Senin, 25 Mei 2015

Happily Waiting

“Happiness is something that you live in your life, not something that you get in the end of your life. Don’t wish for happiness. Just live your life happily,” they said.

So here I am, in the middle of nowhere, in the twisting game that has been given by this universe, in the momen when I’m stuck in the same pattern and lost in a same labyrinth over and over again, in the moment when I know that you know but you seem like don’t really want to make this grow, in the moment when you’ve got me fucking wrapped around your finger but you don’t even fucking care...

I. Am. Happily. Waiting.

Waiting for all people to punch me in the face and make me sober, waiting for the moment when my heart could finally say “I’m no longer falling”, waiting for the day when my stomach could stop aching when I hear your name, waiting for the moment when I would laugh freely at this stupidity.

The stupidity of being controlled by a person who doesn’t even want to take control.

Heck it. 

Give it to God and go to sleep.

Minggu, 24 Mei 2015

Berkelahi

“Bapakmu dulu nakal sekali! Zaman kecil, sering sekali Ia berkelahi dengan pamanmu. Pernah suatu hari mereka berkelahi, saking marahnya pamanmu, dikejarnya bapakmu itu dengan membawa parang. Suatu hari pernah juga Kakek sedang sholat sementara pamanmu dan bapakmu itu berkelahi. Tak sengaja dilihatnya pamanmu mengambil pisau dari atas lemari, langsung berhenti lah sholatnya.”

Aku bengong, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Serius, Cik?” tanyaku disela-sela tawa.

“Iya, serius. Kami itu saudara sering sekali berkelahi waktu kecil. Aku juga dulu sering berkelahi dengan Acikmu yang lain. Lihat lah pamanmu itu! Waktu kecil mana bisa Ia ditinggal dengan adiknya, sekalinya ditinggal sudah saling terjang!”

Aku tertawa, menatap pamanku yang tersenyum malu.

“Tetapi sudah berumur begini, tak pernah sekali pun kami berkelahi, malah saling bantu. Nyaman rasanya. Berbeda lah dengan orang-orang lain yang waktu kecil akur dengan saudara-saudaranya, tapi beranjak besar malah sinis saling menjatuhkan.”

Aku terdiam, lalu meringis. Tiba-tiba teringat dengan kakak dan adik di rumah. Rindu.

Mungkin bagusnya kami terus berkelahi di masa muda, pikirku. Teruuus bertengkar sampai lelah, menikmati kesenangan masa muda. Hingga akhirnya, di masa tua kami hanya akan mensyukuri keberadaan satu sama lain. Tertawa bersama, mengingat kebodohan lama.


Gambar diambil di sini

Sabtu, 23 Mei 2015

A Walking Paradox

Depok beach, May 23rd 2015

Di jalan berdebu yang kupikir akan menuju kamu, aku tak tahu harus menyesal atau bersyukur.

Yang aku tahu, rasanya tidak nyaman, terlalu banyak harapan.

Dadaku seperti tamborin yang dipukul, menghentak-hentak, memacu derasnya aliran darah.

Konyol! makiku jengkel, mengutuk skenario tabu nan pilu yang tak hentinya membayang.

Tapi saat di ujung jalan tak ada kamu, mulutku kaku, bimbang luar biasa.

Tersenyum dan meringis pada saat yang bersamaan rasanya lebih perih daripada yang kuduga.

Maka, sudut bibirku mulai berkedut, lalu aku pun tertawa.

Keras, lantang, penuh luka.

Sial.

Hatiku ternyata tak mau mati rasa.

Jumat, 22 Mei 2015

Ale Risjad at a glance

CRITICAL ELEVEN PO TANGGAL 1 JULI, BOI!

Ya, saya ternyata se-histeris ini.

Sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun saya menunggu novel ini keluar sejak cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Autumn Once More. Ika Natassa yang sukses membuat delusional ribuan wanita Indonesia, kini berusaha mengguncang lagi sisi hopeless romantic para wanita dengan menerbitkan novel Critical Eleven ini. Sambutannya luar biasa pula, ratusan mention dan komentar sepertinya berseliweran di Twitter dan Instagram sejak Ika Natassa mem-post pengumuman tentang PO dan cover novel ini. Duh, cover-nya pun menjanjikan. Sederhana tapi juga unik, tipe-tipe cover novel yang tidak berbicara banyak kepadamu, tapi bekerja langsung ke saraf tanganmu. Iya, rasanya langsung pengen ngambil terus bawa ke kasir.

