Jumat, 08 Mei 2020

Tempat Kabur

Awal perkenalan saya sama dunia fiksi dan perhaluan itu kayaknya gara-gara waktu kecil dulu suka sama Detektif Conan, lalu baca buku-buku bapak saya yang sama sekali nggak saya paham artinya. Tahu anaknya kemungkinan punya minat baca, bapak dan ibu saya kadang membelikkan satu komik atau novel sepulang kantor. Saya ingat waktu dulu bapak saya pernah membelikkan komik yang judulnya "Putri Pemalas", yang saya paham betul maksudnya sebagai sindiran halus agar saya tidak jadi pemalas. Namun alih-alih menjadi rajin, saya jadi makin malas karena komik tersebut bercerita tentang putri yang hobinya tidur dan belanja online tetapi mimpinya sering menjadi kenyataan sehingga Ia dihormati dan dicintai seluruh warganya. Makin panjang lah waktu tidur saya.

Pernah juga saya ingat banget waktu kelas 4 SD ibu saya membelikan saya komik berjudul Meteor Garden aka Hanayori Dango, dan saya yakin dia saya asal beli aja karena belinya pun langsung yang Volume 6 dan jebule ada adegan kissing-nya. Saya baca itu waktu di sekolah pula, untuk nggak kesita guru.

Lanjuuuuuuttt terus itu petualangan fiksi dan perhaluan saya sampai saya nggak bisa ngitung udah berapa banyak karakter fiksi yang saya sebutkan dalam doa. Iya seriusan, dulu masih saya doain setiap abis solat. Doanya ganti-ganti entah minta dapat yang macam mereka atau agar dimunculkan parallel universe di mana saya bisa jadi tokoh utama. Munculkan dia yang bisa membuat aku berpaling dari semua lelaki tak nyata ini, ya Allah. Jadikan hidupku bersama dia lebih indah dari fiksi mana pun, ya Allah. Shit I was a hopeless romantic and I lowkey wanna slap the fuck out of my old self for being so fucking naive.

Sekarang? Jelas masih halu. Tapi halunya agak tahu diri sih kayaknya. Dulu saya menempatkan fiksi itu semacam masa depan, tapi sekarang? Ya sudah, tempat kabur. Semesta yang lain yang bisa saya lompati portalnya sesuka hati kapanpun saya mau. Saya pernah baca artikel yang bilang gini: "It's not because Netflix is interesting. It's because our lives aren't," dan saya berasa digampar. Pahit banget rasanya tapi memang betul. Fictional world is a form of escapism for me, like a warm blanket that gives me a little comfort before waking up in the morning to face this mundane, uninteresting life. Sudah lewat masa-masanya untuk saya bermimpi punya apartemen mewah dengan dinding kaca menghadap pemandangan gemerlap kota metropolitan, atau punya pasangan laki-laki paket lengkap; tampan, kaya, baik hati dan tidak pro-patriarki. Mimpi memang enak, tapi pas diwujudkan kadang cuma bikin pusing. Ibarat punya gebetan yang tidak terlalu kenal banget tapi begitu kenal hancur sudah segala imaji dan ekspektasi. Karena emang pada dasarnya, beberapa mimpi memang udah sepatutnya dibiarin jadi mimpi aja tanpa perlu ada hebeh-hebeh aksi.

Kamis, 07 Mei 2020

Arson


Aku masih menelisik tanah
Menyela-nyela rambat dan akar
Kulit jemari mengelupas

Karena bau parfummu masih menyelimuti
Hingga aku tak henti mencarimu utuh
Di antara tubuh penuh lepuh

Rabu, 06 Mei 2020

Rooftop (Part 1)

We both are afraid of the ground
but we can not escape
because flying means falling,
and we can not afford being seen
So here we are,
lying on this cold, hard cement
Your hands hold mine,
my lips seal yours,
what an endless beating.
Naked and scared,
we are fucking.

“Just stop... calling. Please,” sergah perempuan itu dengan suara bergetar. Ia mematikan teleponnya dan melemparnya ke tempat tidur.

Perempuan itu menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamar. Matanya panas.

Setengah berlari, Ia membuka pintu menuju balkon, berjongkok, lalu menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak, memaki, sambil memeluk dirinya sendiri seakan tubuhnya akan hancur jika tidak dipegangi. Perempuan itu tidak pernah menangis sehebat ini.

