Kamis, 26 Mei 2016

Kacamata

Pandanganku mengikutimu seperti bercak kecil di sudut kacamatamu
Tak terlihat, tak mengganggu, tak berbayang
Berusaha keras menutup diri agar tidak kau hilangkan

Demikian Demi Kamu

Menggagas mimpi dengan jalan penuh keringat dan retakan tulang demi kamu di ujung sana.
Kamu utopia, yang tetap akan kupuja walau penuh luka.
Dengan rakus akan kucumbui tiap jengkal kenistaanmu.
Dengan sabar akan kurawat tiap lapis topeng jiwamu.

Sabtu, 26 Desember 2015

Dua Bulan Setelah Papa 'Pulang'

Assalamu'alaikum, Pa.

Nggak terasa udah dua bulan Papa 'pulang'.
Karena rasanya baru kemaren Efha ngerasain kaki Efha lemes banget pas liat RU BBM penuh dengan foto Papa. Penuh dengan ucapan selamat jalan.
Semua sesayang itu sama Papa.
Efha lagi di bandara lho, Pa, lagi nunggu bus DAMRI berharap ketemu Papa, biar bisa ngebujuk Papa yang kata Mama kekeuh banget nggak mau ke rumah sakit.
"Papa nggak mau dirawat lagi, Nak. Takut disuntik lagi kaya kemaren sampe 10 kali," kata Mama, abis denger Efha ngedecak gara-gara kesel banget denger Papa nggak mau ke rumah sakit.
Pengen pingsan lho Efha rasanya waktu itu, Pa. Tapi Efha mikir klo pingsan di shelter DAMRI nggak elit juga.
Mata Efha juga waktu itu udah penuh air mata lho, Pa. Kaya sekarang ini. Nonggakin kepala ke atas, mati-matian nahan air mata. Berasa kaya ada pegas gitu di tenggorokan, yang narik-narik bikin sesek napas.
Papa lihat Efha kah waktu itu?
Klo iya, mungkin Papa juga ngeliat abis itu Efha ditelpon Mamah. Efha minggir ke daerah taman. Berusaha keras nggak sesenggukan. 
"Nak, udah sampai mana?"
Suara Mama tenang banget, Pa. Luar biasa tenangnya.
"Papa di rumah sakit mana, Mah?" tanya Efha langsung.
"Hah, enggak di rumah sa--"
"Dimana, Mah!?" sampai naik gitu suara Efha pas ngomong sama Mamah. Ya Allah maapin.
"Papa di rumah kok, Sayang. Itu lagi tidur di kamar."
Tes. Jatuh aja air mata Efha, Pa.
"Oh, yaudah, Ini Efha udah nyampe lagu nunggu DAMRI, Mah. Efha naik taksi aja kah biar cepet?"
"Nggak usah. Naik DAMRI aja ya biar aman. Nanti dijemput Aa Bandi di Kalimalang."
Bahkan Mamah pun masih berusaha nyembunyiin lho, Pa. Berusaha wajar, berusaha menunjukkan keadaan baik-baik-aja-nak-kamu-nggak-perlu-cepet-cepet-sampe-rumah.

Udah dua bulan dan rasanya kaya baru kemaren ya, Pa. Karena mata yang berkaca-kaca ini masih sama. Rasa sesak di tenggorokan Efha ini juga nggak hilang-hilang.
Rasanya baru kemaren Efha duduk di atas tempat tidur Papa. Tempat terakhir Papa sholat Ashar abis itu pergi sama malaikat Izrail. Diem aja lama lalu nangis kejer sesenggukan.
Rasanya baru kemaren Efha dengerin lagu Putih-nya Efek Rumah Kaca on repeat semaleman sebelum pemakaman. Berusaha kuat, berusaha tegar, Berusaha menerima.
Oya, lagunya bagus lho, Pa. Nggak kaya lagu ajep-ajep yang suka Papa hina itu klo Efha nyanyi-nyanyi. Nyesel juga nggak pernah ngasih tau lagu itu ke Papa. Papa pasti suka.

Udah dua bulan dan rasanya kaya baru kemaren ya, Pa.
Sekarang Mamah rame terus di grup kita di Whatsapp. Berusaha banget buat keep in touch sama anak-anaknya kaya Papa dulu. Walaupun sering typo sana sini haha Papa juga tau lah pasti.
Sekarang Aya juga udah nggak sama Mbok lagi. Mbok sakit, jadi nggak bisa lagi jagain Aya terus-terusan. Tapi sekarang Aya udah punya temen kok, Pa, Teh Imas namanya. Persis kaya Imas yang di sinetron Preman Pensiun kesukaan dia. Makin rajin juga sholatnya, nggak pernah absen ngedoain Papa. Kan kaya yang pernah Papa bilang, soal ibadah Aya emang juara. Kalah kakak-kakaknya mah, bahkan Efha ini yang Papa pesantrenin dari SMP. Malu juga sih hehe.
Neysa juga makin makin makin lucu banget, Pa. Sekarang udah bisa tengkurap. Berantem mulu ama si Nizam, Kemaren Ka Diana ngirim video mereka berdua berantem hehe. Tapi seriusan, Pa, ganteng dan cantik banget cucu-cucu Papa. Kayaknya mesti dipesantrenin deh biar nggak banyak pacarnya.