Figur Ale Risjad sebagai tokoh utama pun sepertinya dapat menjadi kandidat kuat untuk menggeser posisi Beno Wicaksono sebagai The Best Fictonal Man Ever versi saya. Ya, di antara ratusan novel yang pernah saya baca dengan tokoh laki-laki bagaikan dewa, bagi saya Beno Wicaksono dari novel Divortiare dan Twivortiare tetap menjadi yang pertama.

I want to say Ruly Walantaga, but his inability to love Keara has broken my heart. L

Anyway, tokoh Ale Risjad yang sudah di-spoiler-kan oleh Sang Maha Pencipta Fictional Men Kanjeng Ratu Ika Natassa ini sepertinya cukup menjanjikan. Dari cerpennya, Critical Eleven menceritakan secara singkat (terlalu singkat malah, bikin penasaran) tentang pertemuan si Ale dengan sang tokoh utama perempuan yang bernama Tanya. Gaya penulisan Ika Natassa yang asyik dan witty menjadi daya tarik utama bagi para pembaca setianya, termasuk saya. Walaupun POV cerita dibuat berdasarkan sudut pandang Tanya, Ika Natassa dapat secara apik mendeskripsikan sosok Ale yang sangat jauh berbeda dengan Harris Risjad, adiknya, yang lebih dulu dikenal dari novel Antologi Rasa. Ale ditampakkan sebagai orang yang ramah dan baik, gentleman, dan mungkin juga rajin menabung, berbeda dengan Harris dikenal sebagai bad boy dan PK (I’m quoting Keara here). Tweet-tweet-nya di akun yang ber-username @AleRisjad pun cukup untuk membuat saya jatuh cinta. Pokoknya, Ale Risjad terlihat seperti laki baik-baik, dan suami-able.

Tetapi ini hanya pengenalan at a glance dari tweet dan cerpen, dan saya sangat tidak sabar menunggu novel ini, untuk mengenal Ale Risjad seluruhnya.



 Gambar diambil dari akun Twitter @AleRisjad 

Kamis, 21 Mei 2015

Senyuman Emak

“Efha, nanti klo udah lulus, mau kerja atau nikah?” tanyamu waktu itu.

Aku terdiam. “Kok nggak ada pilihan kuliahnya, Mak?”

Tentu, semua orang di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.

Lalu kau ikut tertawa, baru menyadari bahwa zaman beranjak berubah, waktu terus berjalan dan pola pikir orang-orang berkembang. Berbeda dengan masamu, kuliah adalah hal yang lazim pada saat ini, bahkan suatu keharusan di mata masyarakat “beradab”.

Tapi sekilas aku bisa melihat percikan syukur di matamu. Mata yang sudut-sudutnya telah dihiasi keriput itu menyipit karena tawa, tapi binar yang terpancar dari matamu tak pernah lelah menunjukkan cerminan hati pemiliknya. Binar penuh rasa penerimaan yang tulus, dan rasa syukur yang ikhlas, sesuai namamu.

Qana’ah. Menerima.

“Yaa, yaudah klo mau kuliah dulu mah. Yang penting kuliah yang bener ya, Fha, biar jadi sukses. Emak mah doain terus,” katamu.

***

Entah mengapa, adegan itu yang terputar di kepalaku hari ini. Sejenak setelah aku menerima telepon dari ayahku.

“Fha, Emak sudah meninggal,” katanya. Sendu.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Seperti rekaman yang terputar otomatis, adegan-adegan saat kau ada di depanku berkelebat di kepala. Saat aku kecil, saat ayah dan ibu sibuk bekerja, kau yang mengejar-ngejarku seharian, meladeni semangat anak kecil kurang ajar yang kabur dari neneknya karena tak mau disuapi. Saat aku sakit tifus, kau yang mengusap-usapi kepalaku, membujukku agar aku tertidur, menenangkan aku jika aku meronta karena nyeri kesakitan. Saat aku beranjak dewasa, kau yang tak pernah bosan menyambutku saat aku mengunjungimu. Bahkan saat aku semakin jarang datang, semakin jarang mencium punggung tanganmu, semakin malas menemuimu hingga harus diingatkan oleh orangtuaku sendiri.