Setelah beberapa saat, tangisnya mereda. Kepalanya rasanya sakit sekali. Ia bangkit perlahan, tangannya memegang erat pagar balkon, menopang tubuhnya yang kehilangan tenaga. Ia lalu mengusap wajahnya yang basah. Pandangannya masih buram karena air mata.

“Kamu kenapa?”

Terkejut, perempuan itu menoleh cepat ke sumber suara.

Di atap rumah penuh jemuran berjarak 4 meter dari balkonnya, duduk seorang laki-laki. Tangannya memegang entah pensil atau pulpen. Kertas-kertas berserakan di sampingnya.

Laki-laki itu masih menatapnya penasaran, menunggu jawaban.


(to be continued)

Selasa, 05 Mei 2020

Di Bawah, 6 Kaki

Aku menggali tanpa henti,
nanar kutatap batu menggores dan menyayat buku-buku jari
Lalu aku menggaruk,
panas dan gatal jadi satu, merah dan darah meruah
Merayap menahan sesak, mengambang di antara riak, tertawa hingga muak
Jasadku sudah rusak,
         tapi mengapa rasanya masih pengap?

Senin, 04 Mei 2020

Kamu Kecil, tapi di Depanmu Kami Macam Kurcaci Kerdil

Rapuh, rapuh lalu meluruh. Aku ini lelah dengan peluh. Tapi kamu masih saja menyuruh-nyuruh
Sudah yuk? kataku pelan. Kita sisihkan tulangnya pelan-pelan. Aku tidak ingin dia kelaparan lalu menghilang
Kamu, bintik bintik kecil merambat menaiki sela-sela kuku
Tak terlihat lalu terjun bebas
Terjembab itu tak perlu jatuh, katamu. Bisa saja karena memang maunya begitu.
Aku mau mati saja, tapi susah sekali dan tidak bisa
Berjuang pun ada batasnya. Bukan hancur namanya kalau dari awal tidak terbentuk dan tidak jelas apa artinya
Sudah yuk, kuajak sekali lagi. Tapi kamu masih asyik bermain di atas arung jeram. Sibuk menombak ikan-ikan, berisik sekali.
Mengalir, mengalir bersama sungai merah berkelok-kelok
Iya, aku tahu kamu lebih sakti dari bedil.
Aku mulai batuk-batuk.
Sudah yuk?
Kamu masih khusyuk.
Sudah yuk?
Kamu menunduk. Lalu aku ambruk.
....
...
..
Sudah yuk?

Minggu, 03 Mei 2020

When the Camellia Blooms: Angin Segar untuk Kita yang Sudah Lelah dengan Harta Tahta Angkara

For me, quarantine means Korean drama series. Seriusan, sejak karantina di mulai saya jadi hampir tiap hari nonton drama Korea. Dari dulu juga nonton, tapi bukan menjadi jadwal keseharian. Biasanya saya menonton dengan sistem binge-watching: menunggu sampai tamat, lalu menonton keseluruhan episode dalam beberapa hari. Tapi kali ini saya rajin membuka situs streaming setiap hari, menonton berbagai judul secara bergantian. Seperti nonton pagi-pagi di hari Minggu, ganti channel kartun lagi-kartun lagi. Menyenangkan.

Nah, ada satu judul yang menyita perhatian saya sejak lama tapi baru saya bisa tonton sekarang. When The Camellia Blooms. Yang membuat saya tertarik awalnya adalah pemeran utama wanitanya, yaitu Go Hyo Jin. Saya sangat suka aktingnya, dan hampir semua drama korea yang Ia mainkan terjamin apik. When The Camellia Blooms sendiri bercerita tentang Dongbaek, seorang single mother yang membesarkan anak laki-lakinya di sebuah kota kecil bernama Ongsan. Dengan status ibu tunggal dan juga pemilik bar, Dongbaek setiap hari menjadi sasaran gunjingan seantero kota.

Selesai nonton pilot episodenya, saya langsung mbatin, pantesan ratingnya tinggi, jebule apik tenan.