Udah dua bulan dan rasanya kaya baru kemaren ya, Pa.
Kadang Efha ngerasa nggak percaya. Nggak percaya kok secepat itu. Nggak percaya kok Papa perginya nggak ngucapin selamat tinggal. Nggak percaya kok Papa pergi gitu aja. Tanpa firasat, tanpa pemberitahuan tersirat yang setidaknya bisa bikin Efha mengerti dan memahami dengan lebih baik. Karena rasanya masih nano-nano, Pa. Berasa ada dan nggak ada. Nggak sedih, tapi kosong. Berasa Papa masih disini, lalu kemudian megap-megap kesakitan karena dipukul keras sama kenyataan bahwa Papa udah nggak sedimensi lagi. 
Kadang klo pagi-pagi nggak ada kerjaan tanpa sadar Efha ambil handphone jadul pemberian Papa itu, speed dial, kangen banget pengen nelpon Papa...
....
...
..
Oh iya.
Papa udah 'pulang'.

Semoga ibadah anak-anakmu ini bisa lebih istiqomah, biar bisa ngangkat derajat Papa dan Mamah di akhirat nanti, aamiin.

Minggu, 25 Oktober 2015

Semoga Ini Post Terakhir Tentang Menunggu

"Kelak, jangan pernah mau dengan dia yang selalu membiarkanmu menunggu."

Andai kau mengatakan itu sebelum kau pergi, Pa.

Mungkin aku akan lebih jarang memasang senyuman letih,

Mungkin aku akan lebih pandai membalikkan badan.

Mungkin aku akan lebih pintar memaki lalu meninggalkan.

Mungkin aku tidak akan terdiam di kursi dan meratap di saat yang kutunggu sedang asyik terlelap.


Gambar diambil di sini

Jumat, 18 September 2015

Itu - Itu Saja

Tumpahan kata yang itu-itu saja

Langkah kaki yang itu-itu saja

Alunan suara yang itu-itu saja

Tahukah kamu?

Berkali-kali aku berdoa supaya aku lekas bosan dengan kamu yang begitu-begitu saja

Namun doaku tak kunjung dikabulkan Tuhan

Kata-katamu masih menghangatkan hati

Langkah kakimu masih memacu debar

Suaramu masih menimbulkan rona

Lucu sekali rasanya

Aku begini saja tak bisa apa-apa

Disini saja tak bisa kemana-mana

Kamis, 27 Agustus 2015

Fly

Maybe you're such like a heroine
Like a nicotine
Like a glass of Chianti

The fact that I've never tasted them all,

Is the fact that you make me feel something I've never felt before.

Just look at your smile,

Then I would already fly.

Yogyakarta, 27th of August 2015
When I hear my brain whispers "Crap. You're in trouble, Babe."

Minggu, 26 Juli 2015

Belated Birthday Note

Sometimes life offers you so many stories to write, so many chances to get, so many wounds to be healed, and so many people to be loved.

And at this point, after the 19th trip of me surviving around the sun, I know that the best way to live this damn life is to laugh.

Laugh at those heartbreaks, laugh at the stupidity, laugh at those silly things I've ever done, laugh at those twisted games that got me black and blue, laugh at this goddamn universe...

And also, be grateful.

Be grateful because God still let me have so many people to laugh with...

Have many people to cry with...

Have many people to argue with...

And have many people to share life, love, happiness, fear, and the excitement of this bitchy life.

I never know how or when this journey will end.

Yet somehow I believe that I still have a long, winding road to walk.

Rabu, 15 Juli 2015

Book Review | I've Got Your Number by Sophie Kinsella

Judul Buku : I've Got Your Number
Pengarang : Sophie Kinsella
Penerbit : Gramedia Penerbit Utama
Ukuran : 11 x 18 cm
Tebal : 576 halaman
Terbit : Mei 2012
ISBN : 978-979-22-8408-9

Ini buku lama banget dan boleh dapet dari bazaar buku Gramedia LOL.

But hey, Sophie Kinsella is a great writer though. I knew her from "Confessions of Shopaholic" (I read and watched the movie). Honestly I'm just not that into Kinsella's or Meg Cabot's, and I'm just more into Linda Howard's or Sandra Brown's, but this book is just so amazing (and makes me think that I should read more chicklits).

Poppy Wyatt was engaged with a perfect man, Magnus Travish. Magnus proposed to marry her and gave her a beautiful ring. But due to some champagnes she got drunk, and the ring was lost. So Poppy looked for it like crazy because she was going to meet Magnus's parents. Her phone was lost too, and surprisingly on a trash, she found a phone! She took and used it. But Sam Roxton, the owner of the phone, wanted his phone back. So after those witty negotiations, they shared the phone.

I love this book because Kinsella is so smart of making funny dialogues, great narration, and twisted plot. This book told us that sometimes some things that we think are best for us, actually not. But universe will tell us in so many ways, and all we have to do is to find the signs. Someday we have to choose spontaneously, to get our own happiness (like Poppy, who has fallen in love right before her wedding). And this book teaches us how not to be afraid to take chance and be proud of ourselves.

And for Heaven's sake, I love Sam Roxton!!!! XD

"Sometimes wrong number leads you to Mr. Right."

Jumat, 10 Juli 2015

Karena Sialnya

Karena sialnya, jika maju aku takut akan pilu, dan jika mundur pun terlalu merindu.

Bagaikan menjejak runtuh lalu melesak jatuh.

Enggan berharap tapi tak henti meratap.

Hanya diam tergugu, menatap tak jemu hingga hati membiru.

Tersenyum pahit di setiap bayangan, memaki sendu di setiap ingatan.


Jumat, 19 Juni 2015

Masih

Aku melepas dengan hati

Berharap tidak terikat lagi

Tapi kau tidak juga menepi

Dan asaku enggan akan sepi

Kadang datang, kadang pergi

Masih merindu, masih menunggu

Mungkin sampai harapku mati

Mungkin sampai lukaku sembuh sendiri.