Tapi ada satu hal, senyum itu tetap sama. Senyumanmu yang tulus dan lebar hingga membuat matamu menyipit. Senyum penuh rasa syukur yang dihiasi dengan binar mata penuh rasa penerimaan.

Semoga kau akan tetap tersenyum di atas sana, Mak.

Al-fatihah...


Gambar di ambil di sini

Jumat, 15 Mei 2015

Tawa

"Sesuatu yang membuatmu menangis keras hari ini, kelak akan membuatmu terpingkal-terpingkal," katanya.

Tetapi, jarak antara "hari ini" dan "kelak" itu sesuatu yang tak seorang pun tahu, bukan?

Sekarang ini, aku bisa saja menangis sambil tertawa, menertawakan diri sendiri dan kebodohan yang terus berulang. Aku bisa saja tersenyum cerah ceria, pura-pura mati rasa dan tak tahu apa-apa. Aku bisa saja menangis tanpa jeda, membanting apapun yang ada di depan mata, menyesali semua yang ada.

Tapi apa yang kulakukan? Tidak ada. Hampa. Karena melepas sesuatu yang sesungguhnya tak pernah kau miliki itu rasanya lebih konyol daripada lelucon manapun, tetapi juga lebih menyedihkan daripada cerita apapun.

Kapan aku akan tertawa lepas karena alasan yang sama sekali berbeda? Tertawa lepas dengan mata yang berbinar? Bukan tawa palsu yang dihiasi mata sendu penuh rasa kecewa?

Ya Tuhan, semoga secepatnya.

Senin, 13 April 2015

Penyayang

Pada akhirnya mungkin kau hanya akan jadi penyemangatku ketika terpuruk, pembawa senyum ketika gelisah, penabur mimpi saat ku tertidur, dan pemberi kasih ketika sepi melanda.

Pada akhirnya mungkin aku bukan lah orang yang tepat untukmu, karena saat mereka bilang, “Kau jatuh cinta pada orang yang tepat jika orang itu mengubahmu menjadi lebih baik”, aku tahu, dengan rasa sakit yang berdarah-darah karena masih bisa kuingat jelas saat pertama kali menyadarinya, bahwa aku mungkin sudah jatuh cinta dengan orang yang tepat, tetapi kau tidak.

Pada akhirnya mungkin kau tidak akan pernah mencintaiku. Kau hanya seorang penyayang.

Gambar diambil di sini

Minggu, 29 Maret 2015

Benang

Aku tak pernah memimpikan kamu.
Kamu bergerak terlalu cepat.
Tanpa membayang, jauh dari tangkapan.
Bagai kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya perlahan lalu pergi lagi, seakan menggoda agar aku terlena.
Tetapi aku mundur, tahu diri, tak mau berangan terlalu tinggi.
Melanjutkan hari, menempuh belantara sepi sendiri.
Lalu semesta memainkan perannya perlahan dalam diam.
Mengejutkanku tanpa persiapan, terpaku pada benang milikku dan milkmu yang entah mengapa bisa bertautan.
Ya, itu milikku. Tipis, rapuh, dengan sisa upaya berusaha mengaitkan harapan.
Tetapi... Ini bukanlah sesuatu yang kita rencanakan bukan?
Aku hanya menjalankan lelucon Tuhan, sambil diam-diam meringis, sambil kadang-kadang menangis.
Bodoh? Aku sendiri pun tahu.
Namun aku bersyukur bahwa setidaknya kau masih berkenan membagikan senyum harga sejuta milikmu itu.
Bersyukur bahwa bagaimanapun, kau sudah membuatku tertawa lepas tanpa ragu.
Pikirku, layakkah bagiku untuk tenggelam di sepersil surga artifisial ini?
Detik itu juga, hatiku seakan langsung menyahut, "Setelah jutaan luka-luka kecil di dalam sini, ini adalah jawaban dari doa-doamu selama ini."
Hey, ternyata otakku tidak terima, Ia gandeng kemarahan dan rasa kecewa, bersama-sama berunjuk rasa.
"Jawaban doa macam apa yang selalu membiarkanmu menunggu?!" kata mereka.
Entahlah.
Tapi toh bagaimanapun, benangku masih menautkan dirinya, belum mau lepas, belum ingin tuntas.
Ia acuhkan pertengkaran antara otak dan hati, bertahan dengan sisa daya yang ada, walau letih.
Lalu aku menyadari...
Mungkin saat aku mulai membuat alasan untuk sikapmu yang membuatku berasa ingin mati saja, saat itu lah aku benar-benar mengerti...
Aku memang butuh kamu.