Walaupun bermimpi itu gratis, tapi lama-lama rasanya jengah juga. Terutama jika mimpi-mimpi itu didukung oleh gemerlap hedonisme di drama Korea yang sering kita tonton. Seperti sinetron Indonesia, drama Korea juga sebenarnya sangat tipikal. Hampir separuhnya membawa isu yang itu-itu saja: perebutan warisan, kesenjangan sosial yang tanpa ampun sampai kisah cinta para chaebol (istilah untuk pewaris perusahaan besar di Korea) dan upik abu. Karakter di drama-drama Korea macam ini rata-rata hidupnya nyaman, tidak pernah mikir paycheck to paycheck, atau susahnya cari pekerjaan. Tapi sekalinya miskin? Narasinya dibikin seakan miskin betul, padahal ya nggak miskin-miskin amat. Hitung saja berapa banyak adegan ibu-ibu ber-handbag Channel dengan anting macam rentengan ciki menawarkan cek kosong kepada tokoh utama wanita agar dia segera menjauhi anaknya. Iya dong, kebanyakan tokoh wanitanya lah yang lebih papa. Sampai ada judul eksplisit "Rich Man Poor Woman" yang walaupun si ganteng Suho EXO yang jadi pemeran utama, tetep nggak akan saya tonton karena judulnya yang super cringey.

Tapi di When The Camellia Blooms, saya merasa menghirup angin segar. Tokoh-tokoh di drama Korea ini tidak bergelimang harta, tapi tetap bisa makan kenyang sampai lega. Tidak sedih karena dibuat tidak merana, ibarat rezeki yang pas-pasan alias pas butuh ada. Dan yang paling menyenangkan? Mangan ra mangan ngumpul. Sama-sama menderita, tapi setidaknya bersama-sama. Berlatar kota kecil yang jauh dari lifestyle kaum urban yang toxic, drama Korea ini sangat dekat dan apa adanya.

Yang kedua, saya sering sekali melihat tokoh wanita drama Korea yang dependen dengan tokoh pria. Sekalinya independen atau berdaya, pasti dia harus cantik, sukses, dan kaya. Lengkap, macam sudah paketan dari sananya. Walaupun ada beberapa contoh langka tapi tetap saja kebanyakan default-nya seperti itu. Nah, When The Camellia Blooms ini termasuk ke dalam contoh langka dan menarik. Walaupun Dongbaek cantik dan pintar (lebih ke streetmart daripada booksmart, and I love that so much), Dongbaek tidak kaya. Ia hanya pemilik bar di kota kecil yang harus membesarkan anaknya. Tidak hanya itu, Dongbaek harus sabar setiap hari menghadapi gunjingan tetangga, apalagi sejak Yong Shik sang putra desa yang dibesarkan oleh seluruh warga Ongsan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Dongbaek. Menjadi orangtua tunggal sudah berat, ditambah menjadi objek kesinisan masyarakat. Tapi semakin jauh, karakter Dongbaek beneran ditempa menjadi sangat kuat. Saya tersenyum lebar sekali saat menonton karakter Dongbaek yang berkembang perlahan tapi pasti. Lebih kerennya lagi, tidak seperti kebanyakan drama korea yang cuma fokus pada perkembangan karakter beberapa tokoh utama, When The Camellia Blooms ibarat menempatkan Dongbaek sebagai sentral yang menyebarkan sinyal ke seluruh penjuru Ongsan. She grows, and the whole town grow with her too.

Singkat kata, drama korea ini memotret lingkup masyarakat di kota kecil yang walaupun tidak sempurna, namun tetap familiar dan hangat. Tidak perlu ada gedung pencakar langit atau ketukan high heels di lantai marmer. Di Ongsan, kue beras dan soju saja tampaknya sudah cukup membuat kita bahagia.

Sabtu, 02 Mei 2020

Tentang Hidup Sendiri

Saya hidup di asrama selama hampir 12 tahun. Hidup dikelilingi orang, tidur tak pernah sendiri, minim privasi dan yang paling sering; saya tidak bisa "merasa" sendiri. Ekspresi saya mau tak mau selalu terpampang untuk diamati. Terlalu terbuka, selalu berisik. Apa itu personal space? Saya bahkan tidak punya tempat untuk sekedar menangis tanpa terganggu karena kamar mandi asrama tidak ada yang kedap suara.

