Sabtu, 02 Mei 2020
Tentang Hidup Sendiri
Oleh karena itu saya benar-benar menghargai kesendirian. Saat teman-teman sekamar saya pergi, saya memilih berdiam di kamar, menikmati hari tanpa celoteh walaupun hanya untuk beberapa jam. No, I don't hate them. Saya bahkan suka sekali mendengarkan celoteh ngalor-ngidul atau perdebatan mereka yang berakhir tanpa kesepakatan. Dari mereka, saya belajar betul bahwa hidup kadang tidak butuh konklusi. Tapi saya juga tidak bisa bohong, bahwa memiliki tempat sendiri tanpa dibatasi lebar lemari sepertinya menyenangkan.
Beberapa bulan lalu saya akhirnya bisa mewujudkan aspirasi tinggal sendiri dengan pindah ke kos-kosan karena ada program pengayaan bahasa yang harus saya ikuti. Satu tempat dengan teman saya, kamar bersebelahan. Saya masih ingat betapa semangatnya saya saat belanja pretelan-pretelan kosan seperti rak, rice cooker, seprai, dll. Saya menata kamar saya, merapikannya hampir setiap jam, berjam-jam scrolling situs belanja online untuk memasukkan barang-barang lainnya ke dalam wishlist. Ternyata begini rasanya mengontrol ruang hidup untuk diri sendiri. Seru.
Karantina yang dimulai sejak bulan lalu menjadi pengalaman baru saya selama tinggal sendiri. Awalnya, saya pikir hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena alih-alih menjadi momok, mendekam di tempat tinggal masing-masing adalah anugerah bagi seorang homebody seperti saya. Saya pikir, semua akan baik-baik saja.
Selanjutnya eedaran larangan mudik terbit. Walaupun saya ditendang keluar rumah untuk merantau sejak lulus SD, saya tidak pernah melewatkan lebaran tanpa keluarga. Rasanya berat, tapi saya lebih khawatir dengan ibu dan adik saya. Kami hanya bisa menelpon, saling menguatkan satu sama lain. "Kamu kuat, kok," kata Ibu saya. Saya pikir, semua masih baik-baik saja.
Sampai beberapa hari kemudian, teman saya mengatakan Ia harus pulang ke daerah asalnya. Sebelumnya memang Ia berencana bersama saya berlebaran di sini, mengingat larangan mudik sudah berlaku masif hampir di semua daerah. Tapi ternyata keluarganya memutuskan untuk menjemputnya dan membawanya pulang. Praktis, tinggal saya satu-satunya penghuni kosan karena penghuni lainnya sudah pulang bahkan sejak pengumuman kuliah online diterbitkan.
Ini baru, sungguh baru. Saya tidak menyangka Tuhan sebegitu senangnya mengabulkan permintaan saya dahulu sampai saya benar-benar ditinggal sendirian.
"Ah, gakpapa lah! Udah gede ini," pikir saya dulu. Menguatkan diri sendiri. Menenangkan diri sendiri.
Hari pertama hidup (benar-benar) sendirian saya rasa masih baik-baik saja. Menjelang malam, saya langsung kunci kamar dan mendekam di dalam. Saya takut setan, tapi lebih takut manusia yang bisa lebih kejam dari setan. Saya sampai beneran mengikuti nasihat Ibu saya untuk menyetel murottal quran setiap malam. Persetan dengan teman-teman yang meledek saya karena melihat friend activity saya di Spotify mendadak religius. Saya butuh tenang.
Hari kedua, seraya makan bayam rebus dikasih bumbu kacang karena saya tidak bisa masak sama sekali, tangis saya pecah tak karuan. Saya takut, sedih luar biasa, merana ingin pulang. Saya juga kesal kenapa saya bisa selemah ini. Saya berkali-kali berkata, "Jangan cengeng, nanti kamu mati juga sendiri!" tapi tangis saya tidak juga berhenti. Saya baru menyadari bahwa hidup sendiri tidak seenak yang saya pikirkan dulu. Saya terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir. Waktu luang yang dulu saya cintai sekarang saya benci habis-habisan. Masa-masa gila ini sudah cukup menyiksa dilewati bersama-sama dan saya malah sok kuat merasa mampu melewatinya sendiri. Tolol betul.