Sabtu, 21 Juni 2014

God Saves The Best For Last

Ada saat dimana aku sudah lelah berjuang, membenci kamu, memaki kamu di setiap napas yang kuhirup, berdoa supaya nanti kamu akan merasakan sakit yang sama.

Tetapi ada juga saat dimana aku sabar menunggu kamu dan berdoa untuk kebaikanmu, mengharapkan kamu datang dengan hanya sekedar sapa dan ucapan apa kabar, membuaiku kembali dengan ucapan bahwa kamu masih menginginkan aku, sehingga aku bisa tersenyum senang dan menipu diri sendiri.

Ada saat dimana aku bahagia hidup tanpamu, dengan senang hati membuat kenangan baru dengan orang-orang yang tulus bersamaku bahkan sebelum ada kamu, menjalani hari dengan berjuta harapan akan cinta yang lebih baik, akan cerita yang akan kuukir dengan dia yang telah ditakdirkan untukku, yang dengan hanya bersamanya lah aku mampu membangun surgaku sendiri.

Tetapi ada juga saat dimana aku berhenti tersenyum saat namamu muncul tiba-tiba entah dimana, saat melihat kamu bahagia dan menyadari bahwa aku belum bisa seikhlas itu, saat dimana aku berpikir bisa-bisanya aku dengan mudahnya menerima dan berasumsi bahwa aku bisa bersama orang lain saat aku tahu bahwa luka darimu masih belum bisa kusembuhkan.

Apa kamu tahu bagaimana rasanya mempunyai tombol perasaan yang tidak bisa dikontrol sama sekali? Rasanya menatap ke depan tetapi juga tak bisa lepas dari cengkraman masa lalu? Rasanya membencimu sekaligus mencintaimu? Rasanya berusaha melupakanmu tetapi juga berjuang mempertahankanmu untuk tetap di hidupku?

It’s funny when I try hard to move on but at the same time, hold on.

Hanya Tuhan yang tahu betapa hebat perang dalam diriku ini, antara memaafkan kamu atau mendoakan segala hal yang terburuk di dunia ini menimpa kamu. Dan juga hanya Dia yang tahu bagaimana aku bisa mempunyai energi untuk mencintai sekaligus membenci seseorang sampai sebesar ini.

Kamu tahu? Kamu penghancur terindah yang pernah kutemui.

Tapi di antara semua lelucon Tuhan yang tak henti-hentinya membuatku tertawa dan menangis di saat yang bersamaan, aku masih punya pendirian untuk tidak memberikanmu kesenangan untuk menyiksaku. Aku masih punya keyakinan bahwa Dia terus mengujiku dengan kehadiranmu agar aku bisa mempersiapkan diri untuk bertemu takdirku, membuatnya bangga karena semesta sudah menyiapkan untuknya wanita sekuat aku. Lelucon Tuhan memang tak pernah henti membuatku sengsara, tetapi aku yakin rencana-Nya nanti akan membuatku menangis saking bahagianya.

Jaga dirimu dari aku, dari kita. Aku juga sedang menyelamatkan diriku sendiri dari kamu. Apa yang pernah kita bangun selama ini tidak sia-sia, tetapi hanya layak untuk dijadikan pelajaran. Bahkan jika kemungkinan dan harapan entah bagaimana masih ada, akhirnya kita hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Berbahagialah. Disini aku sedang menuju kebahagiaan yang lebih baik.