Oleh karena itu saya benar-benar menghargai kesendirian. Saat teman-teman sekamar saya pergi, saya memilih berdiam di kamar, menikmati hari tanpa celoteh walaupun hanya untuk beberapa jam. No, I don't hate them. Saya bahkan suka sekali mendengarkan celoteh ngalor-ngidul atau perdebatan mereka yang berakhir tanpa kesepakatan. Dari mereka, saya belajar betul bahwa hidup kadang tidak butuh konklusi. Tapi saya juga tidak bisa bohong, bahwa memiliki tempat sendiri tanpa dibatasi lebar lemari sepertinya menyenangkan.

Beberapa bulan lalu saya akhirnya bisa mewujudkan aspirasi tinggal sendiri dengan pindah ke kos-kosan karena ada program pengayaan bahasa yang harus saya ikuti. Satu tempat dengan teman saya, kamar bersebelahan. Saya masih ingat betapa semangatnya saya saat belanja pretelan-pretelan kosan seperti rak, rice cooker, seprai, dll. Saya menata kamar saya, merapikannya hampir setiap jam, berjam-jam scrolling situs belanja online untuk memasukkan barang-barang lainnya ke dalam wishlist. Ternyata begini rasanya mengontrol ruang hidup untuk diri sendiri. Seru.

Karantina yang dimulai sejak bulan lalu menjadi pengalaman baru saya selama tinggal sendiri. Awalnya, saya pikir hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena alih-alih menjadi momok, mendekam di tempat tinggal masing-masing adalah anugerah bagi seorang homebody seperti saya. Saya pikir, semua akan baik-baik saja.

Selanjutnya eedaran larangan mudik terbit. Walaupun saya ditendang keluar rumah untuk merantau sejak lulus SD, saya tidak pernah melewatkan lebaran tanpa keluarga. Rasanya berat, tapi saya lebih khawatir dengan ibu dan adik saya. Kami hanya bisa menelpon, saling menguatkan satu sama lain. "Kamu kuat, kok," kata Ibu saya. Saya pikir, semua masih baik-baik saja.

Sampai beberapa hari kemudian, teman saya mengatakan Ia harus pulang ke daerah asalnya. Sebelumnya memang Ia berencana bersama saya berlebaran di sini, mengingat larangan mudik sudah berlaku masif hampir di semua daerah. Tapi ternyata keluarganya memutuskan untuk menjemputnya dan membawanya pulang. Praktis, tinggal saya satu-satunya penghuni kosan karena penghuni lainnya sudah pulang bahkan sejak pengumuman kuliah online diterbitkan.

Ini baru, sungguh baru. Saya tidak menyangka Tuhan sebegitu senangnya mengabulkan permintaan saya dahulu sampai saya benar-benar ditinggal sendirian.

"Ah, gakpapa lah! Udah gede ini," pikir saya dulu. Menguatkan diri sendiri. Menenangkan diri sendiri.

Hari pertama hidup (benar-benar) sendirian saya rasa masih baik-baik saja. Menjelang malam, saya langsung kunci kamar dan mendekam di dalam. Saya takut setan, tapi lebih takut manusia yang bisa lebih kejam dari setan. Saya sampai beneran mengikuti nasihat Ibu saya untuk menyetel murottal quran setiap malam. Persetan dengan teman-teman yang meledek saya karena melihat friend activity saya di Spotify mendadak religius. Saya butuh tenang.

Hari kedua, seraya makan bayam rebus dikasih bumbu kacang karena saya tidak bisa masak sama sekali, tangis saya pecah tak karuan. Saya takut, sedih luar biasa, merana ingin pulang. Saya juga kesal kenapa saya bisa selemah ini. Saya berkali-kali berkata, "Jangan cengeng, nanti kamu mati juga sendiri!" tapi tangis saya tidak juga berhenti. Saya baru menyadari bahwa hidup sendiri tidak seenak yang saya pikirkan dulu. Saya terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir. Waktu luang yang dulu saya cintai sekarang saya benci habis-habisan. Masa-masa gila ini sudah cukup menyiksa dilewati bersama-sama dan saya malah sok kuat merasa mampu melewatinya sendiri. Tolol betul.

Sekarang saya bisa apa? Cuma mengais sisa-sisa kesadaran, berusaha tetap waras dan tidak gila. Menghubungi teman-teman saya sesering mungkin. Mengirim foto-foto tidak jelas di grup WhatsApp keluarga inti, menantikan balasan dari Ibu saya yang penuh dengan typo dan dobel spasi. Ada yang bilang hal yang paling menyedihkan adalah saat kita di tengah keramaian tetapi masih merasa kesepian. Omong kosong. Kesepian dalam keadaan sendirian jauh lebih menyiksa.