Sekarang saya bisa apa? Cuma mengais sisa-sisa kesadaran, berusaha tetap waras dan tidak gila. Menghubungi teman-teman saya sesering mungkin. Mengirim foto-foto tidak jelas di grup WhatsApp keluarga inti, menantikan balasan dari Ibu saya yang penuh dengan typo dan dobel spasi. Ada yang bilang hal yang paling menyedihkan adalah saat kita di tengah keramaian tetapi masih merasa kesepian. Omong kosong. Kesepian dalam keadaan sendirian jauh lebih menyiksa.
Betapa saya rindu keramaian. Walaupun jatah makan terbagi-bagi dan tidak punya waktu untuk diri sendiri, setidaknya dengan bersama-sama, semua rasa juga terbagi rata.
Jumat, 01 Mei 2020
Biru di Citadel
Lalu ada kuning, cerah cemerlang. berlumur emas yang dicuri dari anak haram yang kelaparan.
Berwarna, penuh dengan noktah perbuatan.
lalu tiba-tiba dia ada di mana-mana,
dan aku tidak ingin ke mana-mana.
Minggu, 22 Desember 2019
To Quote Sarah Kay: I Still Write You, I Don't Know How Not To
You know, Dad? This morning I woke up crying. I don't know why but I think I just miss you. I used to wonder, how could we love and hate one person at the same time. I thought maybe because we as human being are forced to play so many roles, and some roles may not align with the others. That's why we can have mixed feelings toward someone, because of multiple roles they are playing.
Like at that time when I loved you as my father, yet I hated you as a man.
I used to hate you so much, when I witnessed it by my own eyes how you broke our trust, when I had to swallow the bitter pill; that some people aren't just as perfect as you think they are.
Or maybe no, hate is a strong word. Maybe I just didn't like you at that time. You once said to me that this world is a cruel place for women, and now I understand that it also meant to be an apology. I even remember the promise that I made years ago, that if I got a man like you, I would rather be alone forever. :))
But now, I think I can understand you a little.
Because life was indeed so exhausting, wasn't it, Dad? Because we kept doing it wrong. Because we kept saying things we shouldn't say and kept doing things we shouldn't do. I used to think that you played so many roles in life, but now I realized you didn't. You were you, full of mistakes and flaws, just a human being who kept trying to figure out what was really going on. It's kinda sad that I just realized this when you were already gone. Now that I'm living it myself, I finally understand that life is indeed so cruel and adulthood is so tiring. It wears me out to the bone, and I keep crying every night because I am afraid I've been getting it wrong.
But you fought hard, Dad. You fought hard and you really did it in your way. I sometimes imagine how would it be if you were still here somehow. Maybe we could figure out this shitty life together, and keep laughing at it, because we're both completely clueless and confused.
Now whenever I achieved something or maybe messed it up in some ways, I always think about you. I always say this to you as if you'd hear me, "Now that I am here right now, you are not here anymore."
I miss you, Dad. I really miss you it fucks me up. Could you please come to my dream and tell me what to do?
(I'm writing this while listening to your favorite song: My Way by Frank Sinatra. I am crying and singing, feeling your presence yet at the same time fully aware that you aren't here.)
Sabtu, 27 Juli 2019
Tamparan untuk Kita yang Selalu Merasa Paling "Tercerahkan"
Tadi malem pas kebangun aku baca utas menarik judulnya "9 Langkah Common Sense Bangun Percakapan dengan Anak Muda Muslim Konservatif."
Bagi yang mau liat utasnya, langsung klik saja di sini.
Jadi secara garis besar, utas itu ngebahas tentang langkah-langkah membuka ruang dialog dengan teman-teman kita yang konservatif demi menghasilkan impact yang konstruktif bagi kedua belah pihak. Menurutku ulasannya bagus banget. Dan langkah-langkah common sense ini juga sebenernya berlaku sebaliknya, bisa dilakukan dalam membangun percakapan dengan siapapun yang kita rasa berbeda perspektifnya.
Ada beberapa bagian yang aku pikir nampar banget, terutama tentang bagaimana kita membuka ruang dialog, bukan monolog. Terus masalah asumsi, bagaimana kita selalu menempatkan muslim konservatif dalam satu wadah yang sama, padahal aslinya jauh lebih banyak dan rumit, dan tidak semua asumsi dan stereotipe yang kita pikir sesuai dengan keadaan mereka. Masalah rujukan juga; kita sukanya mengambil kesimpulan dan informasi dari sumber-sumber yang udah jelas bias dan tidak cover both sides cuma gara-gara sumber tersebut sudah mendukung draft opini dan perspektif kita sejak awal.