Yogyakarta, 20 Juni 2014. 19:40

Senin, 26 Mei 2014

Choice

Dua jam ini aku hanya duduk termangu di depan kaca yang menghadap halaman rumahku. Memikirkan hal yang belum tuntas, yang masih menggantung di kepalaku. Berbagai pertanyaan berceceran di benakku. Bagaikan sengatan lebah yang tak henti menyengat, pertanyaan pertanyaan itu pun memukul kesadaaranku berkali-kali.

“Ra!”

Aku menolehkan kepala dan kulihat tunanganku tersenyum, lelaki yang 3 hari lagi akan kunikahi.

“Aku cari-cari kamu dari tadi. Kamu dipanggil ibu, Sayang, kita dipinta cek progres di tempat resepsi,” ujarnya sambil tersenyum.

Kupandang laki-laki yang sedang berjalan ke arahku itu. Tidak pernah sekejap pun ia berlaku kasar. Tampan, berwibawa, dewasa, dengan trust fund yang akan membuat perempuan manapun iri kepadaku. 10 tahun terakhir ini kami sudah saling mengenal. Seperti sudah ditakdirkan sejak lahir, after a countless smiles, hugs, laughs, fights, and obtacles, we're finally sure that we could make it work dan memutuskan untuk menikah. Hanya Tuhan yang tahu betapa besar aku mencintainya, tetapi juga hanya Tuhan yang tahu betapa keras dan betapa gagal usahaku selama ini untuk menyingkirkan masa lalu.

Ia berdiri di belakangku, merangkulkan tangannya di sekelililng pundakku dan mencium puncak kepalaku. “Kamu lagi mikirin apa, Sayang? Kok ngelamun aja kayaknya dari tadi?”

Aku tersenyum, mendongakan kepala. “Gapapa, Cinta. Cuma lagi mikirin, nanti kita bulan madu dimana? Udah H-3 dan kamu juga masih nggak mau ngasih tau aku. Itu kejam, tau.”

Dia tertawa. Ah, that laugh. “Oalah, kalau soal itu, maaf banget ya, Sayang. Sampai nanti kita di sana aku nggak akan jawab soal itu.”

“Fine. Don’t talk to me, then. Sana jauh-jauh! aku lagi dipingit!” Ujarku galak.

“Emm... Ngambek ini ceritanya?” Ujarnya sambil tertawa. Ia melepaskan rangkulannya, berjongkok di hadapanku dan meletakkan tangannya di pangkuanku. “Terserah kamu deh mau ngambek sampai kapan, tapi jangan ninggalin aku pas ijab-kabul ya, Yang. Aku udah nunggu 10 tahun untuk momen 3 hari lagi dan aku juga nggak mau hidup tanpa kamu,” katanya lalu mencium ujung hidungku.

Laki-laki dan kata-katanya, ya Tuhan.

“Idih, cheesy banget kamu, Yang!” kataku sok cool tetapi dengan pipi merah luar biasa. “Nggak bakal lah, Sayang,” tambahku dengan tersenyum.

Lalu kami tertawa bersama.

Hidup denganmu akan membahagiakan dan aku bahkan bisa melihatnya dari pantulan matamu, Za. Tetapi mengapa aku tak bisa balik kanan dengan sempurna dari masa laluku?

***

Sebaris pesan di ponselku langsung membuatku terdiam.

Starbucks sarinah, 5 pm. Please, Ra. We need to talk.

Crap. Keep screwing me up, Al. Just keep screwing me up.

Kubiarkan pesan itu, lalu memasukkan ponsel ke dalam handbag. Fokus menatap ke depan jalan, pura-pura tak ada hal yang penting dari pesan itu.

Tapi lelaki tercintaku itu terlalu mengenalku, ternyata.

“Siapa, Ra? Algi, ya?”

Oh, shit.

“Well...”

“I know you too well, Honey. So just tell me,” jelasnya sambil —ya Tuhan— tersenyum. Ini masa laluku dan aku masih belum bisa lepas darinya, Za, kenapa kamu terlalu baik kepadaku?

“Eumm... Iya, Za. Ngajak ketemu nanti sore. Biarin aja lah, toh aku juga nggak bakal dateng.”

“Kamu harus dateng, Ra.”

What?

“Nggak usah lah, Sayang. Ngapain juga, lagian aku juga nggak mau. Apa banget sih kamu,” ujarku defensif. Ini aku tunangan dengan malaikat atau gimana sih?

