamu bintang 4
Bagus sekali, paruh kedua yang melelahkan namun terbayar dengan ending yang rapi
Di luar sana
Mereka tidak pernah lagi membahas hal seperti ini
Mimpi mereka jadi gersang, setelah diberi 5 bintang
Jumat, 08 Mei 2020
Tempat Kabur
Awal perkenalan saya sama dunia fiksi dan perhaluan itu kayaknya gara-gara waktu kecil dulu suka sama Detektif Conan, lalu baca buku-buku bapak saya yang sama sekali nggak saya paham artinya. Tahu anaknya kemungkinan punya minat baca, bapak dan ibu saya kadang membelikkan satu komik atau novel sepulang kantor. Saya ingat waktu dulu bapak saya pernah membelikkan komik yang judulnya "Putri Pemalas", yang saya paham betul maksudnya sebagai sindiran halus agar saya tidak jadi pemalas. Namun alih-alih menjadi rajin, saya jadi makin malas karena komik tersebut bercerita tentang putri yang hobinya tidur dan belanja online tetapi mimpinya sering menjadi kenyataan sehingga Ia dihormati dan dicintai seluruh warganya. Makin panjang lah waktu tidur saya.
Pernah juga saya ingat banget waktu kelas 4 SD ibu saya membelikan saya komik berjudul Meteor Garden aka Hanayori Dango, dan saya yakin dia saya asal beli aja karena belinya pun langsung yang Volume 6 dan jebule ada adegan kissing-nya. Saya baca itu waktu di sekolah pula, untuk nggak kesita guru.
Lanjuuuuuuttt terus itu petualangan fiksi dan perhaluan saya sampai saya nggak bisa ngitung udah berapa banyak karakter fiksi yang saya sebutkan dalam doa. Iya seriusan, dulu masih saya doain setiap abis solat. Doanya ganti-ganti entah minta dapat yang macam mereka atau agar dimunculkan parallel universe di mana saya bisa jadi tokoh utama. Munculkan dia yang bisa membuat aku berpaling dari semua lelaki tak nyata ini, ya Allah. Jadikan hidupku bersama dia lebih indah dari fiksi mana pun, ya Allah. Shit I was a hopeless romantic and I lowkey wanna slap the fuck out of my old self for being so fucking naive.
Sekarang? Jelas masih halu. Tapi halunya agak tahu diri sih kayaknya. Dulu saya menempatkan fiksi itu semacam masa depan, tapi sekarang? Ya sudah, tempat kabur. Semesta yang lain yang bisa saya lompati portalnya sesuka hati kapanpun saya mau. Saya pernah baca artikel yang bilang gini: "It's not because Netflix is interesting. It's because our lives aren't," dan saya berasa digampar. Pahit banget rasanya tapi memang betul. Fictional world is a form of escapism for me, like a warm blanket that gives me a little comfort before waking up in the morning to face this mundane, uninteresting life. Sudah lewat masa-masanya untuk saya bermimpi punya apartemen mewah dengan dinding kaca menghadap pemandangan gemerlap kota metropolitan, atau punya pasangan laki-laki paket lengkap; tampan, kaya, baik hati dan tidak pro-patriarki. Mimpi memang enak, tapi pas diwujudkan kadang cuma bikin pusing. Ibarat punya gebetan yang tidak terlalu kenal banget tapi begitu kenal hancur sudah segala imaji dan ekspektasi. Karena emang pada dasarnya, beberapa mimpi memang udah sepatutnya dibiarin jadi mimpi aja tanpa perlu ada hebeh-hebeh aksi.
Pernah juga saya ingat banget waktu kelas 4 SD ibu saya membelikan saya komik berjudul Meteor Garden aka Hanayori Dango, dan saya yakin dia saya asal beli aja karena belinya pun langsung yang Volume 6 dan jebule ada adegan kissing-nya. Saya baca itu waktu di sekolah pula, untuk nggak kesita guru.
Lanjuuuuuuttt terus itu petualangan fiksi dan perhaluan saya sampai saya nggak bisa ngitung udah berapa banyak karakter fiksi yang saya sebutkan dalam doa. Iya seriusan, dulu masih saya doain setiap abis solat. Doanya ganti-ganti entah minta dapat yang macam mereka atau agar dimunculkan parallel universe di mana saya bisa jadi tokoh utama. Munculkan dia yang bisa membuat aku berpaling dari semua lelaki tak nyata ini, ya Allah. Jadikan hidupku bersama dia lebih indah dari fiksi mana pun, ya Allah. Shit I was a hopeless romantic and I lowkey wanna slap the fuck out of my old self for being so fucking naive.
Sekarang? Jelas masih halu. Tapi halunya agak tahu diri sih kayaknya. Dulu saya menempatkan fiksi itu semacam masa depan, tapi sekarang? Ya sudah, tempat kabur. Semesta yang lain yang bisa saya lompati portalnya sesuka hati kapanpun saya mau. Saya pernah baca artikel yang bilang gini: "It's not because Netflix is interesting. It's because our lives aren't," dan saya berasa digampar. Pahit banget rasanya tapi memang betul. Fictional world is a form of escapism for me, like a warm blanket that gives me a little comfort before waking up in the morning to face this mundane, uninteresting life. Sudah lewat masa-masanya untuk saya bermimpi punya apartemen mewah dengan dinding kaca menghadap pemandangan gemerlap kota metropolitan, atau punya pasangan laki-laki paket lengkap; tampan, kaya, baik hati dan tidak pro-patriarki. Mimpi memang enak, tapi pas diwujudkan kadang cuma bikin pusing. Ibarat punya gebetan yang tidak terlalu kenal banget tapi begitu kenal hancur sudah segala imaji dan ekspektasi. Karena emang pada dasarnya, beberapa mimpi memang udah sepatutnya dibiarin jadi mimpi aja tanpa perlu ada hebeh-hebeh aksi.
Langganan:
Postingan (Atom)