Kerasa banget sih, aku terutama, yang dulu sering banget "ekspansi perspektif" sana-sini. Ngeremehin temen-temen yang hijrah dadakan. Sok paling tercerahkan dan open-minded. Padahal ya ku masih close-minded lah wong ama yang mereka aja nggak mau memahami. Padahal perspektif kan harusnya dibandingkan dan dipahami, bukan di-ekspansi dan dilabeli benar/salah.
Pas rada kesini-kesini, baru agak nyadar bahwa emang proses orang itu beda-beda woy, termasuk proses mengenal diri sendiri dan Tuhannya. Toh ternyata emang banyak yang memang merasa "terselamatkan" dengan proses yang awalnya kuremehin itu. Cerita-cerita mereka pilu sekaligus indah lho. Who am I to judge?
"Tapi sekarang dia jadi suka preaching sana sini, Dew! Omongannya halal-haram terus dan nggak jarang mengkafir-kafirkan orang!"
Lah ya namanya juga proses. Tahap orang itu beda-beda. Idealnya sih improving ourselves dulu baru improving one another, tapi ternyata banyak yang kebalik. Ya gapapa banget sih. Orang belajar agama apapun kalau emang tulus dan niat pasti balik lagi ke ajaran yang baik-baik, toh emang dasar ajarannya baik. Mungkin emang prosesnya lama, mungkin malah udah baik tapi kita yang gamau ngerti karena standar "baik"-nya kita sendiri yang bikin. :))
Singkat cerita, saya dulu pernah ikut rapat organisasi untuk planning suatu event khusus temen-temen muslimah. Saat itu saya nawarin agar konsep acaranya dibikin seperti acara bazaar terkenal yang sering diadakan di Jogja. Tapi langsung dibantah dong, dibilang "Jangan! Ngikut-ngikutin kelompok sebelah aja!" And I was like excuse meeee??? Kalau ternyata cara mereka sukses menggaet masyarakat dan bermanfaat bagi UMKM sekitar ya kenapa kita nggak pelajari dan buat acara serupa? Tinggal dikonsep lah acaranya supaya sesuai dengan visi misi organisasi. Kita sering banget ngeluh sana sini dan merasa khawatir dengan gerakan-gerakan konservatif tapi kita aja masih rebahan dan nggak ngelakuin apa-apa. Jangankan membuka ruang dialog, dikaitkan dengan mereka aja kita ogah. :))
Radikal itu nggak mesti perbuatan lho. Kata itu terlalu lekat asosiasinya dengan kelompok tertentu sampe kita lupa bahwa kita juga bisa jadi radikal. Radikal pemikiran. Kekeuh gamau ngeliat melalui perspektif orang lain. Itu yang bahaya, karena bikin males usaha. Usaha untuk berkonsiliasi dan kompromi karena mikirnya "yaudahlah emang dari sananya beda". Terus jadi ngejauh. Terus gak ada ruang dialog dan jadi eco-chamber. Terus makin terpolarisasi. Kok mau-maunya sih dipecah-pecah? Percaya deh, seperti yang utas di atas katakan, pasti kita semua punya irisan. Punya sesuatu yang common. Itu yang harus dijadikan pijakan.
Apa tida cape labelling sana sini, sibuk menentukan "ini orang dari aliran mana ya?", "are you a part of us or them?" blablabla. Mbok fokus dengan yang sama aja. Ndak bisa po kita sama-sama jadi manusia aja?
Jumat, 01 Maret 2019
Utopia
Menciummu melalui spektrum cahaya, memejamkan mata karena takut buta, menerima apa pun yang ada
Aku memujamu masih sama,
Masih disertai keping-keping mimpi yang kuhapal mati, pola-pola berseberangan yang sulit dan melilit, rela disiksa oleh kau yang rumit
Lucunya, aku lebih familiar dengan suara langkah kakimu di dimensi sana dari pada detak jantungku di rengkuhan realita
Lebih memahami arti kerlingan matamu yang bagai kristal, menggelap atau berbinar, duka atau murka
Tiap hari menahbiskan diri dengan menyentuhmu hanya melalui perantara dan rasa sepi yang makin hari makin terasa
Karena aku memujamu masih sama,
Masih dengan aku yang tak ada, dan kau yang tak nyata.