Ia menepikan mobil, lalu memegang tanganku dan berkata, “Ra, aku dan kamu tahu ada yang belum selesai antara kamu dan dia.”

“Udah selesai, Za. Bener-bener selesai! Besok kita nikah! Kamu lupa?”

“Nggak mungkin aku lupa hal itu, Sayang. Itu hal yang udah aku tunggu-tunggu selama hampir sepertiga hidup aku, tapi kamu tahu nggak?”

“Apa?”

“Aku nggak mau nanti, pas kita udah menikah, kamu tersiksa rasa bersalah karena nggak bisa ngeluarin Algi dari pikiran kamu. Aku udah kenal kamu selama 10 tahun, Ra, dan harus mengenal kata ‘kalian’ tanpa aku terlibat di dalamnya selama 3 tahun terkutuk itu dan aku tahu gimana sayangnya kalian satu sama lain dulu. Aku nggak perlu diyakinin lagi, aku tahu kamu cinta sama aku sekarang dan aku juga lebih cinta sama kamu. Tapi diri kamu, diri kamu sendiri yang perlu diyakinin, Ra. Kamu yang harus menyelesaikannya. Aku nggak bisa ngebiarin kamu nggak bahagia di pernikahan kita. Makanya, nanti sore kamu dateng ya, dan selesaikan benar-benar.”

Karena itu aku mencintaimu, Mirza Adriansyah, karena itu aku ingin menikahimu. Karena kamu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri.

“Kamu yakin?” tanyaku.

Tidak ada keraguan sama sekali di matanya saat ia menjawab, “Yakin.”

“Well... Okay. But, Honey, can I ask you something?”

“Anything, Darling. What?”

“Kamu tu nggak pernah cemburu atau gimana sih?”

Dia tersenyum dan berkata, “You know, Ra? Aku mengerahkan segenap kesabaranku untuk nggak membayangkan Algi sebagai kaca mobil ini dan meninju-nya sampai pecah berkeping-keping.”

***

Dia melambaikan tangan, mengisyaratkan agar aku menghampirinya. And there he is, Algi Anggara, charming as always. The one who has messed with my head so much even now, after 7 years, since the last time we said “I love you” to each other.

“Apa kabar, Ra?”

“Baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri?”

“Fine. Duduk, yuk.”

Aku duduk dan meletakkan handbag-ku di pangkuanku. Pandanganku tertumbuk pada dua Frappucinno di atas meja.

“Aku sudah mesenin kamu Frappucinno favorit kamu, with extra cream on top. Seperti waktu kita sering bareng dulu. Gapapa kan?”

“Gapapa kok,” ujarku sambil tersenyum. Dan izinkan aku untuk membayangkan betapa puasnya tampangku saat aku menyiramkan Frapucinno itu ke muka kamu, Algi Anggara.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa mempunyai energi untuk membenci orang sampai sebesar ini.

“Uhm, so... Tomorrow you’re going to get married, huh?” tanyanya.

“Yep. Undanganku udah nyampe kan?” Dan scene saat aku marah-marah kepada Mirza karena telah mengundangnya berkelebat di kepalaku.

“Udah, kok. But, well, I still couldn’t believe it.”

“Believe what? Bahwa aku akan menikah? I’m already 27, Al. Masa iya aku nggak nikah-nikah?” kataku sambil tertawa kecil.

“Bukan, bukan itu.”

“Apa dong?”

“I still can’t believe that you’ll get married, but not with me.”

The ego on you, Man. Minta disiram banget ni laki-laki satu, asli.

“Oh come on, Al. Life runs, people change. You can’t have everything you want. This is me and I’m happy with him.”

“Really?”

Menurut lo, mas?

“Iya, Algi. Aku bahagia sama Mirza. Dan aku yakin ingin menikah sama dia,” kataku mantap. Bangga terhadap diriku sendiri karena aku bisa mengucapkan hal itu dengan mudah di hadapannya. “Kamu sendiri kapan nikah? Undang aku sama Mirza lho, jangan lupa.”

Dia tertawa kecil, “Belum, Ra, dan klo kamu nanya itu sebelum kamu memutuskan nikah sama Mirza, mungkin jawabannya bakal beda,” balasnya sambil menatapku.