Betapa saya rindu keramaian. Walaupun jatah makan terbagi-bagi dan tidak punya waktu untuk diri sendiri, setidaknya dengan bersama-sama, semua rasa juga terbagi rata.

Jumat, 01 Mei 2020

Biru di Citadel

Aku pernah bertanya kepada bahu yang lelah
lunglai terhisap waktu dan amarah
"Mengapa tidak pergi saja?"
Dia menyandarkan dirinya sejenak
matanya mendelik, pekat dan mengkilat
"Mengapa kau berbisik?" tanyanya pelan.
Berdebar, kusentuh bara api di rambutnya.
"Ku tak ingin kau terusik."
Makin lirih, makin perih.
Sudut bibirnya terangkat
kelabu, pucat, dan kaku
"Kau sehitam lumpur, dia sehijau racun, dan aku biru, sebiru langit penuh serapah dan kutukan.
Lalu ada kuning, cerah cemerlang. berlumur emas yang dicuri dari anak haram yang kelaparan.
Berwarna, penuh dengan noktah perbuatan.
... Tak ada yang transparan, Lazlo."
Hanya dengan namaku,
lalu tiba-tiba dia ada di mana-mana,
dan aku tidak ingin ke mana-mana.
"Kita semua sama, hanya berbeda dosa."


(Inspired by Laini Taylor's Strange The Dreamer)

Minggu, 22 Desember 2019

To Quote Sarah Kay: I Still Write You, I Don't Know How Not To

Hi, Dad. How are you? I hope things are good there.

You know, Dad? This morning I woke up crying. I don't know why but I think I just miss you. I used to wonder, how could we love and hate one person at the same time. I thought maybe because we as human being are forced to play so many roles, and some roles may not align with the others. That's why we can have mixed feelings toward someone, because of multiple roles they are playing.

Like at that time when I loved you as my father, yet I hated you as a man.

I used to hate you so much, when I witnessed it by my own eyes how you broke our trust, when I had to swallow the bitter pill; that some people aren't just as perfect as you think they are.

Or maybe no, hate is a strong word. Maybe I just didn't like you at that time. You once said to me that this world is a cruel place for women, and now I understand that it also meant to be an apology. I even remember the promise that I made years ago, that if I got a man like you, I would rather be alone forever. :))

But now, I think I can understand you a little.

Because life was indeed so exhausting, wasn't it, Dad? Because we kept doing it wrong. Because we kept saying things we shouldn't say and kept doing things we shouldn't do. I used to think that you played so many roles in life, but now I realized you didn't. You were you, full of mistakes and flaws, just a human being who kept trying to figure out what was really going on. It's kinda sad that I just realized this when you were already gone. Now that I'm living it myself, I finally understand that life is indeed so cruel and adulthood is so tiring. It wears me out to the bone, and I keep crying every night because I am afraid I've been getting it wrong.

But you fought hard, Dad. You fought hard and you really did it in your way. I sometimes imagine how would it be if you were still here somehow. Maybe we could figure out this shitty life together, and keep laughing at it, because we're both completely clueless and confused.

Now whenever I achieved something or maybe messed it up in some ways, I always think about you. I always say this to you as if you'd hear me, "Now that I am here right now, you are not here anymore."

I miss you, Dad. I really miss you it fucks me up. Could you please come to my dream and tell me what to do?


(I'm writing this while listening to your favorite song: My Way by Frank Sinatra. I am crying and singing, feeling your presence yet at the same time fully aware that you aren't here.)

Sabtu, 27 Juli 2019

Tamparan untuk Kita yang Selalu Merasa Paling "Tercerahkan"

Tadi malem pas kebangun aku baca utas menarik judulnya "9 Langkah Common Sense Bangun Percakapan dengan Anak Muda Muslim Konservatif."

Bagi yang mau liat utasnya, langsung klik saja di sini.

Jadi secara garis besar, utas itu ngebahas tentang langkah-langkah membuka ruang dialog dengan teman-teman kita yang konservatif demi menghasilkan impact yang konstruktif bagi kedua belah pihak. Menurutku ulasannya bagus banget. Dan langkah-langkah common sense ini juga sebenernya berlaku sebaliknya, bisa dilakukan dalam membangun percakapan dengan siapapun yang kita rasa berbeda perspektifnya.