Minggu, 10 Februari 2019
Nggak Apa-Apa Kok Dicap Durhaka Sama Kampus Sendiri
By the way, masih banyak lho yang nanya, "Poy/Dew, lu ngapa dah masih sering banget posting tentang Agni? UGM kan kampus lu? Kampus yang udah ngasih lu ilmu? Lu nggak mau dicap durhaka?" dan berbagai pertanyaan sejenis.
So here's the story: When he was alive, my dad always had so many critics coming out from his mouth everyday. Adaaaa aja yang dikritik atau cuma diledekin ama beliau tiap hari. Mau itu politik, sosial, ekonomi, ulama, cendekiawan, politisi, dll. Dulu gue kesel banget dah, gue pikir dulu beliau ini orangnya nggak pernah puas apa ya, adaaaa aja yang dikritik, adaaa aja yang dikomentarin. Nggak pernah ada yang beres di mata beliau kayaknya. Tapi makin gue gede, gue makin mengerti, walaupun beliau gak pernah ngomong langsung, itu adalah satu hal yang dari dulu selalu bokap gue ajarkan ke gue semasa beliau hidup:
Jangan pernah mengikuti dan memuja orang, institusi, merek, atau apapun. Ikutilah gagasan dan nilai, karena itu yang kekal, dan tetap hidup di manapun. Gagasan dan nilai tumbuh dan terpatri tanpa diskriminasi, baik di diri politisi, maupun di tukang sapu jalanan. Baik di institusi besar, atau cuma di pemikiran anak umur 5 SD.
Dan bentuk mengekalkan dan menghidupkan gagasan serta nilai itu ya darimana lagi kalau bukan dari kritik? Itu usaha kita untuk menuntut nilai dan gagasan yang tadinya ada tapi berubah, bukan? Kritik (dengan data yang jelas) merupakan sikap menghormati dan mencintai yang paling rasional sih menurut gue, karena dengan kritik, orang/institusi/merek/apapun itu kan punya refleksi apakah yang dia lakukan selama ini sesuai dengan gagasan dan nilai yang selama ini dia gembor-gemborkan atau tidak. Kalau sesuai ya diapresiasi, kalau tidak sesuai ya dikritik biar dia inget lagi.
Nah, sejak beberapa bulan terakhir, menurut gue UGM lagi nggak beres nih, karena sekarang dia bersikap tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini berani digembor-gemborkan di kelas-kelas perkuliahannya. Gue bukan sedang bersikap kurangajar dan ngehina-ngehina doang tanpa bukti. Gue (dan segenap teman-teman gue yang juga berjuang dengan caranya masing-masing) secara terbuka mengkritik UGM dengan harapan institusi ini bersikap manusiawi dan nggak mementingkan nama baiknya aja.
Kenapa sih Agni dan temen-temennya berusaha keras banget untuk kasus ini? Biar nggak ada kasus-kasus lain yang menimpa mahasiswa lainnya. Biar nggak ada lagi Agni-Agni lainnya yang mesti mati-matian berjuang demi keadilan yang harusnya sejak awal udah di-provide sama si UGM ini tapi jebule enggak. Ini bukan tentang Agni VS HS atau Agni VS UGM. This is bigger than that. Ini tentang korban-korban penindasan VS sistem besar yang tidak adil. Ini tentang perjuangan mendapatkan keadilan. Ini tentang harapan yang --walaupun kecil-- akan tetap terus berkobar demi kondisi yang lebih baik.
So, nggak apa-apa dicap durhaka juga. Gue masih percaya sama gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan, makanya seperti Agni, gue pun ikut berjuang. Walaupun cuma ini yang bisa gue lakukan.