Wanna get your mojo on me, Man? Don’t waste your time, I won’t buy it.

“Algi, berhenti main-main, udah waktunya buat kamu settle down dan membangun rumah tangga,” kataku.

“How can I be settled down if since we broke up I couldn’t be serious with any women?”

Mungkin karena itu aku membencimu terlalu parah, Algi Anggara, karena kamu mengatakan itu padahal saat kita bersama kau tak pernah menunjukkan kesungguhanmu. Tetapi mungkin karena itu juga kamu terlalu melekat di kepalaku, Al. Terlalu melekat karena kau mengakhirinya terlalu mudah. Terlalu melekat karena kau mengubahku menjadi diriku yang sampai saat ini masih membenci kamu dan tak pernah berhenti menyesali keadaan.

Dan kini, izinkan aku mengakhirinya —I’m quoting Mirza here— dengan benar-benar. Aku mungkin pernah mencintaimu jungkir-balik, Algi Anggara, tetapi aku bersyukur karena aku tahu sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah memilih, dan pilihan itu bukan kamu.

“Anggara, you should know, I came here not because I want to get some flashes back to us. I came here to convince myself that we’re truly end. And yeah, I know that finally we are. You’re still in my mind sometimes but I already had someone who’ll lift me up when I drown in my pain because of you. It’s been 7 years but I think the wound hasn't been healed, Al. It’s been 7 years and I still constantly think why we ended up that way. I hate you so much and still regret how we hurt each other, even now, a day before my marriage. But my life has to run, Al, I have to live my life with or without you. And now I’ve got Mirza by my side, and only God knows how much I love him. I’ve picked my own happiness and I’ll forgive you for everything you’ve done if you also pick yours,” there I just said it. Lega luar biasa.

Ia terdiam, tak mengatakan apa-apa dan hanya memandangku. Tetapi matanya mengatakan segalanya.

“Pikirkan kata-kataku ya, Al. aku mungkin membencimu setengah mati tetapi aku tetap ingin kamu bahagia. Dan saat kamu sudah menemukan dia yang kamu sayang, pastikan kamu nggak akan menyia-nyiakannya seperti kamu menyia-nyiakan aku,” ujarku mantap.

Lalu aku pergi, meninggalkan kenangan dan potongan terakhir nama Algi Aggara dari hatiku.

***

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayara Anjani Musa binti Abraham Musa dengan mahar seperangkat alat sholat dan sebuah rumah dibayar tunai.”

“Sah? Sah?”

“Sah!”

Oh, here comes the tears. Cengeng banget aku ini, tapi tak ada yang lebih membahagiakan daripada kenyataan bahwa kau telah menyempurnakan sebagian agamamu, bukan?

Lalu aku menatapnya. Laki-laki itu, yang tadi mengucapkan ijab-kabul dengan mantap dan sempurna. Laki-laki itu, yang sekarang menatapku penuh rasa syukur, dan dunia pun tahu betapa aku sangat bersyukur memiliki ia sebagai suamiku.

“I love you, Mrs. Mirza Adriansyah,” ucapnya sebelum ia mencium keningku. Gosh, I’ve never known that calling could be that sexy!

“I love you too,” balasku. Kali ini tanpa ragu. “Sekarang boleh aku tau kita bakal bulan madu dimana?”

“Kan aku udah bilang, kamu nggak bakal aku kasih tahu sebelum kita sampai sana,” jawabnya sambil tersenyum jahil.

“Tuh kan,” responku. Makin penasaran saja aku jadinya.

“Tebak dong,” godanya.

“Emm, kemana ya? Yaudah lah, kemana aja, yang penting bareng kamu,” ujarku.

Lalu ia tersenyum lebar, senyum menenangkan hati yang sudah memenangkan hatiku sejak awal, hanya saja saat itu aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. “Klo gitu kita bakal bulan madu sepanjang hidup kita dong?”

“Yep. That means forever," jawabku. Lalu aku menciumnya.

And the rest is history.

***

“One day, someone will walk into your life and make you see why it never worked out with anyone else.” — Anonymous



Yogyakarta, Mei 24 05.10 am







Gambar diambil disini