Ada beberapa bagian yang aku pikir nampar banget, terutama tentang bagaimana kita membuka ruang dialog, bukan monolog. Terus masalah asumsi, bagaimana kita selalu menempatkan muslim konservatif dalam satu wadah yang sama, padahal aslinya jauh lebih banyak dan rumit, dan tidak semua asumsi dan stereotipe yang kita pikir sesuai dengan keadaan mereka. Masalah rujukan juga; kita sukanya mengambil kesimpulan dan informasi dari sumber-sumber yang udah jelas bias dan tidak cover both sides cuma gara-gara sumber tersebut sudah mendukung draft opini dan perspektif kita sejak awal.

Kerasa banget sih, aku terutama, yang dulu sering banget "ekspansi perspektif" sana-sini. Ngeremehin temen-temen yang hijrah dadakan. Sok paling tercerahkan dan open-minded. Padahal ya ku masih close-minded lah wong ama yang mereka aja nggak mau memahami. Padahal perspektif kan harusnya dibandingkan dan dipahami, bukan di-ekspansi dan dilabeli benar/salah.

Pas rada kesini-kesini, baru agak nyadar bahwa emang proses orang itu beda-beda woy, termasuk proses mengenal diri sendiri dan Tuhannya. Toh ternyata emang banyak yang memang merasa "terselamatkan" dengan proses yang awalnya kuremehin itu. Cerita-cerita mereka pilu sekaligus indah lho. Who am I to judge?

"Tapi sekarang dia jadi suka preaching sana sini, Dew! Omongannya halal-haram terus dan nggak jarang mengkafir-kafirkan orang!"
Lah ya namanya juga proses. Tahap orang itu beda-beda. Idealnya sih improving ourselves dulu baru improving one another, tapi ternyata banyak yang kebalik. Ya gapapa banget sih. Orang belajar agama apapun kalau emang tulus dan niat pasti balik lagi ke ajaran yang baik-baik, toh emang dasar ajarannya baik. Mungkin emang prosesnya lama, mungkin malah udah baik tapi kita yang gamau ngerti karena standar "baik"-nya kita sendiri yang bikin. :))

Singkat cerita, saya dulu pernah ikut rapat organisasi untuk planning suatu event khusus temen-temen muslimah. Saat itu saya nawarin agar konsep acaranya dibikin seperti acara bazaar terkenal yang sering diadakan di Jogja. Tapi langsung dibantah dong, dibilang "Jangan! Ngikut-ngikutin kelompok sebelah aja!" And I was like excuse meeee??? Kalau ternyata cara mereka sukses menggaet masyarakat dan bermanfaat bagi UMKM sekitar ya kenapa kita nggak pelajari dan buat acara serupa? Tinggal dikonsep lah acaranya supaya sesuai dengan visi misi organisasi. Kita sering banget ngeluh sana sini dan merasa khawatir dengan gerakan-gerakan konservatif tapi kita aja masih rebahan dan nggak ngelakuin apa-apa. Jangankan membuka ruang dialog, dikaitkan dengan mereka aja kita ogah. :))

Radikal itu nggak mesti perbuatan lho. Kata itu terlalu lekat asosiasinya dengan kelompok tertentu sampe kita lupa bahwa kita juga bisa jadi radikal. Radikal pemikiran. Kekeuh gamau ngeliat melalui perspektif orang lain. Itu yang bahaya, karena bikin males usaha. Usaha untuk berkonsiliasi dan kompromi karena mikirnya "yaudahlah emang dari sananya beda". Terus jadi ngejauh. Terus gak ada ruang dialog dan jadi eco-chamber. Terus makin terpolarisasi. Kok mau-maunya sih dipecah-pecah? Percaya deh, seperti yang utas di atas katakan, pasti kita semua punya irisan. Punya sesuatu yang common. Itu yang harus dijadikan pijakan.

Apa tida cape labelling sana sini, sibuk menentukan "ini orang dari aliran mana ya?", "are you a part of us or them?" blablabla. Mbok fokus dengan yang sama aja. Ndak bisa po kita sama-sama jadi manusia aja?