Jumat, 09 November 2018
Hasan Minhaj, Patriot Act, and Why It's Important To Start Speaking Up About Our Opinion
He's (Bill Clinton, suaminya Hillary Clinton) doing this thing, and then he goes to his go-to moves. A lot of politicians do this, where he's just like, "Hey I'm gonna talk to all the different minority voters, this is the one time of year I talk to 'em." He's just like, "African-american people, you matter!" and everyone there, "oh yeah we do, this is our choice." And he's like, "Mexicans, I'm good right?" and everyone's like, "Alright yeah sure!" and then I remember he's like, "Muslims! yeah you guys are here, Muslim-American! Hey, stay here. Stay here, help us find the terrorists, help us win," and everyone around me, they started full-on applause break... And I remember standing there and being like, Bill, I hate to tell you this: I don't know any terrorist. I'm not terrorist the bounty hunter, I'm not just like, come out with blade, "I'm here to catch Al-Qaeda!" You know, he thought our only value was to help find terrorists, right? And so it was one of those things were thought about it for a long time, and I was like, oh I could write an angry internet post about this or –you know I learned this from my dad, I'm more in the in you know in the business of playing offense– look, I'm not gonna get my humanity from Bill fucking Clinton. He's just not gonna get it, I'm an alien, as far as he doesn't get, he will never understand where I'm coming from, my POV, the things my community have had to go through. We have to claim that shit on our terms so I just started working on this show, Patriot Act. And I was like, I'm gonna do it, I'm gonna show my perspective of how what it's like to be an American.
Kamis, 08 November 2018
Ternyata Papa Masih di Sini
Maaf, ingin nyampah dengan bercerita.
Setiap saya pulang, ada satu ritual yang tidak pernah saya lewatkan: menggratak isi rumah. Saya bongkar laci-laci, melihat kembali foto-foto lama. Membongkar kabinet dan lemari. Membuka lembar demi lembar buku diary saat SD (a.k.a. buku tulis Sinar Dunia). Membaca curhatan seorang Dewi Rosfalianti yang menangis setelah nonton drama Taiwan Magician of Love karena tamat ceritanya ("AkHirnya taMat cERitanYa, aq seDiiiiih, keNapa sih nGGak saMa RiChiE aja aKHhirnya??" Oh well, ternyata saya memang pemuja second-male-lead sejak masih kinyis), atau seorang Dewi Rosfalianti yang marah besar karena komik-komiknya disita sebelum ujian ("keNaPA sih aQ haRUs ngADePin sEMua iNi? PapA pasStii nGgak saYAnk saMa aq, kLo saYANk kan mEstiNyA PapA nGErti aQ buTUh KaKAshi").
Lalu kini selama 3 tahun terakhir, ada ritual baru yang selalu saya lakukan: membereskan buku-buku dan dokumen Papa saya. Sejak beliau meninggal 3 tahun lalu, hanya saya orang rumah yang bolak balik membuka lemari buku, mencari-cari bacaan, atau sekedar merapikan barisan buku yang terlalu menjorok ke dalam. Anehnya, dalam proses ritual itu, saya selalu menemukan hal baru tentang beliau, menemukan pemahaman lebih jauh tentang beliau. Di setiap judul-judul buku yang ada, atau lembaran kliping berita yang Ia tulis di koran, tertuang gagasan dan segenap pemikiran, lelehan cairan otak dan kearifan, sisi lain Papa saya yang sayangnya tidak saya "eksploitasi" habis-habisan semasa beliau hidup.
Saya masih ingat jelas, beberapa bulan sebelum beliau meninggal, saat beliau berjuang dalam sakitnya, frekuensi Ia berbicara tentang kematian semakin sering. Di tengah-tengah perjalanan bolak-balik Jogja-Jakarta, saya sejujurnya sudah menyiapkan diri. Menyiapkan diri jika ditinggalkan, menyiapkan diri menopang Ibu dan adik saya, merencanakan, mengantisipasi. But it's true what people said: You can always be prepared for what will come, but you'll never be ready for how it feels. Sakitnya masih sama, bahkan hingga sekarang, 3 tahun kemudian.
Penyesalan selalu datang di akhir. Kenapa saya tidak pernah berbicara banyak dengan Papa sebelumnya? Kenapa saya tidak pernah diskusi panjang lebar dengan Papa? Kenapa saya cenderung menutup diri? Saya sempat berpikir dulu Ia jahat karena meninggalkan saya begitu saja tanpa pernah menyampaikan pesan, atau sekedar ucapan selamat tinggal agar setidaknya saya bisa memahami dengan baik. Tapi ternyata saya yang jahat, karena pelan-pelan menjauh, menutup diri dan menganggap beliau hanya sebagai seorang ayah, bukan teman bicara, bukan sahabat yang selalu mengerti diri saya. Penyesalan itu selalu muncul. Saat saya sedang berjuang di satu titik, atau mencoba hal yang baru, pikiran itu selalu melintas.
"Pa, Efha udah sampai di sini lho, tapi Papa nggak ada."
Tapi sekarang, saat saya membongkar buku-buku milik beliau, melihat-lihat catatannya, saya merasa menemukan Papa saya kembali. Saya lalu sadar, bahwa beliau tidak pernah meninggalkan saya sejak awal. Beliau selalu ada bersama buku-bukunya, bersama tulisan-tulisannya, bersama cerita-cerita orang tentangnya. Saya selalu bersyukur, bahwa setiap saya pulang, membawa berbagai pertanyaan dan kepusingan hidup, Ia akan tetap ada untuk menjawab itu semua. Ia akan tetap ada di mana saya bisa terus menemuinya lagi dan lagi.
Maka bagi teman-teman yang masih ditemani oleh orang-orang tercintanya, ajaklah mereka berbicara. Tanyakan kabarnya dan tanyakan hari-harinya. Bercerita lah walaupun kita tahu kita tidak dapat solusi. Syukuri keberadaannya, nikmati kebaikannya. Never take people in your life for granted, because sometimes the trouble is we think we have time.
Senin, 05 November 2018
[Semacam Review] Blinded by The Peaky Blinders: Why I Love This Series That Much
Minggu, 04 November 2018
Jawaban Lama (dan Ternyata Masih Sama) Tentang Tuhan
Jika saat ini kamu memiliki kepercayaan terhadap Tuhan, pernahkah di masa lalu kamu meragukan eksistensi-Nya? Dan bagaimana insight kamu sekarang mengenai Tuhan? Please kindly share your perspective!
And this was my answer. The answer that is still relevant until now:
Pernah. I doubt His existence when I feel like I adore him the way society wish I would. I've been living in islamic boarding school since junior high school, with those strict conditions and regulations that insisted me to be those "akhwat dengan jaminan masuk surga". Then I think, "apakah jadi hamba Tuhan harus seperti itu?" Akhirnya gue ngerasa cuma kaya robot. Ngelakuin sholat dan ibadah lainnya karena alasan "gue muslim, apa kata dunia klo gue nggak sholat?". Konsep lillahita'ala berasa utopis banget buat gue.
Lalu ada suatu peristiwa, call it my breaking point, yang mulai mengubah pemahaman gue tentang Tuhan. Saat itu gue hancur, sehancur-sehancurnya, lalu gue sholat. Then I felt 'that'. That euphoria of the serenity. Ketenangan yang orang-orang beruntung itu bicarakan. Those magical moment when you realize that there is something beyond. Lalu gue sampe titik keyakinan bahwa Dia ada. Tapi baru sampe situ. Masih ancur-ancuran juga ibadah gue sebenernya.
You know Hozier's "Take Me To Church" song? That song is one of many songs that made me think further about God (Okay it's ironic, I know, untuk dekat sama Tuhan sendiri aja harus pake lagu yang isunya memakai agama lain. But I believe this world is home for countless messages from God. Kita bisa kenal Tuhan dari mana pun, lewat apapun). Lirik lagu itu ada yang kaya gini, "I'll worship like a dog at the shrine of your lies. I'll tell you my sins so you can sharpen your knives." That lyric kinda hits me. Apakah gue udah menyembah Tuhan sepasrah itu? Apakah gue udah mencintai Tuhan setotal itu? Malu semalu-malunya. Walaupun konsep ibadah gue rada jauh dari konsep pengorbanan besar-besaran kaya gitu, tapi tetep aja gue ngerasa belum total. Jangankan total, seperseratusnya aja gue belom.
Lalu gue sadar, gue harus terus terus dan terus belajar untuk sampai di titik itu. Karena sebejat-bejatnya temen lo ini, konsep itu rasanya indah banget buat gue. Ibadah bukan karena diawasi atau dilihat orang, tapi karena gue emang pengen, dan butuh. Ikhlas dan Ihsan.
Takwa itu susahnya minta ampun, tapi gue mau, makanya ibadah itu proses.
My friend said to me once, "Kita tidak akan bisa mengenal Tuhan tanpa mengenal diri kita sendiri." And I feel content by the fact that now, when I'm looking back at my past, He was there. Now, He is there. Later, He will always be there.






